Skip to main content
Ilustrasi akhlak yang baik

Alquran sebagai Akhlak Nabi Muhammad SAW, Begini Penjelasan Imam Al-Ghazali

Alquran tidak hanya diturunkan untuk dibaca, tetapi untuk dihidupi. Ia bukan sekadar bacaan yang merdu di bibir, melainkan petunjuk yang menuntun langkah, menata rasa, dan memahat perangai—pelan-pelan, sampai seseorang dikenal bukan karena banyaknya kata, tetapi karena indahnya adab.

Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, seluruh perilaku, sikap, dan tata krama Nabi Muhammad SAW adalah pengejawantahan nyata dari ajaran Alquran. Seakan-akan wahyu itu “turun” lagi dalam wujud perilaku: cara beliau memaafkan, cara beliau menahan amarah, cara beliau berlaku adil, cara beliau menguatkan yang lemah, dan cara beliau menundukkan diri di hadapan Allah. Bagi pecinta Alquran, ini kabar yang menyejukkan: semakin dekat kita dengan Alquran, semakin dekat pula kita dengan akhlak Nabi—bukan dalam slogan, melainkan dalam kebiasaan sehari-hari.

DAFTAR ISI

Ketika akhlak Nabi ditanya, Alquran yang disebut

Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa Alquran adalah akhlak Nabi Muhammad SAW. Allah SWT menurunkan Alquran kepada Rasulullah SAW yang mengajarkan sifat, cara, adab dan sikap terbaik menghadapi kehidupan. Maka akhlak Rasulullah SAW adalah Alquran.

Riwayat ini terasa sangat manusiawi: ada seorang sahabat yang datang membawa rasa ingin tahu, lalu pulang membawa peta akhlak yang paling terang. Ia bukan diminta menghafal daftar panjang, melainkan diajak kembali pada sumbernya.

Sa'ad bin Hisyam berkata, "Pada suatu hari aku datang ke tempat Aisyah Radhiyallahu anha dan ayahnya (Abu Bakar), lalu aku bertanya kepada mereka tentang akhlak Rasulullah SAW."

Aisyah Radhiyallahu anha berkata, "Apa kamu tidak membaca Alquran?"

Aku (Sa'ad bin Hisyam) menjawab, "Aku membacanya."

Aisyah Radhiyallahu anha berkata, "Sesungguhnya akhlak Rasulullah SAW adalah Alquran."

Bila Anda ingin membaca riwayatnya dalam satu rangkaian yang rapi, Anda bisa melihatnya di tulisan ringkas pada laman HadeethEnc tentang “Akhlak Nabi ﷺ ialah Al-Qur`an” atau pada pembahasan berbahasa Indonesia di IslamQA (poin tentang riwayat Aisyah RA).

Alquran memahat akhlak: garis-garis besar yang diajarkan

ilustrasi akhlak yang baik

Dalam Ihya Ulumuddin, dijelaskan bahwa Alquran mengajarkan kepada Rasulullah SAW agar berakhlak baik. Menariknya, ayat-ayat yang diangkat menunjukkan bahwa akhlak itu bukan hiasan. Ia latihan yang menuntut keteguhan: memaafkan ketika mampu membalas, berlaku adil ketika ada kepentingan, menahan amarah ketika emosi sedang tinggi, dan menjaga lisan ketika rasa ingin “menang” sedang menyala.

Agar lebih mudah ditangkap, mari lihat beberapa pokok akhlak yang berulang-ulang ditekankan.

1) Lapang dada: memaafkan dan berpaling dari kebodohan

Di sini akhlak tampak sederhana, tetapi berat ketika dijalankan: memaafkan, mengajak pada kebaikan, lalu tidak larut meladeni provokasi. Ayatnya bisa Anda lihat juga di Qur’an Kemenag—Al-A‘raf.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ

Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh. (TQS Al-A‘raf Ayat 199)

Ayat ini seperti pagar bagi hati: jangan mudah terseret. Ada orang yang memang datang hanya untuk mengaduk. Maka akhlak yang kuat justru tahu kapan bicara, kapan diam, kapan melangkah pergi tanpa dendam.

2) Timbangan yang lurus: adil, ihsan, dan menolong kerabat

Akhlak yang baik bukan hanya “tidak menyakiti”, tetapi juga aktif menebar kebaikan. Bahkan diikat dengan kata yang tegas: adil. Ayatnya dapat Anda lihat di Qur’an Kemenag—An-Nahl.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat. (TQS An-Nahl Ayat 90)

Di titik ini, akhlak menjadi “peta sosial”: bagaimana kita memperlakukan orang terdekat, bagaimana kita menahan diri dari permusuhan, dan bagaimana kita membiarkan keadilan mengalahkan ego.

3) Konsisten dalam ibadah dan sosial: salat, amar makruf, sabar

Akhlak dalam Alquran tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dari ibadah yang tegak dan kesabaran yang panjang. Ayatnya dapat dilihat di Qur’an Kemenag—Luqman.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ

Wahai anakku, tegakkanlah sholat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (harus) diutamakan. (TQS Luqman Ayat 17)

Ini pelajaran penting bagi kita: akhlak bukan sekadar “baik”, tetapi juga “teguh”. Ada orang yang baik ketika suasana mudah. Namun Alquran mengajari: tetaplah baik ketika keadaan menekan.

4) Puncak keteguhan: sabar dan memaafkan

Ada sabar yang menunggu. Ada sabar yang menahan diri. Ada sabar yang memaafkan—padahal kita sanggup membalas. Ayatnya bisa Anda baca di Qur’an Kemenag—Asy-Syura.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ اِنَّ ذٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ ࣖ

Akan tetapi, sungguh siapa yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan. (TQS Asy-Syura Ayat 43)

Sabar dan memaafkan bukan berarti lemah. Justru itulah latihan paling sunyi: menundukkan nafsu yang ingin menang, demi hati yang ingin selamat.

5) Memilih kelapangan: memaafkan, berlapang dada, menjadi muhsin

Alquran memotret kenyataan sosial: pengkhianatan bisa terjadi. Namun tetap ada pintu akhlak: memaafkan dan berbuat baik. Ayatnya dapat Anda lihat di Qur’an Kemenag—Al-Ma’idah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِّيْثَاقَهُمْ لَعَنّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوْبَهُمْ قٰسِيَةً ۚ يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهٖۙ وَنَسُوْا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوْا بِهٖۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلٰى خَاۤىِٕنَةٍ مِّنْهُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۗاِنَّ اللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

(Namun,) karena mereka melanggar janjinya, Kami melaknat mereka dan Kami menjadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah firman-firman (Allah) dari tempat-tempatnya dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Nabi Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka, kecuali sekelompok kecil di antara mereka (yang tidak berkhianat). Maka, maafkanlah mereka dan biarkanlah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang muhsin (muhsin adalah prilaku ihsan atau manusia sempurna atau insan kami). (TQS Al-Ma'idah Ayat 13)

Kelapangan itu juga berlaku dalam urusan rezeki dan relasi keluarga. Ayat berikut mengajarkan: jangan biarkan emosi membuat kita menutup pintu kebaikan. Ayatnya dapat Anda lihat di Qur’an Kemenag—An-Nur.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَا يَأْتَلِ اُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْٓا اُولِى الْقُرْبٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۖوَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan (rezeki) di antara kamu bersumpah (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (TQS An-Nur Ayat 22)

6) Menahan amarah: kuat bukan yang menang, tetapi yang terkendali

Orang yang mudah marah merasa kuat. Padahal Alquran memuji yang mampu menahan gelombang itu. Ayatnya bisa Anda lihat di Qur’an Kemenag—Ali ‘Imrān.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (TQS Ali ‘Imrān Ayat 134)

Menahan amarah itu bukan “memendam”. Ia mengatur diri agar marah tidak berubah jadi zalim. Di situlah akhlak bekerja: emosi tetap ada, tetapi kendali tetap di tangan iman.

7) Menjaga sangka dan lisan: jangan berburu aib, jangan menggunjing

Ada dosa yang tidak berisik, tetapi menggerogoti persaudaraan: prasangka yang dibiarkan, rasa ingin tahu yang berubah jadi memata-matai, lalu lidah yang menjadi pedang. Ayatnya dapat Anda lihat di Qur’an Kemenag—Al-Ḥujurāt.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (TQS Al-Ḥujurāt Ayat 12)

Ayat ini terasa seperti cermin: kita mungkin menjaga wudu, tetapi bagaimana dengan “wudu lisan”? Kita mungkin rajin membaca, tetapi bagaimana dengan “tadabbur perilaku”?

Pujian Allah untuk akhlak Nabi

ilustrasi akhlak yang baik

Pada akhirnya, Alquran bukan hanya menjelaskan akhlak mulia, tetapi juga memuji pribadi yang paling sempurna menerimanya: Nabi Muhammad SAW.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung. (TQS Al-Qalam Ayat 4)

Ayatnya dapat Anda lihat juga di Qur’an Kemenag—Al-Qalam. Dan di sinilah ucapan Aisyah RA menjadi semakin terang: akhlak Nabi SAW adalah Alquran—karena Alquran membentuk beliau, dan beliau mencontohkan Alquran.

Menghidupkan Alquran dalam akhlak: latihan yang bisa dimulai hari ini

ilustrasi akhlak yang baik

Kalau Alquran adalah akhlak Nabi, maka kedekatan kita kepada Alquran seharusnya juga tampak dalam perubahan kecil yang nyata. Tidak harus menunggu menjadi sempurna. Yang penting: bergerak, meski perlahan, tetapi arah.

Berikut beberapa ikhtiar yang bisa Anda mulai—khususnya bagi Anda yang menempuh jalan tahfidz Alquran atau sedang membiasakan diri bersama tilawah harian:

  • Ambil satu ayat, pilih satu akhlak, jaga satu hari. Misalnya dari Al-A‘raf 199: hari ini belajar pemaaf. Besok belajar menahan diri dari meladeni perdebatan yang tidak perlu.

  • Latih “jeda” sebelum merespons. Banyak luka terjadi bukan karena niat jahat, tetapi karena reaksi yang terlalu cepat. Jeda beberapa detik bisa menyelamatkan kata-kata.

  • Ukur keadilan dari yang paling dekat. Ayat An-Nahl 90 bukan slogan. Ia bisa hadir dalam rumah: adil pada pasangan, pada anak, pada saudara, pada rekan kerja—dalam hal waktu, perhatian, dan keputusan.

  • Jaga lisan sebagai ibadah. Al-Ḥujurāt 12 memberi alarm yang keras. Jika pembicaraan mulai bergeser menjadi gunjingan, pindahkan arah. Jika prasangka mulai membesar, kembalikan kepada husnuzan dan tabayyun.

  • Belajar menjadi muhsin dalam hal kecil. Menolong tanpa menunggu dipuji, memaafkan tanpa menghitung jasa, memberi tanpa mengungkit. Di situlah “ihsan” terasa hidup.

  • Sabar bukan pasif—sabar adalah istiqamah. Luqman 17 mengajarkan: salat yang tegak, kepedulian sosial yang aktif, lalu sabar menghadapi konsekuensi. Ini paket utuh, bukan potongan.

Boleh jadi inilah maksud “dihidupi”: Alquran tidak hanya kita temui di mushaf, tetapi kita bawa ke pasar, ke rumah, ke ruang kerja, ke perjalanan, dan ke hati yang sedang berusaha tenang. Ia menuntun bukan hanya saat kita kuat, tetapi terutama saat kita lelah.

Penutup

Akhirnya, memperindah akhlak bukan sekadar memperindah diri. Ia adalah cara kita memuliakan wahyu. Kita membaca Alquran bukan supaya menang dalam perdebatan, melainkan supaya kalah dari nafsu yang ingin menang. Kita mendekat kepada ayat bukan agar dipandang baik, melainkan agar Allah menumbuhkan kebaikan di dalam diri.

Semoga Allah menjadikan Alquran bukan hanya bacaan di lisan, tetapi cahaya dalam langkah; bukan hanya hafalan dalam ingatan, tetapi adab dalam pergaulan. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang ketika dilihat, orang lain teringat kepada ketenangan—dan ketika diajak bicara, orang lain merasakan aman.


Atribusi penulis asli: Diolah dari tulisan Fuji Eka Permana (Republika Iqra, Rabu 07 Jan 2026 19:10 WIB) pada artikel “Alquran sebagai Akhlak Nabi Muhammad SAW, Begini Penjelasan Imam Al-Ghazali”.

 

dauroh dan quran camp 25 04 17

 

Ramadhan yang Bukan Sekadar “Bertahan”, Tapi Berubah

Ramadhan sering datang seperti tamu agung: kita sambut, kita hormati, lalu tiba-tiba ia pergi. Padahal, di bulan inilah hati paling mudah dilunakkan, dan kebiasaan paling mudah ditata ulang. Setelah memahami bahwa akhlak Nabi Muhammad SAW adalah Alquran, wajar bila para orang tua bertanya: “Bagaimana caranya agar Ramadhan anak saya bukan hanya penuh agenda, tapi juga penuh makna?”

Di Pesantren Daarul Mutqin, Anda bisa menghadiahkan Ramadhan yang lebih dalam melalui Dauroh Al Quran Ramadhan: “Healing with Qur’an”—ruang tenang di Puncak-Bogor yang sejuk, untuk mendekat, menguat, dan membangun adab bersama Alquran. Program ini fleksibel: bisa sehari hingga 40 hari, cocok untuk orang tua yang ingin menyesuaikan dengan jadwal keluarga dan sekolah. Anak usia SMP/SMA pun mendapat kesempatan merasakan suasana yang menjaga: tilawah per juz, tahsin-tahfidz, masjid yang hidup, serta momen tafakkur alam—agar Ramadhan mereka pulang bukan hanya membawa cerita, tapi juga membawa arah.

Dibimbing oleh Syaikh As’ad Humam, Lc., Al-Hafidz beserta para asatidz, dengan fasilitas yang nyaman untuk beribadah dengan tenang.

📲 Info Lanjut:

🔗 https://gentaqurani.id/dauroh-al-quran
📱 0813-9830-0644 | 0812-2650-2573
📌 Sirnagalih, Megamendung, Kab. Bogor, Jawa Barat 16770

Jika Anda ingin liburan sekolah anak menjadi titik balik yang lembut—lebih dekat dengan Qur’an, lebih tenang, dan lebih siap menatap masa depan—sekaranglah waktunya.



quran camp 2025 04 19

Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

✓ Link berhasil disalin!
Diterbitkan Dikategori Blog.
Tagar: 2026