Keutamaan Khatam Membaca Alquran
Catatan atribusi: Tulisan ini diparafrasekan (dengan pengembangan penjelasan dan panduan praktis) dari artikel karya Hasanul Rizqa, terbit 23 Desember 2025.
Ada orang yang mencintai Alquran seperti rindu yang tak banyak bicara: ia datang pelan-pelan, lalu menetap. Ada pula yang baru benar-benar “berjumpa” saat Ramadhan, saat suasana masjid lebih ramai, saat tilawah terasa lebih mudah. Di titik mana pun kita memulai, khatam bukan sekadar angka—ia adalah tanda kesungguhan untuk menemani diri sendiri dengan kalam Allah, dari awal hingga akhir, lalu mengulanginya lagi dengan hati yang lebih matang.
Karena itu, membahas keutamaan khatam membaca Alquran tidak cukup hanya dengan “ayo cepat selesai”. Yang kita cari bukan sekadar tamat, tetapi tamat yang berbekas: menenangkan, meneguhkan, dan mengajari kita pulang kepada Allah dengan cara yang paling lembut—melalui ayat demi ayat.
DAFTAR ISI
- Hadits tentang tempo khatam: belajar dari semangat Abdullah bin Amr bin Ash
- Tiga keutamaan besar bagi yang membaca dan mengkhatam Alquran
- Khatam yang menumbuhkan makna: bukan hanya cepat, tapi juga menghidupkan
- Panduan praktis menyusun target khatam (tanpa membuat diri kewalahan)
- semoga kita dimudahkan, lalu dimampukan
- Dauroh Al-Qur’an: Saatnya “Khatam” Naik Kelas Jadi Kebiasaan Keluarga
Hadits tentang tempo khatam: belajar dari semangat Abdullah bin Amr bin Ash

Dalam riwayat yang masyhur, ada dialog yang terasa sangat manusiawi: seorang sahabat bersemangat, merasa sanggup lebih; Nabi Muhammad SAW mengarahkan, mengukur, sekaligus menjaga agar ibadah tidak berubah menjadi beban yang mematahkan.
Pada suatu ketika, Abdullah bin Amr bin Ash bertanya kepada Nabi Muhammad SAW. "Wahai Rasulullah," katanya, "berapa lama aku sebaiknya membaca Alquran?"
Beliau menjawab, "Khatamkanlah dalam satu bulan."
Abdullah berkata lagi, "Sungguh aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah."
Beliau menjawab, "Khatamkanlah dalam 20 hari."
Abdullah berkata lagi, "Aku masih mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah."
Beliau menjawab, "Khatamkanlah dalam 15 hari."
Abdullah berkata lagi, "Aku masih mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah."
Beliau menjawab, "Khatamkanlah dalam 10 hari."
Abdullah menjawab, "Aku masih lebih mampu lagi, wahai Rasulullah."
Beliau menjawab, "Khatamkanlah dalam lima hari."
Abdullah menjawab, "Aku masih lebih mampu lagi, wahai Rasulullah." Namun, beliau tidak memberikan izin (HR Tirmidzi).
Di sini kita menangkap pelajaran yang sering luput: semangat itu baik, tetapi perlu diarahkan. Nabi SAW tidak mematikan tekad Abdullah; beliau justru memberi koridor. Ada ruang untuk meningkatkan tempo, tetapi ada pula titik “cukup” yang menjaga agar hubungan kita dengan Alquran tetap teduh, bukan tergesa-gesa.
Jika Anda ingin merujuk detail riwayat ini pada rujukan digital, Anda bisa membuka Jami’ at-Tirmidhi hadits tentang batas waktu mengkhatamkan Alquran. Namun yang lebih penting: tangkap ruhnya—bahwa konsistensi lebih bernilai daripada “maraton” yang hanya kuat di awal.
Tiga keutamaan besar bagi yang membaca dan mengkhatam Alquran

Artikel sumber menyebutkan beberapa keutamaan, dan tiga poin ini dapat kita jadikan “kompas” agar khatam tidak berhenti sebagai target, melainkan menjadi jalan pulang yang nyata.
1) Rahmat, ketenteraman, doa malaikat, dan pujian Allah
Saat Alquran dibaca dalam suasana belajar—di masjid, di rumah, di majelis yang sederhana—ada karunia yang turun: ketenangan yang tidak bisa dibeli, dan rahmat yang menguatkan.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah untuk melantunkan ayat-ayat suci Alquran dan mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, akan dilingkupi pada diri mereka dengan rahmat, akan dilingkari oleh para malaikat, dan Allah pun akan menyebut (memuji) mereka di hadapan makhluk yang ada di dekat-Nya" (HR Muslim).
Bayangkan baik-baik kalimat itu: Allah menyebut (memuji) mereka. Di saat kita sering merasa kecil, sering merasa bacaan belum bagus, sering merasa belum pantas—hadits ini mengajarkan bahwa majelis Alquran adalah majelis yang dimuliakan.
Rujukan digital yang memuat makna hadits ini dapat Anda lihat pada Sahih Muslim tentang keutamaan berkumpul membaca dan mempelajari Alquran. Untuk pendalaman, Anda juga bisa membaca Mengenal Enam Kitab Hadist Rujukan Muslim Sunni Global: Shahih Bukhari serta tulisan bertema ilmu hadits..
2) Termasuk amalan yang paling dicintai Allah: “al-hal wal murtahal”
Di antara keindahan ajaran Islam adalah dorongan untuk menjaga ibadah agar tidak putus-putus. Dalam konteks membaca Alquran, ada konsep yang ringkas tapi dalam: selesai—lalu mulai lagi, tanpa merasa “sudah selesai urusan”.
Kedua, membaca dan mengkhatam Alquran adalah amalan yang paling dicintai Allah. Ibnu Abbas RA menceritakan bahwa suatu hari, ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah SAW. "Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?"
Beliau menjawab, "Al-hal wal murtahal."
Orang ini bertanya lagi, "Apakah itu al-hal wal murtahal, wahai Rasulullah?"
Beliau menjawab, "Yaitu yang membaca Alquran dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai ia mengulanginya lagi dari awal" (HR Tirmidzi).
Kalau kita jujur, banyak rencana ibadah runtuh karena kita menunggu “mood terbaik”. Hadits ini meneguhkan: yang dicintai bukan yang paling ramai niatnya, melainkan yang terus berjalan—selesai satu putaran, memulai putaran berikutnya. Tidak harus cepat. Yang penting hidup.
Praktiknya bisa sederhana: setelah khatam, beri jeda satu hari untuk syukur dan doa, lalu mulai lagi dari Al-Fatihah. Bukan untuk mengejar angka, tapi untuk menjaga hubungan agar tetap hangat.
3) Mendapat syafaat di akhirat
Manusia hidup dengan harap. Kita berdoa agar dosa diampuni, amal diterima, dan langkah dituntun. Alquran datang membawa janji yang menenangkan: ia menjadi pembela bagi pembacanya.
Ketiga, dengan membaca Alquran, maka kita akan mendapatkan syafaat atau pertolongan di akhirat nanti. Dari Abu Amamah RA, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Bacalah Alquran, karena sesungguhnya ia akan menjadi syafaat bagi para pembacanya di hari kiamat" (HR Muslim).
Rujukan digital yang memuat makna “Alquran sebagai syafaat” dapat Anda lihat pada Sahih Muslim tentang keutamaan membaca Alquran dan syafaatnya di Hari Kiamat. Namun sekali lagi, keindahan hadits ini bukan sekadar informasi—ia adalah undangan: dekatlah, dan Alquran akan dekat pula.
Khatam yang menumbuhkan makna: bukan hanya cepat, tapi juga menghidupkan

Sering kali orang mengira khatam itu “finish line”. Padahal, bagi pecinta Alquran, khatam justru seperti pintu. Pintu menuju pembacaan yang lebih rapi, pemahaman yang lebih sabar, dan pengamalan yang lebih nyata—meski kecil-kecil.
Karena itu, bagus bila kita menyandingkan dua hal:
- Tilawah (membaca) yang terjaga ritmenya.
- Tadabbur (merenungi) yang ukurannya realistis.
Anda tidak harus menulis tafsir panjang. Cukup “catatan kecil” yang membuat ayat menempel. Misalnya, setelah selesai satu sesi tilawah, tulis 1–2 kalimat: ayat mana yang paling menenangkan hari ini? atau pesan apa yang terasa paling dekat dengan keadaan saya? Kebiasaan kecil seperti ini sering menjadi jembatan agar tilawah tidak terasa mekanis.
Bagi orang tua yang ingin anak makin dekat dengan Alquran tanpa merasa dipaksa, Anda bisa membaca inspirasi Pencapaian Hafalan—semoga jadi penguat harapan, bahwa perubahan besar sering dimulai dari kebiasaan kecil yang setia.
Panduan praktis menyusun target khatam (tanpa membuat diri kewalahan)

Berikut ini format yang bisa Anda pakai sebagai “kerangka” yang fleksibel. Pilih salah satu, lalu sesuaikan dengan ritme hidup dan kemampuan baca.
A. Pilih tempo yang realistis
- 30 hari: umumnya setara ±1 juz per hari (paling populer untuk konsistensi).
- 20 hari: umumnya ±1,5 juz per hari (butuh disiplin waktu yang lebih rapat).
- 15 hari: umumnya ±2 juz per hari.
- 10 hari: umumnya ±3 juz per hari (intens, cocok untuk momen khusus).
- 5 hari: umumnya ±6 juz per hari (sangat berat bagi kebanyakan orang; dan dalam riwayat, Nabi SAW tidak memberi izin untuk melampaui batas yang ditetapkan).
Catatan penting: angka di atas adalah gambaran umum (karena pembagian halaman bisa berbeda pada setiap mushaf). Namun kerangka “juz per hari” memudahkan kita menyusun jadwal tanpa terjebak hitung-hitungan yang melelahkan.
B. Pecah bacaan menjadi beberapa sesi pendek
Kalau target terasa besar, jangan ditanggung sendirian dalam satu waktu. Pecah menjadi sesi-sesi kecil:
- Ba’da Subuh: 20–30 menit
- Siang/istirahat: 10–15 menit
- Ba’da Maghrib/Isya: 20–30 menit
Kuncinya bukan lama, tapi rutin. Bahkan 10 menit yang setia lebih kuat daripada 1 jam yang hanya terjadi sesekali.
C. Buat “tanda pulang”: satu kebiasaan yang mengikat hati
- Pakai mushaf yang sama (agar progress terasa nyata).
- Gunakan pembatas/marker juz.
- Tentukan tempat khusus tilawah (pojok rumah yang tenang, atau masjid dekat rumah).
Hal-hal sederhana ini membuat tilawah punya “rumah”. Dan ketika hati lelah, kita lebih mudah kembali.
semoga kita dimudahkan, lalu dimampukan
Dengan keutamaan-keutamaan ini, semoga kita semakin termotivasi untuk selalu membaca Alquran selain tentunya dengan terus berusaha memahami isi kandungannya dan juga mengamalkannya.
Dan bila suatu hari kita tertinggal jadwal, jangan buru-buru menyerah. Alquran tidak menuntut kita menjadi sempurna dalam semalam. Ia mengundang kita untuk kembali—hari ini, dengan langkah yang lebih kecil, tapi lebih setia.
Sumber utama (untuk atribusi): Hasanul Rizqa, “Keutamaan Khatam Membaca Alquran”, 23 Desember 2025.
Dauroh Al-Qur’an: Saatnya “Khatam” Naik Kelas Jadi Kebiasaan Keluarga
Jika khatam membuat hati terasa lebih teduh, bayangkan bila suasana itu hadir setiap hari—bukan hanya sebagai target, tetapi sebagai cara hidup. Banyak orang tua yang punya anak usia SMP/SMA sering bertanya dalam diam: bagaimana menjaga anak tetap dekat dengan Al-Qur’an di tengah derasnya gawai, pergaulan, dan tekanan sekolah? Kadang jawabannya bukan menambah nasihat, melainkan menghadirkan lingkungan yang menenangkan dan membentuk kebiasaan.
Di Pesantren Daarul Mutqin, kami membuka Program Dauroh Al-Qur’an “Healing with Qur’an”—sebuah pesantren kilat/sanlat untuk muslim dan muslimah yang ingin mengisi waktu full bersama Al-Qur’an di suasana pegunungan Puncak-Bogor yang sejuk dan asri. Program ini dibimbing langsung oleh Syaikh As’ad Humam, Lc., Al-Hafidz (Alumni Al-Azhar) bersama asatidz yang kompeten.
Anda bisa ikut sehari hingga 40 hari, dengan biaya yang fleksibel dan kapasitas hingga 150 peserta. Fasilitasnya lengkap: masjid, tilawah per juz, penginapan berasrama, aula, lapangan, kolam renang, hingga tafakkur alam—agar peserta fokus, tenang, dan pulang membawa perubahan yang terasa.
🌿 Jika Anda ingin anak Anda punya “ruang pulang” yang lebih bersih, lebih kuat, dan lebih dekat pada Qur’an, inilah saatnya.
Info & Reservasi:
🔗 https://gentaqurani.id/dauroh-al-quran
📱 0813-9830-0644 | 0812-2650-2573
📌 Sirnagalih, Megamendung, Kab. Bogor, Jawa Barat 16770
Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

