Nasihat Nabi Muhammad SAW yang Mengantarkan ke Surga: “Jangan Marah”
Cepat marah termasuk salah satu tabiat orang bodoh.
Kalimat itu terdengar tegas, bahkan keras. Namun ia seperti cermin yang jujur: menampilkan wajah kita saat hati sedang panas, lidah kehilangan rem, dan akal tertinggal di belakang.
Ada seorang sahabat yang datang kepada Rasulullah SAW dengan sebuah permintaan yang sederhana—sederhana di kalimat, besar di tujuan. Ia tidak meminta harta, tidak meminta jabatan, tidak pula meminta jalan pintas untuk disanjung manusia. Ia meminta satu hal: amalan yang mengantarkannya ke surga, tetapi jangan banyak-banyak.
Di situlah kita melihat betapa Nabi Muhammad SAW memahami manusia. Beliau tidak sekadar memberi jawaban yang “benar”, tetapi memberi jawaban yang menyentuh tepat pada sumber penyakitnya.
DAFTAR ISI
- Permintaan yang Singkat, Jawaban yang Mengubah Hidup
- Nabi Muhammad SAW, Sang “Dokter” yang Mengerti Penyakit Hati
- Mengapa “Jangan Marah” Begitu Besar Nilainya?
- Marah yang Dilarang, dan Marah yang Dibenarkan
- Saat Allah Memerintahkan: Menjauh dari Amarah
- Mengingat Keperkasaan Allah Membuat Marah Mengecil
- Kisah Ibnu Zubair: Memaafkan yang Membuat Langit Terasa Dekat
- Dampak Marah: Retak yang Berawal dari Hal Remeh
- Latihan Praktis Menjaga Diri dari Marah
- Jalan ke Surga Kadang Dijaga oleh Lidah dan Hati
- Daftar Referensi
- Kembali kepada Qur’an: Ikhtiar Menenangkan Hati yang Membara
Permintaan yang Singkat, Jawaban yang Mengubah Hidup
Dikisahkan bahwa Abu Darda berkata, "Aku pernah bertanya, 'Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga, namun jangan banyak-banyak’." Nabi Muhammad SAW menjawab, "Jangan marah."
Jawaban itu pendek. Namun pada kalimat pendek itu, hidup bisa berubah arah.
Wasiat ini datang dari Nabi Muhammad SAW dengan riwayat yang bermacam-macam. Imam Al-Bukhari telah meriwayatkan di dalam haditsnya, dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW pernah dimintai nasihat oleh seorang laki-laki.
Laki-laki itu berkata kepada Rasulullah SAW, "Nasihatilah aku." Rasulullah SAW menjawab, “Jangan marah!"
Di dalam satu riwayat disebutkan, bahwa si penanya mengulang-ulang terus permintaannya kepada Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW juga mengulang-ulang dan meyakinkan jawaban dengan sabda beliau, "Jangan marah."
Dan inilah pelajaran yang sering luput: wasiat ini bukan hanya untuk Abu Darda, bukan hanya untuk Abu Hurairah, bukan hanya untuk seseorang di masa lalu. Ia adalah wasiat untuk setiap orang yang menisbatkan dirinya sebagai umat Nabi Muhammad SAW—untuk kita yang hidup hari ini, yang dikejar waktu, dihimpit urusan, disergap pesan yang bertubi-tubi, dan kadang… dipantik oleh hal remeh.
Nabi Muhammad SAW, Sang “Dokter” yang Mengerti Penyakit Hati
Nabi Muhammad SAW adalah seorang dokter yang memahami betul suatu penyakit dan menerangkan obatnya. Dulu, banyak sahabat yang senantiasa mendatangi Rasulullah SAW untuk meminta nasihat. Maka Rasulullah SAW bersabda, "Bertakwalah kepada Allah."
Sahabat yang lain juga mendatangi Nabi Muhammad SAW dan berkata, "Nasihatilah aku wahai Rasulullah." Maka Rasulullah SAW bersabda, "Berbaktilah kepada ibumu."
Sahabat yang lain juga mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, "Nasihatilah aku wahai Rasulullah." Maka Rasulullah SAW bersabda, "Pergilah berjihad."
Setiap orang datang dengan luka yang berbeda. Maka obatnya pun berbeda. Beliau mengetahui unsur utama manusia serta dapat mendiagnosis sebuah penyakit dan menerangkan obatnya kepadanya.
Ada yang penyakitnya lemah dalam takwa. Ada yang belum menunaikan hak berbakti kepada ibu. Ada yang perlu menguatkan keberanian dan pengorbanan melalui jihad. Dan ada yang—tanpa disadari—rusaknya banyak pintu kebaikan karena satu hal: marah.
Mengapa “Jangan Marah” Begitu Besar Nilainya?

Marah bukan sekadar letupan emosi. Ia bisa menjadi pintu yang membuka banyak kerusakan sekaligus:
-
Ia membuat seseorang berbicara tanpa menimbang.
-
Ia mendorong tangan bergerak tanpa adab.
-
Ia menggiring akal menepi, sementara nafsu memimpin.
Bahkan, marah sering meminjam topeng “kebenaran”, padahal ia hanya ingin menang. Marah sering mengaku “demi harga diri”, padahal ia sedang menuntut balas. Marah sering mengatasnamakan “ketegasan”, padahal ia kehilangan kasih sayang.
Dalam keadaan marah, manusia bisa melampaui batas. Ia menyesal belakangan. Namun kata-kata yang terlanjur keluar, kadang tidak bisa dipanggil pulang.
Karena itu, nasihat “Jangan marah” bukan sekadar anjuran sopan. Ia adalah penjagaan atas akhlak mulia, penjagaan atas keluarga, penjagaan atas persahabatan, penjagaan atas persatuan umat.
Marah yang Dilarang, dan Marah yang Dibenarkan
Sikap marah keberadaannya tidak boleh dilakukan karena urusan-urusan yang remeh atau sepele. Akan tetapi, ia hanya boleh dilakukan karena Allah semata. Marah di jalan Allah, marah jika kehormatan Allah dinodai, serta marah untuk menjaga syariat Allah dan menolong agama Allah, dikutip dari buku Wasiat Rasul Buat Lelaki yang ditulis Muhammad Khalil Itani.
Di sini kita belajar membedakan:
1) Marah karena diri sendiri
Marah karena tersinggung. Marah karena tidak dihormati. Marah karena kalah debat. Marah karena merasa dipermalukan. Ini biasanya cepat menyala, cepat membakar, dan meninggalkan asap panjang.
2) Marah karena Allah
Marah yang berangkat dari kecintaan pada kebenaran, bukan dari ego. Namun tetap terikat oleh adab dan batas syariat. Bukan marah yang membabi buta. Bukan marah yang melahirkan kezaliman.
Kalau marah karena diri sendiri sering menuntut balas, marah karena Allah justru menuntut keadilan dan perbaikan—tanpa kehilangan kendali.
Saat Allah Memerintahkan: Menjauh dari Amarah
Jika kehinaan amarah dan syahwat balas dendam bisa menyebabkan keluarnya (seseorang) dari nilai-nilai Islam serta prinsip-prinsip, keutamaan-keutamaan, dan akhlak Islam yang mulia. Maka Allah telah berfirman menjelaskan (kewajiban) menjauh dari amarah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ
Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh. (TQS. Al-A‘raf: 199)
Perhatikan urutannya: pemaaf, lalu mengajak pada yang makruf, lalu berpaling dari kebodohan. Seakan Al-Qur’an sedang mengajari kita langkah-langkah menutup pintu amarah:
-
Lapangkan dada: jadilah pemaaf.
-
Pegang prinsip: ajak pada yang makruf.
-
Jangan buang energi: berpaling dari orang-orang bodoh.
Di titik ini, “Jangan marah” bukan hanya soal menahan emosi—tetapi soal memilih jalan yang diridhai Allah.
Mengingat Keperkasaan Allah Membuat Marah Mengecil
Seorang Muslim yang ingat bahwa Allah Maha Perkasa dan mempunyai balasan (siksa) serta kekuasaan-Nya melebihi segala kekuasaan apapun, tentu ia tidak akan berpikir untuk marah.
Sebab apa yang kita kejar saat marah?
Sering kali kita ingin “membalas sekarang”. Padahal di hadapan Allah, tidak ada satu pun yang luput. Jika kita yakin Allah Maha Melihat, maka kita tidak perlu menjadikan amarah sebagai hakim. Kita cukup menjadikan Allah sebagai tujuan, dan syariat sebagai penuntun.
Kisah Ibnu Zubair: Memaafkan yang Membuat Langit Terasa Dekat
Diriwayatkan, ada seorang laki-laki yang melakukan suatu perbuatan dosa atau suatu kesalahan. Lalu, sahabatnya membawa dirinya kepada Ibnu Zubair. Maka, Ibnu Zubair meminta cemeti dan tongkat untuk memukulnya sebagai hukuman.
Laki-laki itu berkata kepada Ibnu Zubair, “Saya meminta kepadamu dengan Dzat yang ketika berada di hadapan-Nya kelak pada hari kiamat kamu lebih hina daripada diriku saat berada di hadapan-Nya, agar kamu memaafkan aku."
Kalimat itu menghunjam. Ia mengingatkan bahwa semua kita, tanpa kecuali, akan berdiri di hadapan Allah. Di sana, jabatan dan wibawa runtuh. Yang tersisa hanya amal, dan rahmat Allah.
Maka, Ibnu Zubair turun dari singgasananya dan menempelkan pipinya di atas tanah seraya berkata kepada laki-laki tersebut, "Sungguh aku telah memaafkanmu.”
Begitulah orang berakal: ia tidak sekadar kuat menahan tangan, tetapi juga kuat menundukkan ego. Ia memilih memaafkan, karena ia ingin dimaafkan.
Dan bukankah itu doa yang diam-diam sering kita bawa dalam sujud?
Dampak Marah: Retak yang Berawal dari Hal Remeh

Jika kamu meneliti dampak dan akibat marah, kamu akan mendapati akibat buruk dan dampak negatifnya. Di antaranya, bisa mengoyak-ngoyak persatuan di antara masyarakat, memecah belah jamaah, menumbuhkan jiwa permusuhan dan kebencian di antara manusia, serta menebarkan jiwa saling membelakangi dan saling memutuskan hubungan di dalam masyarakat.
Marah yang tidak terkelola sering melahirkan:
-
rumah tangga yang dingin,
-
pertemanan yang patah,
-
jamaah yang pecah,
-
kerja sama yang runtuh.
Padahal banyak luka bermula dari satu kalimat yang keluar saat emosi memuncak. Satu kalimat, lalu bertahun-tahun diam.
Karena itu, cepat marah termasuk salah satu tabiat orang bodoh, sebagaimana menjauhi marah termasuk sikap orang yang berakal.
Latihan Praktis Menjaga Diri dari Marah
Wasiat Nabi Muhammad SAW adalah kompas. Namun kompas perlu langkah. Berikut beberapa latihan yang bisa menolong kita, terutama bagi pecinta Al-Qur’an yang ingin akhlaknya dibentuk oleh wahyu:
-
Kenali pemantik amarah
Kadang amarah muncul bukan karena masalah besar, tapi karena lelah, lapar, atau terlalu banyak beban. Mengenal pemantik membuat kita lebih waspada. -
Tunda respons, bukan tunda masalah
Banyak kerusakan lahir karena respons yang terlalu cepat. Menunda respons bukan berarti membiarkan kesalahan, tetapi memberi waktu agar akal kembali memegang kendali. -
Ganti tujuan: dari menang menjadi benar
Saat tujuan kita “menang”, amarah mudah menjadi kendaraan. Saat tujuan kita “benar” dan “memperbaiki”, hati lebih mudah tenang. -
Latih kalimat penenang
Ucapkan dalam hati: “Aku ingin Allah ridha.” Kalimat sederhana ini sering cukup untuk mengempiskan emosi. -
Dekatkan diri pada Al-Qur’an sebagai pengasuh jiwa
Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk membentuk watak. Saat hati akrab dengan ayat-ayat rahmah, amarah terasa asing untuk dipelihara.
Jalan ke Surga Kadang Dijaga oleh Lidah dan Hati

Ada orang yang rajin ibadah, namun lisannya melukai. Ada orang yang banyak amal, namun emosinya memadamkan cahaya akhlak. Maka Rasulullah SAW memberi nasihat yang ringkas, tetapi seperti pagar yang melindungi kebun kebaikan: "Jangan marah."
Bila kita sungguh ingin berjalan menuju surga, mungkin kita tidak selalu butuh amalan yang banyak. Kita butuh amalan yang menjaga amalan-amalan lain agar tidak hangus.
Dan marah—jika tidak ditata—sering menjadi api yang membakar diam-diam.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang berakal: menahan diri, memaafkan, mengajak pada yang makruf, dan berpaling dari kebodohan. Semoga Allah menjaga akhlak kita, sebagaimana Dia menjaga kehormatan agama-Nya.
Daftar Referensi
Tulisan ini diparafrasekan dari artikel “Nasihat Nabi Muhammad SAW yang Mengantarkan ke Surga” dengan keterangan: Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Muhammad Hafil | Ahad 18 Jan 2026.
Kembali kepada Qur’an: Ikhtiar Menenangkan Hati yang Membara
Setelah kita paham betapa besar dampak marah—pada lisan, hubungan, bahkan kualitas ibadah—muncul pertanyaan yang lebih lembut namun penting: bagaimana hati dilatih agar tidak mudah meledak? Terutama pada anak usia SMP/SMA, ketika emosi sedang kuat-kuatnya, pergaulan makin luas, dan mereka butuh ruang aman untuk bertumbuh. Di sinilah Al-Qur’an bukan hanya dibaca, tetapi dihidupi—pelan-pelan, hari demi hari, sampai ia menjadi penuntun saat jiwa diuji.
Dauroh Al-Qur’an Daarul Mutqin: “Healing with Qur’an” hadir sebagai ikhtiar sederhana namun dalam: memberi kesempatan bagi Anda dan keluarga untuk “berdiam sejenak” dari hiruk-pikuk, lalu mengisi hari dengan tilawah per juz, tahsin, tahfidz, dan tafakkur alam di sejuknya Puncak–Bogor. Program ini dibimbing oleh Syaikh As’ad Humam, Lc, Al-Hafidz (Alumni Al-Azhar; pewaris sanad Al-Qur’an 30 juz qira’ah Imam ‘Ashim riwayat Hafs dan Syu’bah), bersama asatidz yang kompeten di bidang Qur’an.
Durasi fleksibel—bisa ikut sehari hingga 40 hari, kapasitas hingga 150 orang, dan biaya dapat disesuaikan kebutuhan. Fasilitasnya pun lengkap dan nyaman: masjid, penginapan berasrama, aula, lapangan luas, kolam renang, hingga suasana alam yang mengundang tenang. Jika Anda sedang berharap anak pulang dengan hati yang lebih teduh, adab yang lebih terjaga, dan cinta Qur’an yang lebih kokoh, semoga ini menjadi jalan yang Allah mudahkan.
📲 Info & Reservasi:
🔗 https://gentaqurani.id/dauroh-al-quran
📱 0813-9830-0644 | 0812-2650-2573
📌 Sirnagalih, Megamendung, Kab. Bogor, Jawa Barat 16770
Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

