2 Perkara Paling Ditakuti Rasulullah SAW dan Tanda Cinta Allah SWT untuk Hamba
Ada kalimat yang sering terdengar di sekitar kita, kadang diucapkan sambil tersenyum, kadang dengan nada bangga: “Kalau rezeki lancar, berarti Allah sayang.” Seakan-akan kelapangan hidup adalah stempel langit, dan kekayaan dunia adalah bukti paling nyata bahwa seseorang sedang dirangkul rahmat.
Padahal, ukuran kasih sayang Allah SWT tidak sesederhana itu. Dunia bisa datang kepada siapa pun: kepada yang taat maupun yang lalai, kepada yang menundukkan diri maupun yang menuruti diri. Dan di tengah kenyataan itu, kita perlu kembali kepada neraca yang lebih jernih: neraca yang ditaruh Rasulullah SAW di hadapan umatnya—neraca yang menimbang arah hati, bukan tebalnya dompet.
Di sinilah kuncinya: tanda cinta Allah SWT akan tampak dari kecenderungan seorang hamba pada akhirat. Ketika hati makin akrab dengan amal, makin mudah menahan diri, dan makin sadar bahwa hidup ini perjalanan—bukan pesta tanpa akhir.
DAFTAR ISI
- Kelapangan Dunia Bukan Selalu Isyarat Cinta
- Dua Perkara yang Paling Rasulullah SAW Khawatirkan
- Mengikuti Hawa Nafsu: Jalan Pintas yang Memalingkan dari Kebenaran
- Panjang Angan-angan: Cinta Dunia yang Tumbuh Tanpa Disadari
- Tanda Cinta Allah SWT: Iman yang Ditanamkan dalam Hati
- Anak-anak Agama vs Anak-anak Dunia
- Cara Praktis Menjaga Hati dari Dua Arus Itu
- Dunia Akan Menjauh, Akhirat Pasti Mendekat
- Dauroh Al-Qur’an: Hadiah Terindah untuk Hati dan Masa Depan Anak
Kelapangan Dunia Bukan Selalu Isyarat Cinta
Banyak orang mengira, “Jika Allah memberi banyak, berarti Allah ridha.” Namun Rasulullah SAW menegaskan sesuatu yang membuat kita menunduk: Allah SWT dapat memberikan kekayaan dunia kepada hamba yang dicintai-Nya dan kepada hamba yang dibenci-Nya. Sementara iman—yang menegakkan langkah, membenahi niat, dan menuntun pilihan—itu karunia yang tidak dibagi rata.
Maknanya tegas: dunia bukan ukuran, bukan pula garansi. Ia hanya alat, kadang menjadi ujian yang halus, kadang menjadi cobaan yang keras. Ia bisa mengangkat seseorang, atau menenggelamkannya—tergantung bagaimana ia memegangnya.
Karena itu, ketika kelapangan datang, yang perlu diburu bukan sekadar rasa aman, tetapi rasa takut yang menyehatkan: takut kalau-kalau kita malah jauh. Dan ketika sempit menghimpit, yang perlu dijaga bukan sekadar sabar, tetapi prasangka baik yang lurus: semoga Allah sedang mendidik hati.
Dua Perkara yang Paling Rasulullah SAW Khawatirkan
Sayyidina Ali bin Abu Thalib RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
إنَّ أشدَّ ما أخافُ عليكم خصلتانِ اتباعُ الهوى وطولُ الأملِ فأما اتباعُ الهوى فإنَّهُ يصدُّ عن الحقِّ وأما طولُ الأملِ فإنَّهُ الحبُّ للدنيا ثم قال : ألا إنَّ اللهَ تعالَى يُعطي الدنيا من يحبُّ ويبغضُ وإذا أحبَّ عبدًا أعطاه الإيمانَ ألا إنَّ للدينِ أبناءً وللدنيا أبناءً فكونوا من أبناءِ الدِّينِ ولا تكونوا من أبناءِ الدنيا ألا إنَّ الدنيا قد ارتحلتْ مُولِّيةً ألا إنَّ الآخرةَ قد ارتحلت مُقبلةً ألا وإنَّكم في يومِ عملٍ ليس فيه حسابٌ ألا وإنكم تُوشكونَ في يومِ حسابٍ ليس فيه عملٌ.
"Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian ada dua, yaitu mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu, maka hal itu menghalangi dari kebenaran. Sedangkan panjang angan-angan menumbuhkan kecintaan kepada dunia.”
Kemudian Rasulullah SAW bersabda, "Ketahuilah, sesungguhnya Allah SWT memberikan dunia kepada orang yang dicintai-Nya maupun kepada orang yang dibenci-Nya. Namun apabila Dia mencintai seorang hamba, Dia akan menganugerahinya iman."
"Ketahuilah, sesungguhnya agama memiliki anak-anak (para pengikut) dan dunia pun memiliki anak-anak (para pengikut). Maka jadilah kalian termasuk anak (pengikut) agama dan janganlah menjadi anak (pengikut) dunia."
"Ketahuilah, sesungguhnya dunia telah pergi dengan membelakangi, dan sesungguhnya akhirat sedang datang dengan mendatangi. Ingatlah dirimu pada hari beramal tanpa perhitungan. Ingatlah hampir-hampir kamu ada pada hari perhitungan yang tidak ada kesempatan beramal (akhirat)." (HR Imam Ibnu Abi ad-Dunya)
Hadits ini menyimpan peringatan yang tajam, namun penuh kasih. Rasulullah SAW tidak sedang menakut-nakuti agar kita putus asa. Beliau mengingatkan agar kita sadar: ada dua arus yang paling mudah menyeret manusia—hawa nafsu dan panjang angan-angan.
Dan jika dua arus itu dibiarkan, pelan-pelan kita akan mencintai dunia dengan cara yang keliru: bukan lagi menjadikannya sarana, melainkan tujuan.
Mengikuti Hawa Nafsu: Jalan Pintas yang Memalingkan dari Kebenaran
Mengikuti hawa nafsu bukan selalu berarti maksiat besar yang terlihat. Kadang ia hadir dalam bentuk yang tampak “biasa”:
-
memilih yang enak, meski tidak tepat,
-
membela diri, meski salah,
-
menunda taat, demi kenyamanan sesaat,
-
mencari pujian, sambil menyembunyikan niat.
Rasulullah SAW menyebutnya jelas: ia “menghalangi dari kebenaran.” Artinya, ketika nafsu memimpin, kebenaran menjadi terasa berat, nasihat terasa mengganggu, dan perintah terasa seperti beban. Yang dulu ringan—seperti shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, menjaga lisan—perlahan jadi perjuangan yang ditawar-tawar.
Di titik ini, kita mengerti mengapa iman begitu berharga. Iman bukan sekadar “tahu” bahwa Allah ada. Iman adalah kekuatan batin yang membuat seseorang sanggup berkata: “Tidak. Ini bukan untukku.” Ia menahan tangan, menuntun langkah, dan menjaga hati.
Panjang Angan-angan: Cinta Dunia yang Tumbuh Tanpa Disadari

Perkara kedua yang ditakuti Rasulullah SAW adalah “panjang angan-angan.” Ini bukan larangan untuk punya rencana. Islam tidak mengajarkan umatnya hidup tanpa ikhtiar. Namun “panjang angan-angan” yang dimaksud adalah ketika seseorang memanjangkan harapan dunia sampai lupa bahwa waktunya terbatas.
Panjang angan-angan membuat kita berkata dalam hati:
-
“Nanti saja taubatnya…”
-
“Nanti saja seriusnya…”
-
“Nanti saja baca Qur’annya…”
-
“Nanti saja sedekahnya…”
-
“Nanti saja berubahnya…”
Padahal, “nanti” tidak pernah berjanji. Yang ada hanyalah hari ini: hari beramal. Dan yang menanti adalah hari perhitungan.
Kalimat Rasulullah SAW dalam hadits itu seperti pukulan lembut yang membangunkan: kita sedang berada di “hari kerja tanpa hisab”, sementara kita akan sampai pada “hari hisab tanpa kerja.” Dunia ini ladang; akhirat itu panen. Dan tidak ada panen tanpa menanam.
Tanda Cinta Allah SWT: Iman yang Ditanamkan dalam Hati
Bagian paling meneduhkan dari hadits itu adalah penegasan tentang tanda cinta Allah SWT: iman. Dunia dapat Allah berikan kepada siapa pun. Tetapi ketika Allah mencintai seorang hamba, Allah menganugerahkan iman kepadanya.
Inilah yang ditekankan para ulama. Imam Al-Ghazali—yang dikenal dengan gelar Hujjatul Islam Zainuddin al-Thusi—menjelaskan dalam Ihya Ulumuddin bahwa karunia iman adalah penanda kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya. Pembahasan tentang warisan besar pemikiran beliau banyak dirujuk dalam kajian-kajian tentang tazkiyatun nafs dan perbaikan hati, sebagaimana dikenal luas dalam literatur tentang Imam Al-Ghazali.
Maka, ketika seseorang dipilih untuk merasakan manisnya iman—meski hidupnya sederhana—itu bukan hal kecil. Itu tanda Allah sedang mengundang, bukan sekadar memberi.
Dan sebaliknya, ketika dunia berlimpah namun iman terasa kering—ini bisa menjadi alarm yang harus didengar, bukan diabaikan.
Anak-anak Agama vs Anak-anak Dunia
Rasulullah SAW menggambarkan seolah ada dua keluarga besar: agama dan dunia. Keduanya punya “anak-anak”—para pengikut, para pecinta, para pembela.
Menjadi “anak agama” bukan berarti membenci dunia. Tetapi menempatkan dunia di tangan, bukan di dada. Dunia dipakai untuk taat, bukan untuk sombong. Dunia dijadikan jalan, bukan tempat menetap.
Ciri “anak dunia” sering samar, karena ia bisa berpakaian baik dan berbicara manis. Tetapi tanda-tandanya bisa dikenali:
-
mudah gelisah saat kehilangan hal duniawi,
-
sulit tenang tanpa pengakuan manusia,
-
cepat menunda ibadah, tetapi cekatan mengejar urusan dunia,
-
merasa cukup dengan capaian, tapi jarang merasa cukup dengan ketaatan.
Sedangkan “anak agama” terlihat dari arah hatinya:
-
ia menguatkan niat,
-
merawat muhasabah,
-
memohon ampun, bahkan setelah amal,
-
mengingat mati tanpa putus asa,
-
menatap akhirat tanpa meninggalkan tanggung jawab dunia.
Cara Praktis Menjaga Hati dari Dua Arus Itu

Agar hadits ini tidak berhenti sebagai bacaan, beberapa langkah berikut bisa menjadi latihan harian—sederhana, tapi menajamkan arah.
-
Menata tujuan harian dengan kalimat akhirat
Mulai hari dengan satu pertanyaan: “Apa amalku hari ini yang akan menemaniku kelak?” Pertanyaan ini menutup pintu “nanti” yang menipu. -
Mengenali pintu hawa nafsu pribadi
Setiap orang punya pintu yang berbeda: ada yang lewat emosi, ada yang lewat gengsi, ada yang lewat kenyamanan. Mengetahui pintu itu membuat kita lebih siap menjaga diri. -
Memperbanyak amal yang sunyi
Amal yang tidak dilihat manusia sering lebih jujur. Ia melatih hati untuk ikhlas, dan ikhlas adalah napas iman. -
Membatasi angan-angan, memperbanyak ikhtiar
Rencana itu perlu. Tetapi angan-angan yang tidak diikat amal hanya akan menumbuhkan cinta dunia. Ikat harapan dengan langkah kecil yang nyata. -
Membaca ulang peringatan tentang dunia dan akhirat
Hadits ini sendiri adalah “alarm.” Ulangi. Renungi. Karena nasihat yang dibaca sekali sering kalah oleh dunia yang setiap hari memanggil.
Catatan tentang periwayat hadits juga menarik: nama Ibnu Abi ad-Dunya dikenal sebagai ulama yang menulis banyak karya bertema zuhd dan kelembutan hati; jejak biografinya dapat ditelusuri pada rujukan seperti Ibn Abi al-Dunya.
Dunia Akan Menjauh, Akhirat Pasti Mendekat
Ada kalimat yang pantas diulang pelan-pelan: dunia pergi membelakangi, akhirat datang mendatangi. Kita tidak diminta membenci dunia, tetapi diminta sadar bahwa ia sementara. Dan yang sementara tidak pantas dijadikan tujuan.
Jika Allah memberi kelapangan, syukuri—dan jangan lupa: itu belum tentu tanda cinta. Jika Allah memberi kesempitan, sabari—dan jangan berburuk sangka: itu bisa jadi jalan pulang.
Tanda cinta Allah SWT yang paling layak kita minta bukanlah banyaknya dunia, melainkan tegaknya iman: iman yang membuat kita memilih yang benar saat nafsu mengajak yang mudah; iman yang membuat kita bekerja hari ini karena sadar esok adalah hari hisab.
Semoga Allah SWT menjadikan kita “anak-anak agama”, yang menjadikan dunia sebagai kendaraan, bukan rumah. Aamiin.
Atribusi penulis asli (sumber rujukan): Nashih Nashrullah | Ahad 18 Jan 2026 | dimuat di Republika Khazanah.
Dauroh Al-Qur’an: Hadiah Terindah untuk Hati dan Masa Depan Anak
Setelah memahami dua perkara yang paling ditakuti Rasulullah SAW—mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan—kita seperti diingatkan untuk tidak menunda kebaikan. Terutama bagi orang tua yang sedang menjaga anak usia SMP/SMA: masa ini cepat berlalu, dan hati anak sedang mencari pegangan. Di saat yang sama, kita semua butuh ruang untuk menenangkan batin, merapikan arah hidup, dan kembali akrab dengan Al-Qur’an.
Karena itu, Pesantren Daarul Mutqin menghadirkan program Healing with Qur’an (1 Bulan Hafal 30 Juz Perdana)—sebuah Dauroh Al-Qur’an (pesantren kilat/sanlat) yang mengajak muslim dan muslimah mengisi waktu full bersama Qur’an di suasana Puncak-Bogor yang sejuk dan asri. Program ini dibimbing langsung oleh Syaikh As’ad Humam, Lc., Al-Hafidz (alumni Al-Azhar, pewaris sanad Al-Qur’an 30 juz, Mudir Ma’had Daarul Mutqin), bersama para asatidz yang kompeten.
Yang membuat banyak keluarga merasa “lega”: durasinya fleksibel—bisa sehari hingga 40 hari, biaya pun bisa dikustom, dan kapasitas hingga 150 orang. Fasilitasnya lengkap: masjid, tilawah per juz, penginapan berasrama, aula, lapangan, kolam renang, hingga ruang tafakkur alam. Ini bukan sekadar program liburan; ini ikhtiar agar anak pulang membawa bekal yang tidak mudah goyah—cinta Qur’an, adab, dan ketenangan.
📲 Info Lanjut:
🔗 https://gentaqurani.id/dauroh-al-quran
📱 0813-9830-0644 | 0812-2650-2573
📌 Sirnagalih, Megamendung, Kab. Bogor, Jawa Barat 16770
Jika Ayah/Bunda ingin menghadiahkan liburan yang bukan hanya “senang”, tapi juga bermakna dan menguatkan hati, inilah saatnya.
Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

