Skip to main content
Masjid di Betong (Provinsi Yala), Thailand Selatan

Pendekatan Sufistik untuk Kesehatan Mental Remaja: Bagian 2

Bagian pertama telah memotret krisis yang tak lagi bisa kita tutup dengan kalimat “nanti juga membaik.” Data sudah bicara, dan di balik data itu ada anak-anak yang berusaha tampak baik-baik saja, padahal di dalamnya sedang ribut. Di titik inilah pendekatan sufistik—bila dipahami sebagai pendidikan jiwa yang terarah, bukan sekadar slogan—punya peluang menjadi pelengkap yang menenteramkan: ia tidak meniadakan peran layanan profesional, tetapi membantu remaja memiliki “pegangan batin” yang lebih kokoh. 

Secara global, kesehatan mental remaja juga menjadi perhatian serius: WHO menyebut sekitar 1 dari 7 remaja usia 10–19 tahun mengalami gangguan mental, dengan depresi, kecemasan, dan masalah perilaku sebagai penyebab utama disabilitas pada kelompok usia ini. Karena itu, ikhtiar kita perlu bertambah rapi: memperkuat sistem, mengurangi stigma, dan menghadirkan pendekatan yang dekat dengan kultur, bahasa hati, dan keyakinan keluarga.

Di Indonesia, temuan I-NAMHS menegaskan: 34,9% remaja 10–17 tahun melaporkan mental health problem dalam 12 bulan terakhir; kecemasan menjadi yang paling dominan. Namun hanya 2,6% remaja dengan masalah kesehatan mental yang mengakses layanan dukungan/konseling untuk problem emosional dan perilaku. Inilah yang sering disebut treatment gap—jarak antara kebutuhan dan pertolongan yang benar-benar diterima.

Maka, jika sekolah, pesantren, keluarga, dan komunitas bisa menghadirkan pendekatan ruhani yang sehat—terstruktur, ramah remaja, dan tetap merujuk saat perlu—ia dapat menjadi salah satu jembatan yang membantu menutup jarak itu. (Laporan lengkapnya bisa Anda baca pada melalui tautan I-NAMHS: Indonesia – National Adolescent Mental Health Survey.)

DAFTAR ISI

Implikasi Praktis Pendidikan Sufistik

Studi Kasus di Yala, Thailand Selatan

Bangunan pondok sekolah di Narathiwat Thailand Selatan

Gambar: Ilustrasi lingkungan pondok di Thailand Selatan (Narathiwat)

Thamavittaya Mulniti School berada di Yala—wilayah komunitas Muslim Melayu Patani yang kuat di Thailand Selatan. Sekolah ini menampung siswa menengah pertama dan menengah atas dari latar sosial ekonomi beragam, dengan mayoritas berasal dari keluarga Muslim pedesaan dan perkotaan menengah ke bawah. Secara umum, para remaja tampak memiliki semangat belajar tinggi dan keterikatan terhadap nilai agama serta keluarga.

Namun—dan ini penting—lingkungan yang religius tidak otomatis membuat semua problem batin hilang. Observasi dan wawancara (dengan guru dan siswa) menunjukkan tantangan kesehatan mental tetap signifikan, terutama karena pengaruh sosial, tekanan akademik, dan posisi sebagai minoritas di negara mayoritas non-Muslim. Mereka hidup dalam “dua dunia”: sebagai warga negara Thailand dan sebagai bagian dari komunitas Muslim Melayu. Kompleksitas identitas ganda ini dapat melahirkan konflik batin, terutama saat mereka berinteraksi dengan lingkungan luar yang lebih sekuler.

Di sebagian wilayah Yala, dinamika keamanan yang belum sepenuhnya stabil juga menambah lapis kecemasan laten terkait situasi sosial-politik. Situasi semacam ini membuat kebutuhan akan dukungan emosional dan lingkungan sekolah yang aman secara psikologis menjadi makin terasa, bukan sekadar teori.

Pengabdian masyarakat di Thamavittaya Mulniti School menunjukkan keberhasilan pendekatan pendidikan spiritual berbasis sufistik, dengan melibatkan guru, konselor sekolah, ustadz pembimbing, serta perwakilan remaja. Program utama pesantren diintegrasikan ke dalam kegiatan sekolah, lalu diamati dinamika dan dampaknya.

Intinya: pendekatan sufistik di sini tidak diposisikan sebagai “jalan pintas,” melainkan latihan batin yang membantu remaja menemukan pijakan saat dunia luar menekan.

Nilai inti: muhasabah, dzikrullah, mujahadah

Ada tiga kata kunci yang berulang sebagai fondasi:

  • muhasabah (introspeksi diri): remaja diajak belajar membaca diri—apa yang membuatnya marah, cemas, iri, atau merasa tidak cukup. Ini bukan mengadili diri, tetapi mengenali luka dan arah perbaikan.

  • dzikrullah (mengingat Allah): dzikir dipraktikkan sebagai rutinitas yang menurunkan “kebisingan batin,” menata napas, menenangkan pikiran, dan menguatkan rasa ditopang oleh Yang Maha Mengetahui.

  • mujahadah (kesungguhan melawan hawa nafsu): remaja belajar menunda impuls, mengelola reaksi, dan tidak selalu tunduk pada dorongan sesaat—baik dorongan marah, mencari pelarian, maupun kebutuhan pengakuan.

Dalam bahasa yang lebih sederhana: muhasabah mengajarkan jujur pada diri, dzikrullah mengajarkan kembali pada Allah, dan mujahadah mengajarkan disiplin yang lembut tapi tegas. Tiga-tiganya menyuburkan kontrol emosi dan ketenangan batin—dua bekal yang sering rapuh pada masa remaja.

Secara praktis, aktivitas spiritual ini menumbuhkan keseimbangan emosional melalui rutinitas refleksi dan dzikir yang terstruktur. Remaja menjadi lebih punya “ruang jeda” sebelum bereaksi; stres dan kecemasan menurun; identitas batin lebih kokoh, terutama dalam konteks minoritas.

Bila Anda ingin merujuk sudut pandang global tentang kerentanan remaja, Anda bisa merujuk laman WHO tentang kesehatan mental remaja.

Dampak yang dilaporkan: stabilitas emosional (95,2%)

Hasil penelitian pengabdian ini melaporkan peningkatan stabilitas emosional remaja yang terukur dengan skor rata-rata 95,2%. Angka ini memperlihatkan sinyal kuat bahwa program yang terstruktur—dengan pendamping, ritme yang jelas, dan budaya sekolah yang mendukung—dapat memperbaiki kondisi psikologis remaja secara bermakna.

Namun, di sini kita juga perlu adil: angka tinggi tidak boleh membuat kita tergelincir pada klaim serba-mujarab. Kekuatan pendekatan sufistik terletak pada konsistensinya: ia menata kebiasaan batin, membangun dukungan sosial, dan memberi bahasa spiritual yang dipahami keluarga—bukan menggantikan kebutuhan rujukan ketika gejala sudah berat.


Integrasi Pendekatan Spiritual Sufistik dalam Sistem Pendidikan Indonesia

Treatment gap layanan mental remaja & peran sekolah

Anak belajar membaca Al Quran bersama gurunya

Gambar: Momen belajar mengaji guru–murid: teladan pendampingan yang lembut, terstruktur, dan menenangkan

Kita kembali pada kenyataan Indonesia: temuan I-NAMHS menunjukkan lebih dari sepertiga remaja mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir, dan kecemasan adalah yang paling dominan. Tetapi hanya sebagian sangat kecil yang mengakses layanan dukungan/konseling.

Dalam keadaan seperti ini, sekolah sering menjadi pintu pertama—kadang satu-satunya—yang diketuk remaja. I-NAMHS bahkan mencatat, di antara remaja yang mengakses layanan, penyedia yang paling sering digunakan adalah staf sekolah (diikuti dokter/perawat, lalu pemuka agama). Ini memberi pesan jelas: sekolah bukan hanya tempat belajar matematika dan bahasa, tetapi juga ruang hidup yang menentukan arah selamatnya batin remaja.

Masalahnya, kemampuan intervensi di sekolah masih sering sporadis: tergantung pengalaman personal, tidak seragam, dan tidak selalu punya standar rujukan yang aman. Maka integrasi pendekatan spiritual—termasuk pendekatan sufistik—dapat menjadi lapisan pendamping yang melengkapi layanan formal yang belum memadai.

Sebagai rujukan ringkas berbahasa Indonesia yang mudah dipahami keluarga, Anda bisa merujuk data I-NAMHS di artikel Kemenkes: Pentingnya Kesehatan Mental bagi Remaja.

Format implementasi: pelatihan murabbi, kelompok sebaya, ruang aman

Pendekatan spiritual sufistik memiliki karakter khas: pembinaan jiwa, penguatan kesadaran diri, dan penanaman ketenangan batin melalui praktik seperti dzikir, tafakkur, mahabbah (cinta), dan muhasabah. Jika ini ingin dibawa ke sekolah/pesantren di Indonesia, formatnya perlu dibuat sederhana, realistis, dan bisa dijalankan tanpa membebani guru.

Berikut contoh rancangan implementasi yang bisa diadaptasi:

  1. Pelatihan guru sebagai pembimbing ruhani (murabbi)
    Bukan berarti semua guru berubah menjadi konselor klinis. Murabbi di sini adalah guru yang:

    • paham dasar literasi kesehatan mental (tanda risiko, cara merespons, kapan merujuk),

    • bisa memandu praktik sederhana: dzikir terstruktur, muhasabah singkat, adab komunikasi,

    • menjaga kerahasiaan dan etika pendampingan.

  2. Kelompok sebaya berbasis dzikir dan diskusi spiritual
    Remaja sering lebih berani bicara pada teman. Kelompok kecil (6–10 orang) dapat difasilitasi dengan agenda ringan:

    • “check-in emosi” 5 menit (tanpa menghakimi),

    • dzikir/napas 7–10 menit,

    • satu tema: sabar, syukur, memaafkan, mengelola marah,

    • penutup: doa dan komitmen kecil pekanan.

  3. Ruang aman untuk refleksi emosional
    Ruang aman bukan tempat drama, tetapi tempat remaja merasa “boleh rapuh” tanpa dipermalukan. Prinsipnya:

    • tidak membocorkan cerita pribadi,

    • tidak menertawakan,

    • fokus solusi kecil dan dukungan,

    • clear pathway untuk rujukan jika ada tanda bahaya.

  4. Standar rujukan dan kolaborasi
    Di sinilah pentingnya garis tegas: pendekatan sufistik sebagai pendamping, bukan pengganti. Jika muncul gejala berat (misalnya dorongan menyakiti diri, depresi berat, gangguan fungsi, kekerasan, penyalahgunaan zat), sekolah harus punya jalur rujukan ke layanan profesional.

Dengan format seperti ini, pendekatan sufistik berfungsi preventif sekaligus suportif: membangun regulasi emosi, ketangguhan psikologis, dan kecerdasan spiritual. Ia membentuk kebiasaan “kembali”—kembali kepada akal sehat, kembali kepada adab, kembali kepada Allah—saat dunia remaja terlalu cepat dan terlalu bising.

Arah kebijakan & kolaborasi lintas kementerian

Santri Indonesia mengaji bersama setelah shalat wajib

Gambar: Santri di pesantren Indonesia membaca Al-Qur’an

Integrasi ini juga sejalan dengan dorongan pendekatan multisektor: pendidikan–kesehatan–layanan sosial. Dalam dokumen studi latar RPJMN 2025–2029 bidang pemuda, misalnya, disebut perlunya layanan preventif kesehatan mental melalui penciptaan lingkungan yang mendukung kesejahteraan mental, termasuk dorongan ketersediaan sekolah ramah kesehatan mental. Anda bisa merujuk dokumen Background Study RPJMN 2025–2029 Bidang Pemuda (Bappenas).

Dari sisi pendidikan karakter, gagasan tentang pembentukan kepribadian yang utuh juga pernah ditekankan Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin: spiritualitas bukan ritual kosong, melainkan jalan membentuk manusia yang lebih matang. Untuk rujukan ringkas yang otoritatif, Anda bisa melihat ke laman Britannica tentang Ihya’ Ulum al-Din.

Sementara pemikir modern seperti Haedar Nashir (2013) memperluas pembacaan pendidikan karakter agar relevan menghadapi krisis sosial-spiritual kontemporer. Jika Anda memerlukan rujukan katalog akademik, Anda dapat merujuk ke halaman repositori “Pendidikan Karakter Berbasis Agama & Budaya” (Haedar Nashir, 2013).

Ke depan, kolaborasi Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, lembaga riset, dan institusi keagamaan menjadi kunci untuk mereplikasi program-program berbasis sufistik secara lebih luas—dengan tetap menjaga standar rujukan, pelatihan pendamping, dan evaluasi yang jujur. Investasi di bidang ini berpotensi mengurangi risiko gangguan mental kronis saat dewasa, menekan beban sosial-ekonomi, serta menumbuhkan generasi muda yang tangguh secara psikologis, matang secara spiritual, dan selaras dengan arah besar Indonesia Emas 2045.

Dan pada akhirnya, kita ingin remaja tidak hanya “lulus ujian,” tetapi juga lulus dari kebiasaan memendam sendiri. Kita ingin mereka tahu: ada jalan kembali—melalui ilmu, melalui keluarga, melalui komunitas, dan melalui Allah—dengan cara yang lembut, manusiawi, dan bisa

 

Catatan atribusi: Tulisan ini merupakan parafrase dan pengembangan dari artikel “Peluang Pendekatan Sufistik untuk Kesehatan Mental Remaja” karya DR. KH. Saiful Falah, M.Pd.I (Pengasuh Pesantren Ummul Quro Al Islami Bogor) dengan editor Erdy Nasrul, terbit 1 Desember 2025 di Republika.

Healing with Qur’an: Liburan yang Menenangkan Hati Remaja

 

dauroh dan quran camp 25 04 17

 

Sesudah membaca bahwa sekolah bisa menjadi “pintu pertama” saat remaja tertekan, kita jadi paham: yang dibutuhkan anak SMP/SMA bukan sekadar nasihat panjang, tetapi ruang aman untuk bernapas—ruang yang menata emosi, menguatkan makna, dan mendekatkan hati pada Al-Qur’an.

Jika Anda ingin menghadiahkan anak liburan yang bukan hanya seru, tapi juga menyehatkan batin, Dauroh Al-Qur’an Pesantren Daarul Mutqin “Healing with Qur’an (1 Bulan Hafal 30 Juz Perdana)” bisa menjadi ikhtiar yang lembut.

Yang membuatnya nyaman untuk keluarga:

  • 🌿 Lokasi Puncak–Bogor yang sejuk dan asri (cocok untuk menenangkan pikiran)

  • ⏳ Durasi fleksibel: bisa ikut sehari hingga 40 hari

  • 👳‍♂️ Pembimbing utama Syaikh As’ad Humam, Lc., Al-Hafidz (Alumni Al-Azhar, pewaris sanad Al-Qur’an)

  • 🕌 Fasilitas lengkap: masjid, penginapan, aula, lapangan, kolam renang, hingga area tafakkur alam

Program ini cocok untuk liburan sekolah, komunitas/lembaga, Ramadhan, atau tahsin–tahfidz akhir pekan. Biaya pun fleksibel dan bisa disesuaikan kebutuhan.

Bila Anda ingin mulai dari tanya-tanya dulu, silakan lihat info lengkap di [Dauroh Al-Qur’an Daarul Mutqin – Healing with Qur’an] atau hubungi WhatsApp 0813-9830-0644 / 0812-2650-2573 (Sirnagalih, Megamendung, Bogor).



quran camp 2025 04 19

Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

✓ Link berhasil disalin!
Diterbitkan Dikategori Sains dan Pendidikan.