Skip to main content
Suasana banjir di Dayeuhkolot, Kab. Bandung; warga memakai perahu dan alat transportasi sederhana untuk melewati jalan yang tergenang.

Hikmah Pasca Musibah Banjir: Memuliakan Alam, Menjauhi Maksiat, dan Bersabar

Musibah banjir datang tanpa mengetuk pintu. Ia mengubah jalan menjadi sungai, mengubah rumah menjadi tempat mengungsi, mengubah hari biasa menjadi hari panjang yang melelahkan. Namun bagi pecinta Al-Qur’an, musibah bukan hanya berita duka—ia juga panggilan untuk muhasabah, mengukur ulang arah hidup, dan merapatkan hati kepada Allah.

Ustadz Bobby Hariwibowo, Lc. mengingatkan: ada beberapa hal yang mesti dilakukan manusia pasca musibah banjir. Tiga hal itu sederhana dalam lafaz, tetapi berat dalam pengamalan: menjauhi maksiat, memuliakan alam semesta, dan bersabar atas ujian yang Allah turunkan.

DAFTAR ISI

Tiga Sikap Pasca Banjir: Jalan Pulang yang Paling Manusiawi

Warga mengungsi akibat banjir bandang di Gorontalo

Gambar: Warga mengungsi setelah banjir bandang di Gorontalo (Juli 2024). Musibah menyingkap kebutuhan saling menolong dan kesabaran.

Mari kita urai tiga sikap itu, bukan sebagai slogan, melainkan sebagai arah pulang—agar hati tidak semakin keruh saat air sudah surut.

1) Menjauhi maksiat yang mengundang murka Allah

Nasihat pertama ini menuntut keberanian: berani mengakui bahwa dosa bukan sekadar urusan “pribadi” yang tak ada dampaknya. Dalam tulisan Republika itu, Ustadz Bobby menautkan muhasabah ini dengan peringatan Al-Qur’an tentang kerusakan yang terjadi karena ulah manusia.

Di sinilah kita perlu jujur pada diri sendiri: banjir bisa memiliki banyak sebab lahiriah—cuaca ekstrem, tata ruang, perilaku membuang sampah, dan seterusnya. Tetapi nasihat ini mengajak kita menengok sebab batiniah: ketika manusia meremehkan larangan Allah, ketika lidah mudah melukai, ketika tangan ringan mengambil yang bukan hak, ketika mata menikmati yang haram, dan ketika hati merasa aman dari peringatan.

Karena itu, langkah pasca musibah bukan hanya memperbaiki selokan, tetapi juga memperbaiki akhlak. Bukan hanya mengeringkan lantai, tetapi juga mengeringkan kebiasaan buruk yang dibiarkan bertahun-tahun. Dan pada titik ini, pecinta Al-Qur’an biasanya paham: taubat bukan sekadar penyesalan, melainkan perubahan arah.

Ustadz Bobby mengutip bagian dari ayat yang akrab di telinga kita, sebagai pengingat bahwa Allah membuat manusia “merasakan” sebagian akibat perbuatannya agar kembali ke jalan benar:

"Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar," katanya.

Bagi yang ingin membaca konteks ayat lengkapnya, Anda bisa merujuk TQS. Ar-Rum: 41.

2) Memuliakan alam semesta: berhenti merusak, mulai merawat

Relawan membersihkan sampah di Sungai Cikapundung Bandung

Gambar: Sampah yang menumpuk di aliran air adalah contoh “kerusakan oleh tangan manusia”—pengingat untuk taubat dan menjaga amanah lingkungan

Nasihat kedua ini penting, karena sering kali manusia merasa “paling berhak” atas bumi: menebang sesuka hati, membangun semaunya, membuang sampah seenaknya—lalu heran ketika alam “menjawab” dengan caranya sendiri.

Ustadz Bobby mengingatkan agar umat Islam memuliakan alam sesuai perintah Allah, dan mengaitkannya dengan teguran keras Al-Qur’an tentang orang-orang yang merasa dirinya pembawa perbaikan, padahal justru penyebab kerusakan.

Berikut kutipan yang dimuat dalam artikel tersebut:

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, janganlah berbuat kerusakan di bumi, mereka menjawab, sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari."

Jika Anda ingin menelusuri bacaan ayat terkait, silakan merujuk TQS. al-Baqarah: 11–12.

Bagi pecinta Al-Qur’an, ayat ini seperti cermin yang tidak memuji-muji. Ia bertanya pelan tapi menembus: “Jangan-jangan aku sedang merusak, tetapi menamainya perbaikan?” Karena kerusakan tidak selalu berupa kejahatan besar. Kadang ia sederhana:

  • membuang sampah ke selokan sambil berkata “nanti juga hanyut”,

  • menutup mata saat ada yang merusak fasilitas umum,

  • abai terhadap drainase, sungai, dan ruang hijau,

  • meremehkan ilmu dan data, lalu menyalahkan takdir.

Maka memuliakan alam semesta bukan sekadar wacana “hijau”. Ia bagian dari amanah. Ia cara seorang muslim menempatkan diri: bukan sebagai pemilik mutlak, melainkan pengelola yang akan dimintai pertanggungjawaban.

3) Bersabar atas ujian: dari panik menuju ridha

Nasihat ketiga menyentuh inti rasa manusia. Sebab banjir bukan hanya kehilangan barang; ia kehilangan rasa aman. Di sinilah Ustadz Bobby menyorot dua wajah yang sering muncul saat musibah: manusia labil versus manusia ridho.

Kalimat itu tajam, tetapi juga penuh kasih. Karena yang labil bukan selalu orang jahat; kadang ia hanya lelah, kaget, dan tidak punya pegangan. Sedangkan ridha bukan berarti tidak sedih—ia sedih, namun tidak memutus hubungan dengan Allah.

Di artikel tersebut juga ditegaskan: sebagai orang Islam, kita menerima ketentuan qadha dan qadar yang telah Allah tetapkan.
Maka pasca musibah, kita belajar menata ulang batin:

  • Sabar saat menunggu bantuan, saat membersihkan lumpur, saat memulai lagi dari nol. (sabar dalam musibah)

  • Syukur saat masih diberi keluarga, tetangga, dan kesempatan hidup.

  • Ikhtiar tanpa menyalahkan, tanpa menuduh, tanpa menambah luka.

Ustadz Bobby juga mengingatkan bahwa Allah menguji hamba-Nya dengan beragam bentuk: rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.
Ini bukan untuk melemahkan, tetapi untuk memperlihatkan: siapa yang kembali, dan siapa yang semakin jauh.

Pelajaran dari Kaum Saba: ketika nikmat tidak melahirkan syukur

Mushaf Al Quran terbuka untuk tadabbur dan tajwid

Gambar: Mushaf terbuka—pengingat bahwa musibah seharusnya mengantar kita kembali pada tadabbur, taubat, dan perbaikan diri.

Ada bagian penting lain dalam tulisan tersebut: Ustadz Bobby tidak menginginkan umat Islam seperti kaum Saba, yang diberi tempat kediaman indah, tetapi mereka ingkar; kisahnya disebut dalam Al-Qur’an Surat Saba ayat 15–16.

Bila Anda ingin membaca kisah ayatnya, silakan merujuk TQS. Saba: 15–16.

Kisah kaum Saba mengajarkan satu hal yang sering dilupakan: nikmat tidak otomatis membuat orang baik. Nikmat bisa menjadi ujian yang lebih halus daripada bencana. Ada yang hidup di tanah subur, tetapi hatinya kering. Ada yang dikelilingi kemudahan, tetapi jiwanya lupa.

Maka pasca banjir, kita diingatkan untuk tidak hanya memulihkan rumah, tetapi juga memulihkan rasa syukur—agar nikmat yang kembali tidak menjadikan kita kembali lalai.

Langkah Praktis Pasca Banjir: Ibadah, Sosial, dan Ekologi

Pengerukan sedimen dan sampah sungai untuk mencegah banjir

Gambar: Upaya teknis seperti pengerukan sedimen dan pembersihan sampah bisa menjadi bagian ikhtiar

Agar nasihat tidak berhenti sebagai bacaan, berikut ikhtiar yang bisa ditempuh—sebagai bentuk amal shalih pasca musibah:

  1. Taubat yang nyata: istighfar, memperbaiki shalat, meninggalkan kebiasaan maksiat yang paling sulit ditinggalkan.

  2. Menguatkan tilawah dan tadabbur: pilih ayat-ayat tentang ujian, amanah, dan larangan merusak bumi; baca perlahan, catat pelajaran.

  3. Gotong royong memulihkan lingkungan: bersihkan saluran, bantu tetangga, ikut posko—karena iman juga bekerja lewat tangan.

  4. Edukasi keluarga tentang adab terhadap alam: jangan buang sampah sembarangan, biasakan memilah, rawat selokan sekitar rumah. (adab menjaga lingkungan)

  5. Doa dan empati tanpa menghakimi: musibah adalah medan belas kasih; bukan arena saling menyalahkan.

Di ujungnya, kita kembali pada kalimat yang sederhana, tetapi selalu baru: manusia harus memuliakan alam semesta—sebab ia bukan benda mati yang boleh diperlakukan semaunya. Ia ayat-ayat Allah yang terbentang; ia titipan yang kelak ditanya.

Tulisan ini merupakan parafrase dan pengembangan dari artikel Muhammad Hafil di Republika berjudul Hikmah Pasca Musibah Banjir (11 Desember 2025), yang memuat nasihat Ustadz Bobby Hariwibowo, Lc.

Dauroh Al-Qur’an: Menenangkan Hati, Menguatkan Anak, Menata Hidup

 

dauroh dan quran camp 25 04 17

 

Setelah musibah datang dan surut, sering kali yang tersisa bukan hanya bekas di lantai—tetapi juga bekas di dada. Di titik seperti ini, banyak orang tua bertanya pelan: bagaimana caranya menata kembali keluarga… terutama anak-anak SMP/SMA, agar tidak tumbuh dalam kecemasan, tetapi dalam iman dan harapan?

Salah satu jalan yang lembut—tanpa perlu banyak kata—adalah mendekat ke Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an bukan sekadar bacaan; ia pelukan yang menenangkan, arah yang menegakkan, dan cahaya yang memandu ketika dunia terasa redup.

Itulah yang ingin dihadirkan Pesantren Daarul Mutqin melalui program “Healing with Qur’an (1 Bulan Hafal 30 Juz Perdana)”: kesempatan untuk “rehat sejenak” dari hiruk-pikuk, lalu mengisi hari-hari dengan tilawah, tahsin, tahfidz, dan tafakkur alam—di suasana sejuk Puncak Bogor, dengan fasilitas yang nyaman, serta bimbingan Syaikh As’ad Humam, Lc., Al-Hafidz (alumni Al-Azhar dan pewaris sanad Al-Qur’an). Durasi ikutnya fleksibel: mulai 1 hari hingga 40 hari, cocok untuk liburan sekolah, komunitas, Ramadhan, hingga akhir pekan.

📲 Untuk informasi lanjut:
Website: https://gentaqurani.id/dauroh-al-quran
WA: 0813-9830-0644 | 0812-2650-2573



quran camp 2025 04 19

Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

✓ Link berhasil disalin!
Diterbitkan Dikategori Blog.
Tagar: 2025