Skip to main content
Foto Al-Qur’an yang terbuka di atas rehal kayu di dalam masjid

13 Ciri Sebaik-baik Manusia dalam Islam

Setiap Muslim yang "warasa", sebanyak apapun dosa dan kesalahannya, setidaknya pernahmenyimpan kerinduan yang mendalam: ingin menjadi “sebaik-baik manusia” di hadapan Allah. Bukan sekadar baik di mata tetangga atau di linimasa media sosial, tetapi baik menurut ukuran wahyu.

Ustaz Said Yai Ardiansyah, dalam bukunya Siapakah Sebaik-Baik Manusia?, merangkum setidaknya 13 ciri sebaik-baik manusia menurut Islam. Rangkaian ciri ini diulas kembali oleh Hasanul Rizqa dalam tulisan berjudul Menjadi Sebaik-baik Manusia. Semua ciri itu bersumber dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW.

Bagi pecinta Al-Qur’an, daftar ini bukan hanya informasi. Ia adalah cermin. Setiap poin seakan bertanya pelan: “Apakah engkau sudah berada di jalan ini, atau baru berdiri di ambang pintunya?”

DAFTAR ISI

Standar “Sebaik-baik Manusia” dalam Pandangan Islam

Islam tidak menyerahkan definisi “manusia terbaik” kepada selera zaman. Ukurannya datang langsung dari Allah dan Rasul-Nya.

Salah satu fondasi besarnya adalah firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk” (QS al-Bayyinah [98]: 7)

Ayat ini menjadi pintu besar bagi ciri-ciri lainnya. Iman yang kokoh dan amal saleh yang terus tumbuh adalah akar dari seluruh kebaikan. Tanpa keduanya, gelar “sebaik-baik manusia” hanya tinggal slogan.

Berbagai lembaga dakwah dan ulama juga sering mengangkat tanda-tanda sebaik-baik manusia dalam kajian dan tulisan mereka, menegaskan bahwa kemuliaan di sisi Allah selalu terkait dengan iman, amal, dan manfaat bagi sesama.


13 Ciri Sebaik-baik Manusia Menurut Dalil

1. Beriman dan Saleh

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk” (QS al-Bayyinah [98]: 7)

Iman bukan sekadar pengakuan di lisan, dan amal saleh bukan sekadar aktivitas seremonial. Keduanya menyatu dalam kehidupan harian seorang Mukmin: dalam cara ia mencari nafkah, menjaga lisannya, hingga menjaga amanah.

Bagi pecinta Al-Qur’an, iman dan amal saleh tampak dalam kesungguhan menjaga tilawah harian, memperbaiki bacaan, dan berusaha menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Di sinilah seorang hamba pelan-pelan bergerak dari sekadar “orang baik” menjadi bagian dari “sebaik-baik makhluk”.

Di titik ini, sangat wajar bila seorang Muslim menjadikan tema [[iman dan amal shalih]] sebagai bahan tadabbur dan muhasabah diri dari waktu ke waktu.


2. Mengingatkan Orang kepada Allah Saat Dilihat

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, sebaik-baik hamba di kalangan umat ini adalah yang apabila mereka dilihat, maka Allah Azza wa Jalla diingat” (HR al-Khara-ithi dalam Masawi’ al-Akhlaq). Syekh al-Albani menyatakan bahwa hadis ini hasan.

Ada manusia yang ketika namanya disebut, yang terlintas adalah hartanya. Ada yang diingat karena pangkatnya. Ada pula yang dikenang karena kekasaran dan lisannya.

Namun sebaik-baik hamba adalah mereka yang, ketika wajahnya tampak, orang spontan teringat kepada Allah: karena kesederhanaannya, kekhusyukan ibadahnya, kelembutan tutur katanya.

Bagi pecinta Al-Qur’an, ini bisa terlihat dari kebiasaan membawa mushaf, menjaga adab di majelis ilmu, dan kehadirannya di shaf depan. Sosok seperti ini membuat orang lain ingin ikut mendekat kepada [[Al-Qur’an dan majelis ilmu]].


3. Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya” (HR Bukhari).

Inilah salah satu hadis yang paling sering dikutip ketika berbicara tentang kemuliaan ahlul Qur’an. Banyak ulama menjelaskan bahwa orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an telah memperbaiki dirinya dan berusaha memperbaiki orang lain, sehingga layak mendapat predikat “sebaik-baik kalian”.

Belajar Al-Qur’an bisa bermula dari langkah yang sangat sederhana:

  • menguatkan kembali makharijul huruf,

  • memperbaiki tajwid,

  • menambah hafalan,

  • atau mulai rutin menghadiri halaqah tahsin.

Mengajarkan Al-Qur’an pun tidak selalu berarti menjadi ustaz besar. Mengajar anak sendiri di rumah, membantu teman membaca dengan benar, atau menyebarkan materi bermanfaat dari [[panduan praktis belajar Al-Qur’an]] juga bagian dari mengajarkannya.

Bagi pecinta Al-Qur’an, hadis ini ibarat undangan lembut: jangan berhenti di “saya suka membaca”, tapi naiklah setingkat menjadi “saya belajar dan saya ingin berbagi”.


4. Paling Baik kepada Istri dan Keluarganya

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan saya adalah yang terbaik dari kalian terhadap keluargaku” (HR at-Tirmidzi).

Keagungan akhlak seorang Muslim diuji justru di rumahnya. Di hadapan pasangan, anak, dan keluarga terdekat, ia tidak bisa lagi bersembunyi di balik pencitraan.

Rasulullah SAW menjadikan perlakuan kepada keluarga sebagai salah satu standar kebaikan. Orang yang lembut pada istrinya, adil kepada anak-anaknya, dan menjaga keluarganya dari yang haram, sedang membangun reputasi di sisi Allah sebagai “sebaik-baik kalian”.

Bagi pengamal Al-Qur’an, ini berarti membawa nilai-nilai ayat ke dalam rumah:

  • berdialog dengan tenang,

  • membacakan Al-Qur’an bersama,

  • menjadikan rumah sebagai [[rumah yang dekat dengan Al-Qur’an]].


5. Berakhlak Baik, Terutama Saat Menuntut Ilmu

Beliau bersabda, "Sesungguhnya, sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya" (HR Bukhari).

Dalam riwayat lain disebutkan, “Sebaik-baik kalian Islamnya adalah yang paling baik akhlak jika mereka menuntut ilmu” (HR Ahmad).

Akhlak adalah buah dari iman. Ilmu tanpa akhlak akan melahirkan kesombongan, sedangkan akhlak tanpa ilmu mudah terjatuh pada kebodohan.

Hadis ini menekankan dua hal sekaligus:

  1. Akhlak mulia secara umum, dan

  2. Akhlak yang tampak jelas ketika seseorang menuntut ilmu.

Di majelis Al-Qur’an, adab tampak dari cara duduk, cara bertanya, cara menyimak, hingga cara menyampaikan perbedaan pendapat. Orang yang menuntut ilmu dengan akhlak mulia akan lebih mudah meraih keberkahan ilmu itu sendiri, sebagaimana sering ditekankan dalam banyak tulisan tentang [[adab penuntut ilmu syar’i]].


6. Baik di Masa Jahiliyah, Lebih Baik Lagi dalam Islam

Rasul SAW juga bersabda, "Sebaik-baik kalian ketika masa Jahiliyah adalah sebaik-baik kalian di dalam Islam jika memahami agama” (HR Bukhari).

Hadis ini memberi harapan besar bagi siapa pun yang memiliki masa lalu kelam. Bila di masa sebelum Islam (atau sebelum bertaubat) seseorang punya keberanian, kedermawanan, atau kejujuran, maka ketika ia memahami agama, sifat-sifat itu bisa menjadi modal kebaikan luar biasa.

Kuncinya ada pada kalimat “jika memahami agama”. Tanpa pemahaman syar’i, potensi kebaikan bisa tersesat arah. Dengan bimbingan agama, potensi itu berubah menjadi amal yang terukur dan bernilai di sisi Allah.


7. Gemar Memberi Makan

Nabi SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makanan” (HR Ahmad).

Memberi makan adalah bentuk kebaikan yang sederhana tetapi sangat menyentuh. Dalam banyak kisah, sepotong roti atau sepiring nasi bisa mengubah air mata lapar menjadi senyum syukur.

Bagi pecinta Al-Qur’an, memberi makan bukan hanya kegiatan sosial, tetapi juga bentuk taqarrub kepada Allah. Di bulan Ramadhan, misalnya, memberi buka puasa menjadi amal yang sangat dianjurkan. Dalam kehidupan sehari-hari, mengundang tetangga, berbagi kepada yatim dan dhuafa, atau sekadar mengirim makanan ke rumah guru ngaji adalah praktik nyata dari [[sedekah makanan di jalan Allah]].

Jamaah Muslim shalat berjamaah dengan saf yang rapat

Gambar: Foto jamaah Muslim yang sedang melakukan shalat berjamaah di dalam masjid dengan saf yang tersusun rapi. 

8. Diharapkan Kebaikannya, Aman dari Keburukannya

“Sebaik-baik kalian adalah yang diharapkan kebaikannya dan dirasakan aman dari keburukannya. Dan seburuk-buruk kalian adalah yang tidak diharapkan kebaikannya dan tidak dirasakan aman dari keburukannya” (HR at-Tirmidzi).

Manusia terbaik adalah mereka yang kehadirannya menenangkan. Orang merasa nyaman menitipkan amanah kepadanya, dan tidak khawatir akan kejahatan darinya.

Dalam konteks dakwah dan aktivitas Qur’ani, ciri ini bisa terlihat dari cara seseorang mengelola amanah:

  • amanah dana,

  • amanah jadwal mengajar,

  • amanah menjaga rahasia teman.

Orang yang aman dari keburukan lisannya, tangannya, dan strateginya, sedang mempraktikkan salah satu ciri yang sangat mulia ini.


9. Paling Baik dalam Membayar Utang

Nabi SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam pembayaran (utang)” (HR Bukhari).

Utang, bila tidak dijaga, bisa mengikis kehormatan dan merusak hubungan. Islam tidak hanya menganjurkan untuk menunaikan utang, tetapi bahkan memuji mereka yang “paling baik” dalam membayarnya: tepat waktu, komunikatif, dan tidak mencari-cari alasan.

Bagi penuntut ilmu dan pecinta Al-Qur’an, ini berarti menjaga integritas finansial. Kebaikan bacaan Al-Qur’an tidak boleh bertentangan dengan keburukan dalam urusan utang-piutang.


10. Paling Bermanfaat bagi Orang Lain

Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain” (HR ath-Thabari).

Inilah salah satu hadis yang sering dikutip saat membahas peran sosial seorang Muslim. Manusia terbaik bukan hanya yang banyak beribadah untuk dirinya sendiri, tetapi juga yang memberi manfaat nyata kepada orang lain.

Manfaat itu bisa berupa:

  • ilmu yang ia ajarkan,

  • waktu yang ia luangkan,

  • tenaga yang ia sumbangkan,

  • atau doa yang ia panjatkan diam-diam untuk saudaranya.

Pecinta Al-Qur’an bisa menghadirkan manfaat dengan membuka kelas tahsin, menyebarkan tulisan tentang menghidupkan jiwa dengan cahaya Al-Qur’an, atau mendukung lembaga yang fokus pada pendidikan Al-Qur’an keluarga.


11. Panjang Umur dan Baik Amalnya

Diriwayatkan dari Abdullah bin Busr, bahwa seorang Arab badui berkata, "Ya Rasulullah! Siapakah sebaik-baik manusia?" Maka beliau menjawab, "Yang panjang umurnya dan baik amalannya" (HR at-Tirmidzi).

Umur panjang bukan otomatis kemuliaan. Hadis ini menegaskan bahwa yang dipuji adalah umur yang panjang dan dipenuhi amal shalih. Tahun demi tahun tidak dibiarkan berlalu kosong, melainkan diisi dengan ibadah, ilmu, dan pelayanan kepada sesama.

Bagi pecinta Al-Qur’an, setiap tahun tambahan usia adalah peluang:

  • menambah hafalan,

  • memperbaiki bacaan,

  • memperluas manfaat ajaran Al-Qur’an di sekitarnya.


12. Merapatkan Saf Shalat dan Menutup Celah

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling lembut pundaknya ketika shalat (berjamaah). Dan tidak ada satu langkah dari seorang hamba ketika melangkahkan satu langkah yang pahalanya lebih besar melebihi langkahnya seorang laki-laki yang berjalan menuju celah di saf, kemudian dia menutupinya (celah itu)” (HR at-Thabari).

Rapatnya saf shalat berjamaah adalah simbol persatuan hati kaum Muslimin. “Pundak yang lembut” menggambarkan sikap lapang dada, tidak kaku, mudah menyesuaikan diri demi kerapian jamaah.

Orang yang bersegera mengisi celah saf sedang melakukan amal yang dicintai Allah. Langkah kecil yang tampak sepele itu ternyata memiliki pahala besar, sebagaimana digambarkan dalam hadis.

Masjid-masjid yang dihidupkan oleh pecinta Al-Qur’an semestinya menjadi tempat di mana shaf-shaf selalu rapi, celah selalu ditutup, dan [[adab shalat berjamaah]] dijaga dengan penuh hormat.


13. Memiliki Hati al-Mahmuum dan Lisan yang Jujur

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia berkata, "Kami berkata, 'Ya Rasulullah! Siapakah sebaik-baik manusia?'

Beliau menjawab, '(Dia adalah) yang memiliki hati al-mahmuum dan (yang memiliki) lisan yang jujur.'

Kami berkata, 'Kami telah mengetahui (lisan) yang jujur, tetapi apa yang dimaksud dengan hati al-mahmuum?'

'Dia adalah hati yang bertakwa dan suci yang tidak ada dosa di dalamnya dan tidak ada rasa dengki.'

Kami bertanya, 'Siapakah orang setelahnya?'

Beliau menjawab, '(Dia adalah) yang membenci dunia dan mencintai akhirat!

Mereka berkata, 'Kami tidak mengetahui ada orang seperti ini kecuali Rafi’ maula Rasulullah SAW. Siapakah orang setelahnya?'

Beliau bersabda, 'Seorang Mukmin yang berakhlak baik.'

Mereka berkata, 'Adapun ini, maka ada pada kami" (HR al-Baihaqi).

Istilah hati al-mahmuum mungkin terasa asing di telinga sebagian kita, tetapi penjelasan Nabi SAW sangat jelas:

  • hati yang bertakwa,

  • suci dari dosa,

  • bersih dari dengki.

Inilah proyek hidup seorang pecinta Al-Qur’an: menjadikan bacaan dan hafalannya sebagai sarana membersihkan hati, bukan sekadar menghias lisan.

Hadis ini juga mengingatkan kita agar tidak tertipu oleh dunia. Orang setelah pemilik hati al-mahmuum adalah mereka yang “membenci dunia dan mencintai akhirat”—bukan membenci makhluk di dunia, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.

Akhirnya, Nabi SAW menyebut seorang Mukmin yang berakhlak baik sebagai sosok yang juga termasuk dalam lingkaran sebaik-baik manusia. Ini menegaskan kembali betapa akhlak adalah mahkota seluruh ciri di atas.


Menjadikan 13 Ciri Ini sebagai Cermin Diri

Seorang Muslim membaca Al Quran dengan khusyuk

Gambar: Foto close-up tangan seseorang yang sedang memegang dan membaca Al-Qur’an,

Ketiga belas ciri di atas bukan untuk dihafal lalu dilupakan, melainkan untuk dijadikan cermin harian. Kita mungkin belum mampu mengumpulkan semuanya sekaligus, tetapi kita bisa mulai dari satu, lalu dua, lalu tiga—pelan-pelan, namun konsisten.

Bagi pecinta Al-Qur’an, cara paling sederhana memulai adalah:

  • menjadikan Al-Qur’an sahabat harian,

  • memperbaiki akhlak di rumah,

  • dan mencari kesempatan kecil untuk bermanfaat bagi orang lain.

Tulisan ini diadaptasi dari karya Hasanul Rizqa di Republika, Menjadi Sebaik-baik Manusia, serta dirangkai ulang untuk menemani para pecinta Al-Qur’an yang ingin menjadikan wahyu sebagai standar hidupnya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang “sebaik-baik” di sisi-Nya, bukan hanya di mata manusia.

Hadiah Terindah untuk Anak: Sebulan Bersama Al-Qur’an

 

dauroh dan quran camp 25 04 17

 

Setelah mengenal 13 ciri sebaik-baik manusia, banyak orangtua mungkin bertanya dalam hati, “Bagaimana caranya menyiapkan anak SMP/SMA agar kelak termasuk di dalamnya?” Salah satu jawabannya adalah menghadiahkan masa muda mereka bersama Al-Qur’an, jauh sejenak dari hiruk pikuk gadget dan kesibukan kota, agar hati mereka sempat benar-benar mendengar kalam Allah.

Program Dauroh Al-Qur’an “Healing with Qur’an (1 Bulan Hafal 30 Juz Perdana)” di Pesantren Daarul Mutqin, Puncak–Bogor, dirancang untuk itu: mengisi hari-hari dengan tilawah, hafalan, dan bimbingan para asatidz yang kompeten. Suasana pegunungan yang sejuk, masjid yang nyaman, penginapan berasrama, lapangan, kolam renang, hingga tafakkur alam, semuanya disiapkan agar anak belajar dengan hati yang lapang. Dibimbing langsung oleh Syaikh As’ad Humam Lc., Al-Hafidz, insya Allah setiap detik menjadi investasi akhirat.

Bagi orangtua yang ingin memanfaatkan liburan sekolah, akhir pekan, atau waktu luang anak dengan kegiatan yang bermakna, Dauroh Al-Qur’an Daarul Mutqin bisa menjadi langkah kecil yang membawa perubahan besar. Anda bisa menyesuaikan lama tinggal mulai dari sehari hingga 40 hari, untuk individu, rombongan sekolah, komunitas, bahkan usia senja.

📲 Untuk informasi dan reservasi:
Website: https://gentaqurani.id/dauroh-al-quran
WA: 0813-9830-0644 | 0812-2650-2573



quran camp 2025 04 19

Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

✓ Link berhasil disalin!
Diterbitkan Dikategori Blog.
Tagar: 2025