Skip to main content
Ilustrasi Berbuka Puasa Bersama dan Menyantuni Anak Yatim

Amalan Paling Utama dalam Islam: Sabda Rasulullah tentang Kebaikan dan Cabang Iman

Agama Islam hadir bukan sekadar mengatur tata cara ibadah ritual semata. Lebih dari itu, Islam menanamkan nilai-nilai akhlak sosial yang menjadi perekat umat, menebar rasa aman, dan menghadirkan kepedulian di tengah-tengah manusia. Rasulullah Muhammad SAW, sang teladan sempurna, telah meninggalkan warisan berharga berupa petunjuk tentang amalan-amalan terbaik yang mencerminkan kesempurnaan keislaman seseorang.

 

DAFTAR ISI

Kebaikan Sejati: Memberi Makan dan Menyebarkan Salam

saling bersalaman

Salah satu pertanyaan mendasar yang pernah diajukan kepada Nabi Muhammad SAW adalah tentang kebaikan dalam Islam. Jawabannya sangat sederhana namun sarat makna mendalam.

Abdullah bin Amr Radhiyallahu anhu menuturkan, "Seorang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW: Apakah yang baik dalam Islam? Nabi Muhammad SAW menjawab: Memberi makan dan memberi salam kepada orang yang anda kenal atau tidak anda kenal." (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Sabda Rasulullah ini mengungkap dua dimensi kebaikan yang sangat aplikatif dalam kehidupan. Pertama, memberi makan. Ini bukan hanya tentang membagikan rezeki kepada yang membutuhkan, tetapi juga tentang kepedulian sosial yang nyata. Ketika seorang Muslim meluangkan sebagian hartanya untuk mengenyangkan perut saudaranya yang lapar, ia sesungguhnya sedang menghidupkan amanah dalam Al Quran sebagai cerminan hati seorang mukmin yang penuh kasih sayang.

Kedua, menyebarkan salam—baik kepada yang dikenal maupun yang asing. Ucapan "Assalamu'alaikum" bukan sekadar sapaan biasa, melainkan doa keselamatan yang kita panjatkan untuk sesama. Ini adalah manifestasi persaudaraan universal dalam Islam, di mana batas-batas kekeluargaan, suku, bahkan bangsa tidak menghalangi kita untuk mengucapkan doa baik kepada siapa pun yang kita temui.

Muslim Sejati: Yang Menghadirkan Keamanan Bagi Sesama

ilustrasi menahan tangan dan lisan

Pertanyaan serupa kembali diajukan oleh para sahabat tentang amalan paling utama. Abu Musa Radhiyallahu Anhu menceritakan, "Sahabat bertanya: Ya Rasulullah apakah amalan yang utama dalam Islam? Nabi Muhammad SAW menjawab: Yaitu orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya." (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Hadits ini memberikan tolok ukur yang tegas: Muslim terbaik adalah mereka yang tidak menyakiti orang lain, baik melalui ucapan maupun perbuatan. Lisan yang terjaga dari ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), kata-kata kasar, dan berbagai bentuk perkataan yang menyakitkan—inilah salah satu tanda kesempurnaan iman.

Begitu pula tangan yang tidak digunakan untuk menyakiti, memukul, merampas hak orang lain, atau melakukan kezaliman dalam bentuk apapun. Memuliakan guru menurut Islam dan menghormati sesama manusia adalah bagian dari menjaga tangan kita agar selalu berada dalam koridor kebaikan.

Dalam konteks masa kini, hadits ini sangat relevan. Di tengah maraknya perundungan, ujaran kebencian di media sosial, hingga kekerasan verbal dan fisik, ajaran Rasulullah ini mengingatkan kita untuk senantiasa menjadi sumber ketenangan dan keamanan bagi siapa pun yang berinteraksi dengan kita.

Malu: Cabang Iman yang Membawa Kebaikan

Iman dalam Islam memiliki dimensi yang sangat luas. Ia tidak hanya tentang pengakuan dengan lisan dan keyakinan di dalam hati, tetapi juga tercermin dalam sikap dan perilaku keseharian. Salah satu cabang iman yang sangat ditekankan oleh Rasulullah adalah sifat malu (al-haya').

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, "Iman itu 60 lebih cabangnya, dan sifat malu itu satu cabang dari iman." (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Dalam riwayat Imam Muslim, disebutkan lebih rinci: "(Iman ada) 75 cabang, yang utama kalimat La ilaha illallah dan yang terendah menyingkirkan gangguan di jalanan, dan malu itu satu cabang dari iman."

Hadits ini menunjukkan bahwa iman itu bukan konsep tunggal yang kaku, melainkan memiliki banyak cabang—mulai dari yang paling agung yaitu kalimat tauhid, hingga yang tampak sederhana seperti menjadikan membaca Al-Quran sebagai kebiasaan sehari-hari atau menyingkirkan duri dari jalan. Semuanya adalah bagian integral dari kesempurnaan iman seorang Muslim.

Sifat Malu yang Terpuji

Apa yang dimaksud dengan "malu" dalam konteks keimanan? Ini bukan malu yang membuat seseorang takut berbuat kebaikan atau enggan memperjuangkan kebenaran. Malu yang dimaksud adalah perasaan tidak nyaman ketika akan melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keislaman.

Seseorang yang memiliki sifat malu akan merasa tidak enak hati jika hendak berbuat maksiat, karena ia sadar ada Allah yang mengawasi setiap gerak-geriknya. Ia juga malu untuk berbuat curang, berbohong, atau menyakiti orang lain, karena menyadari hal tersebut bertentangan dengan petunjuk terbaik: meniti sunnah Nabi Muhammad saw.

Ibnu Umar Radhiyallahu anhu menuturkan sebuah kisah yang sangat bermakna: "Nabi Muhammad SAW melihat seorang yang menasehati saudaranya karena malu, maka Nabi Muhammad SAW bersabda: Biarkanlah ia, karena sesungguhnya malu itu daripada iman." (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Dalam kejadian ini, ada seseorang yang dinasehati untuk mengurangi rasa malunya. Namun Rasulullah justru membela orang tersebut dan menegaskan bahwa sifat malu adalah bagian dari iman. Ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Islam, memiliki rasa malu adalah kualitas positif yang harus dipelihara, bukan dihilangkan.

Malu Hanya Mendatangkan Kebaikan

Imran bin Husain Radhiyallahu anhu meriwayatkan sabda Rasulullah yang sangat menenangkan: "Nabi Muhammad SAW bersabda: Malu itu tiada mendatangkan sesuatu kecuali baik." (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Hadits ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun dampak negatif dari sifat malu yang benar. Justru, malu akan menghalangi seseorang dari perbuatan-perbuatan tercela, mendorongnya untuk selalu berbuat baik, dan menjaga martabatnya sebagai hamba Allah.

Ketika seseorang memiliki rasa malu kepada Allah, ia akan berhati-hati dalam setiap langkahnya. Ia tidak akan sembarangan dalam bertutur kata, tidak akan gegabah dalam bertindak, dan akan senantiasa menjaga dirinya dari hal-hal yang dapat merusak kehormatan dan keimanannya.

Mengintegrasikan Amalan-Amalan Terbaik dalam Kehidupan

memberi sedekah

Hadits-hadits yang disampaikan Rasulullah SAW di atas memberikan kita panduan yang sangat jelas tentang bagaimana menjadi Muslim yang baik. Kita tidak perlu melakukan hal-hal yang luar biasa rumit atau mustahil. Cukup dengan:

  1. Dermawan dalam berbagi—mulai dari memberi makan hingga berbagi ilmu dan kasih sayang
  2. Ramah dalam bersikap—menyebarkan salam dan kebaikan kepada siapa pun
  3. Menjaga lisan dan tangan—tidak menyakiti sesama dalam bentuk apapun
  4. Memelihara sifat malu—menjadikan rasa takut kepada Allah sebagai pengontrol perilaku kita

Semua ini adalah amalan-amalan yang sangat aplikatif dan bisa dilakukan oleh siapa saja, di mana saja, kapan saja. Tidak ada batasan waktu, tempat, atau kondisi tertentu. Bahkan dalam kesibukan sehari-hari, kita tetap bisa menjalankan 7 tips agar istiqamah dalam ketaatan ini dengan konsisten.

Merenungkan Makna Cabang-Cabang Iman

Konsep cabang iman dalam Islam mengajarkan kita bahwa kesempurnaan keislaman seseorang tidak hanya diukur dari satu aspek saja. Mulai dari ucapan kalimat syahadat sebagai cabang tertinggi, hingga tindakan sekecil menyingkirkan batu dari jalan—semuanya adalah bagian dari iman.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang komprehensif, mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak ada dikotomi antara ibadah ritual dan akhlak sosial. Semuanya saling terkait dan melengkapi. Alquran sebagai akhlak Nabi Muhammad SAW, begini penjelasan Imam Al-Ghazali memperkuat pemahaman bahwa iman yang sempurna tercermin dalam akhlak yang mulia.

Bagi para pencinta Al-Quran, memahami hadits-hadits ini akan semakin mendekatkan kita pada esensi ajaran Islam yang sesungguhnya. Al-Quran dan As-Sunnah adalah dua sumber utama yang tidak terpisahkan. Ketika kita menghidupkan jiwa dengan cahaya Al-Qur'an, kita juga harus mengamalkan tuntunan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Penutup

menyingkirkan gangguan di jalan

Rasulullah Muhammad SAW telah memberikan kita peta jalan yang sangat jelas menuju kesempurnaan iman. Memberi makan, menyebarkan salam, menjaga lisan dan tangan, serta memelihara sifat malu—semua ini adalah amalan-amalan sederhana namun memiliki dampak yang luar biasa besar bagi kehidupan pribadi maupun masyarakat.

Di tengah zaman yang semakin kompleks ini, kita perlu kembali kepada tuntunan Rasulullah yang sederhana namun sangat mendalam. Mari kita jadikan hadits-hadits ini sebagai panduan dalam berinteraksi dengan sesama, sehingga kita benar-benar menjadi Muslim yang menghadirkan kebaikan, keamanan, dan keberkahan bagi siapa pun yang berjumpa dengan kita.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk mengamalkan 13 ciri sebaik-baik manusia dalam Islam dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang dicintai karena akhlak mulia yang kita miliki.


Tulisan ini diparafrasekan dari artikel yang berjudul, "Rasulullah Jelaskan Amalan Paling Utama dan Cabang Iman", ditulis oleh Fuji Eka Permana dan Muhammad Hafil, yang dimuat di Khazanah Republika, Ahad 18 Jan 2026.


 

dauroh dan quran camp 25 04 17

 

Saatnya Wujudkan Harapan Terbaik untuk Buah Hati Tercinta

Membaca tuntunan Rasulullah tentang amalan-amalan mulia di atas, pernahkah terlintas di benak kita: bagaimana caranya agar anak-anak kita tumbuh dengan nilai-nilai luhur ini? Di tengah gempuran teknologi dan hiruk-pikuk dunia yang semakin kompleks, kita tentu mendambakan buah hati memiliki iman yang kokoh, akhlak yang mulia, dan kedekatan yang erat dengan Al-Quran.

Kabar baiknya, Anda tidak sendirian dalam perjuangan ini.

Pesantren Daarul Mutqin menghadirkan Program Dauroh Al-Quran "Healing with Qur'an"—sebuah kesempatan istimewa bagi putra-putri Anda untuk menyelami keindahan Al-Quran dalam suasana yang menyejukkan jiwa. Bayangkan: sebulan penuh bersama Kitabullah, di kaki pegunungan Puncak yang asri, dipandu langsung oleh Syaikh As'ad Humam Lc., Al-Hafidz, alumni Universitas Al-Azhar yang mewarisi sanad Al-Quran 30 juz.

Ini bukan sekadar program hafalan biasa. Ini adalah perjalanan transformatif yang membentuk karakter, membangun kedisiplinan, dan menanamkan rasa cinta mendalam pada Al-Quran—bekal paling berharga yang bisa kita wariskan kepada generasi penerus kita.

Dauroh fleksibel mulai sehari hingga 40 hari penuh, dengan fasilitas lengkap dan biaya yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan keluarga. Cocok untuk mengisi liburan sekolah, weekend, atau momen spesial lainnya.

Jangan biarkan waktu berharga berlalu tanpa makna. Mari wujudkan harapan terbaik Anda untuk masa depan anak-anak kita.

📲 Hubungi Kami Sekarang:
🔗 gentaqurani.id/dauroh-al-quran

📱 0813-9830-0644 | 0812-2650-2573
📌 Sirnagalih, Megamendung, Kab. Bogor, Jawa Barat 16770

Karena investasi terbaik adalah yang kita tanamkan di hati anak-anak kita. 💚



quran camp 2025 04 19

Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

✓ Link berhasil disalin!
Diterbitkan Dikategori Seputar Islam.
Tagar: 2026