Al-Hikam: Nasihat Hikmah yang Menjadi Makanan Bagi Jiwa
Ada kalanya kita pulang dari majelis dengan hati hangat, mata agak basah, dan dada seperti baru saja dibukakan jendela. Nasihat terdengar indah—bahkan terasa “kenyang” di telinga. Namun, beberapa jam kemudian, hidup kembali berjalan seperti biasa: kebiasaan lama menuntun langkah, godaan lama menjerat perhatian, dan kalimat-kalimat hikmah tadi tinggal gema yang perlahan pudar.
Di titik inilah Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari—yang kerap disebut juga as-Sakandari atau as-Sakandari (as-Sakandari) dan dikenal lewat karya-karyanya dalam dunia tasawuf dan adab ruhani—memberi sebuah peringatan yang tajam sekaligus lembut. Dalam kitab Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari menjelaskan bahwa nasihat yang mengandung hikmah itu ibarat makanan bagi pendengarnya. Tetapi, sebagaimana tubuh tidak mendapat tenaga dari makanan yang hanya dipandang, jiwa pun tidak akan hidup dari nasihat yang hanya didengar.
Kalimatnya singkat, tetapi menampar kemalasan rohani kita:
“Nasihat adalah makanan bagi para pendengar. Kamu hanya akan mendapatkan sesuatu yang kamu makan.” (Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari, Al-Hikam)
DAFTAR ISI
- Nasihat yang Menjadi Makanan: Mengapa Harus “Dimakan”?
- Ilmu Hakikat dan Dua Jenis Pendengar
- Bahaya Mendengar Tanpa Mengamalkan: Gula yang Tak Pernah Dicicipi
- Hidangan Banyak, yang Berguna Hanya yang Masuk ke Dalam Diri
- Ketika Hati Jadi Wadah: Kisah di Zulqaqil-Ganadil, Mesir
- Mengubah Hikmah Menjadi Amal: Latihan Kecil yang Menyelamatkan
- Adab Pemberi dan Penerima Nasihat
- Penutup
- Dauroh Al-Qur’an “Healing with Qur’an” di Pesantren Daarul Mutqin
Nasihat yang Menjadi Makanan: Mengapa Harus “Dimakan”?

Gambar: Tiga kurma di atas piring putih
Kita sering keliru memahami “mendengar” sebagai “selesai”. Padahal mendengar baru pintu. Ia belum menjadi perjalanan. Nasihat yang paling indah pun, jika hanya berhenti di telinga, akan kalah oleh satu kebiasaan kecil yang dibiarkan tumbuh setiap hari.
Karena itu, perumpamaan “makanan” sangat tepat. Makanan yang sekadar dihidangkan tidak mengubah apa-apa pada tubuh. Ia baru memberi manfaat ketika masuk ke dalam diri, dicerna, lalu menjadi tenaga. Begitu pula nasihat: ia baru menjadi cahaya ketika turun dari kepala ke tangan, dari pemahaman ke tindakan, dari kagum ke amal.
Boleh jadi seseorang memahami sebuah pesan dengan sangat benar, bahkan mampu menjelaskan kepada orang lain dengan rapi. Namun, selama ia tidak menapaki pesan itu dalam keseharian, yang terjadi hanyalah penumpukan pengetahuan—dan sering kali pengetahuan yang menumpuk tanpa amal justru melahirkan rasa aman palsu: seolah-olah sudah “baik” karena sudah “tahu”.
Di sini kita diingatkan: agama bukan sekadar hafalan kalimat, tetapi latihan hidup. Hikmah bukan pajangan, melainkan bekal.
Ilmu Hakikat dan Dua Jenis Pendengar
Penyusun dan penerjemah Al-Hikam, D A Pakih Sati, dalam buku Kitab Al-Hikam dan Penjelasannya (Penerbit Noktah, 2017) menjelaskan maksud perkataan Syekh Ibnu Athaillah tentang nasihat sebagai makanan: nasihat dan petuah mengenai persoalan hakikat diibaratkan sebagai makanan bagi pendengarnya, terutama bagi orang-orang yang belum mampu mengenal hakikat sesuatu karena keimanannya masih lemah dan cahaya Ilahi yang dimilikinya belum begitu terang.
Dalam bahasa yang lebih dekat: ada orang yang masih perlu “suapan” penjelasan agar hatinya bergerak. Ia belum kuat mengenali mana yang menipu dan mana yang menyembuhkan. Maka nasihat menjadi santapan yang menolongnya menata arah.
Namun ada pula orang-orang yang sudah “kaya” dengan ilmu hakikat. Bukan berarti mereka sombong atau merasa cukup, melainkan mereka telah terlatih menangkap pelajaran bahkan dari isyarat kecil: dari peristiwa harian, dari sepi, dari luka, dari syukur, dari kegagalan. Mereka tidak lagi bergantung pada panjangnya uraian. Mereka dapat memahami tanpa harus dijelaskan. Bahkan, kemampuan mereka hampir serupa dengan para penasihat—hingga mereka pun layak memberi “makanan ruhiyah” kepada orang lain.
Tetapi perhatikan penekanan pentingnya: baik yang menyampaikan maupun yang mendengarkan, tidak akan memperoleh apa pun dari apa yang disampaikan dan didengar, kecuali jika nasihat itu diamalkan. Di sinilah Al-Hikam mengikat semua orang pada satu simpul yang sama: amal.
Bahaya Mendengar Tanpa Mengamalkan: Gula yang Tak Pernah Dicicipi
Agar peringatan ini tidak menjadi teori, diberikan sebuah perumpamaan yang sangat membumi. Seseorang mengetahui gula itu manis. Ia menyampaikan hal tersebut kepada banyak orang, tetapi tidak pernah mencicipinya sama sekali.
Apakah pengetahuannya bermanfaat dan dapat dirasakan efeknya? Tentu tidak.
Inilah wajah pengetahuan tanpa amal: benar secara informasi, tetapi hampa dalam rasa. Ia seperti orang yang hafal jalan menuju sumber air, menjelaskan peta kepada semua orang, namun dirinya sendiri tetap kehausan.
Kita pun sering demikian. Kita tahu sabar itu mulia, tetapi mudah meledak. Kita tahu menjaga lisan itu wajib, tetapi kata-kata tajam tetap meluncur. Kita tahu dunia ini sementara, tetapi hati tetap lengket pada pujian dan penilaian manusia. Maka yang berubah bukanlah diri—yang berubah hanya daftar kalimat di kepala.
Karena itu, nasihat yang benar bukan yang membuat kita kagum, melainkan yang membuat kita bergerak. Bahkan jika geraknya kecil—asal nyata.
Hidangan Banyak, yang Berguna Hanya yang Masuk ke Dalam Diri
Terjemahan kitab Al-Hikam oleh Ustadz Bahreisy menambahkan penjelasan mengenai perumpamaan nasihat sebagai makanan. Betapa banyak aneka hidangan, tetapi yang benar-benar berguna bagi seseorang hanyalah hidangan yang dimakannya. Seseorang memilih makanan yang disukainya dan dipahaminya.
Ini juga pelajaran tentang fokus: jangan serakah mengoleksi nasihat. Ambil satu yang paling menancap, lalu jadikan ia laku harian. Dalam urusan jiwa, “sedikit tapi rutin” sering kali lebih menyembuhkan daripada “banyak tapi berlalu”.
Jika hari ini kita mendengar sepuluh hikmah, boleh jadi cukup satu yang kita “makan”—yang benar-benar kita bawa pulang menjadi kebiasaan baru. Karena satu amal kecil yang konsisten dapat membuka pintu amal besar yang selama ini terasa berat.
Ketika Hati Jadi Wadah: Kisah di Zulqaqil-Ganadil, Mesir

Gambar: Mangkuk keramik Islam bermotif biru di museum.
Syekh Muhyiddin (Muhammad) bin Al-Arabi—yang namanya sering disebut dalam khazanah tasawuf; pembaca yang ingin mengenal ringkas biografinya dapat melihat tulisan pengantar seperti Mengenal Ibn Arabi Lebih Dekat—menceritakan suatu kisah ketika dirinya menerima undangan dari seorang teman di Zulqaqil-Ganadil, Mesir. Di tempat itu, ia bertemu para guru dan hidangan pun dihidangkan.
Dalam pertemuan tersebut, terdapat sebuah wadah yang sebelumnya digunakan sebagai tempat kencing, tetapi tidak lagi dipakai untuk keperluan itu dan kemudian digunakan sebagai tempat makanan. Setelah semua hadirin selesai makan, wadah tersebut tiba-tiba berkata,
“Karena aku telah menjadi tempat makanan bagi para guru ini, maka sejak saat ini aku tidak rela lagi menjadi tempat kotoran,” kata wadah itu.
Syekh Muhyiddin kemudian bertanya kepada para hadirin, “Apa yang kalian dengar?” Para hadirin menjawab, “Sejak aku dipakai sebagai tempat makanan bagi para guru, aku tidak mau lagi menjadi tempat kotoran.” Syekh Muhyiddin berkata, “Bukan demikian perkataannya.”
Para hadirin lalu bertanya kembali mengenai maksud perkataan wadah tersebut. Syekh Muhyiddin menjelaskan, “Hatimu, setelah dimuliakan Allah dengan dijadikan tempat iman, maka janganlah rela ia ditempati hal-hal najis, seperti syirik, maksiat, dan cinta dunia.”
Kisah ini seperti cermin yang diletakkan di depan dada kita. Hati yang sudah disentuh iman—sekalipun kecil—sebenarnya sedang dimuliakan. Lalu pantaskah kita membiarkannya menjadi tempat kotoran batin?
Yang lebih menggetarkan: “najis” yang disebutkan tidak selalu datang dalam rupa besar yang mencolok. Terkadang ia datang sebagai kebiasaan meremehkan dosa, candaan yang menyepelekan maksiat, atau cinta dunia yang menyamar sebagai “ambisi wajar”. Karena itu, kita perlu muhasabah: menengok isi hati dengan jujur, agar iman tidak sekadar jadi nama, tetapi menjadi ruang yang dijaga.
Mengubah Hikmah Menjadi Amal: Latihan Kecil yang Menyelamatkan
Agar nasihat benar-benar menjadi “makanan”, kita butuh cara sederhana untuk “mengunyahnya”. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan tanpa mengubah hidup secara drastis—tetapi cukup untuk memindahkan nasihat dari telinga ke laku.
-
Pilih satu hikmah, jangan semuanya
Dari satu bacaan atau satu nasihat, ambil satu kalimat yang paling menusuk. Simpan di catatan, atau ulangi pelan sebelum tidur. -
Turunkan menjadi tindakan yang bisa diukur
Misalnya, jika hikmahnya tentang lisan, jadikan target: “hari ini menahan satu komentar tajam.” Jika hikmahnya tentang shalat, jadikan target: “menghadirkan hati minimal pada takbiratul ihram dan satu ayat.” -
Pasang pengingat yang lembut
Bukan untuk membebani, tetapi untuk menjaga arah. Kadang satu pengingat pendek sudah cukup agar hati tidak hanyut. -
Tutup hari dengan evaluasi singkat
Dua menit saja: apa yang berhasil, apa yang belum, dan apa satu perbaikan kecil untuk besok. Ini bagian dari tazkiyatun nafs: membersihkan jiwa dengan langkah-langkah yang nyata.
Dengan latihan seperti ini, nasihat tidak lagi menjadi tontonan rohani. Ia menjadi jalan pulang.
Adab Pemberi dan Penerima Nasihat

Gambar: Halaman manuskrip Al-Qur’an dengan iluminasi klasik.
Teks ini juga mengingatkan bahwa yang paling berbahaya bukan hanya “pendengar yang pasif”, tetapi juga “pemberi nasihat yang tidak menempuh nasihatnya”. Maka adab dua arah perlu dirawat.
-
Bagi yang menyampaikan, niatnya harus bersih: ingin menolong, bukan ingin unggul. Ia perlu takut pada dirinya sendiri: jangan sampai lisannya menjadi bukti yang memberatkan karena amalnya tertinggal. Di sini penting adab menasihati dengan hikmah—lembut dalam cara, jernih dalam tujuan.
-
Bagi yang mendengar, adabnya adalah menerima tanpa merasa tersinggung, lalu menguji diri dengan amal. Karena nasihat bukan untuk menambah bahan debat, melainkan untuk menambah ketaatan.
Dan di atas semuanya: jangan sampai kita menyerupai kaum Yahudi yang mengetahui, tetapi tidak mengamalkan—sebuah peringatan keras agar ilmu tidak berhenti sebagai identitas, tetapi menjadi jalan perubahan.
Penutup
Al-Hikam mengajarkan satu kaidah yang sederhana namun menentukan: nasihat baru bermanfaat ketika diamalkan. Kita boleh hadir di banyak majelis, membaca banyak buku, dan mendengar banyak petuah. Tetapi yang mengubah hidup bukan jumlah yang kita dengar—melainkan yang kita “makan”: yang kita bawa turun menjadi kebiasaan, yang kita rawat menjadi laku, yang kita jaga menjadi karakter.
Semoga Allah menjadikan hati kita wadah iman yang mulia, dan menolong kita menjaga ruang itu dari syirik, maksiat, dan cinta dunia—hingga nasihat tidak hanya menghangatkan telinga, tetapi menghidupkan jiwa.
Atribusi: Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Ani Nursalikah; 6 Januari 2026; Republika Khazanah — “Al-Hikam: Nasihat Hikmah Ibarat Makanan Bagi Jiwa”
Dauroh Al-Qur’an “Healing with Qur’an” di Pesantren Daarul Mutqin
Ada nasihat yang menyejukkan, lalu kita berjanji dalam hati: “Mulai besok, aku mau lebih dekat dengan Al-Qur’an.” Tetapi hidup sering kembali ramai, dan niat baik itu perlahan memudar. Kalau Anda punya anak usia SMP/SMA, mungkin Anda juga merasakan keresahan yang sama: bagaimana menjaga hati mereka tetap bening, kuat, dan punya arah di tengah gempuran dunia yang serba cepat.
Bayangkan anak Anda (atau Anda sekeluarga) mendapat waktu khusus: menepi dari hiruk pikuk, tinggal di suasana Puncak-Bogor yang sejuk dan asri, lalu mengisi hari dengan tilawah, tahsin, tahfidz, dan tafakkur alam—bukan sebagai beban, tetapi sebagai cara pulang: pulang ke ketenangan, pulang ke iman, pulang ke Qur’an.
Program Dauroh Al-Qur’an (Pesantren Kilat/Sanlat) ini dibimbing Syaikh As’ad Humam, Lc., Al-Hafidz (alumni Al-Azhar) bersama asatidz yang kompeten. Durasi fleksibel—Anda bisa ikut sehari hingga 40 hari, biaya pun bisa disesuaikan kebutuhan. Fasilitasnya lengkap: masjid, penginapan berasrama, aula, lapangan, kolam renang, hingga ruang-ruang teduh untuk tafakkur.
📲 Info Lanjut:
🔗 https://gentaqurani.id/dauroh-al-quran
📱 0813-9830-0644 | 0812-2650-2573
📌 Sirnagalih, Megamendung, Kab. Bogor, Jawa Barat 16770
Jadikan liburan sekolah buah hati menjadi momen yang bukan hanya “jalan-jalan”, tetapi membekas dan menguatkan.
Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

