Skip to main content
Dua anak perempuan mengenakan mukena, duduk berdekatan sambil membuka mushaf.

Menjadi Pelopor Kebaikan Bagi Anak Remaja Qurani di Rumah

Islam mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak hanya diajak berbuat baik, tetapi juga didorong untuk menjadi pelaku pertama kebaikan—pelopor yang menyalakan api semangat di tengah masyarakat, termasuk di dalam rumahnya sendiri.

Bagi orang tua pecinta Al-Qur’an yang memiliki anak usia SMP/SMA, tema ini sangat relevan. Di usia remaja, anak sedang mencari sosok panutan. Di sinilah orang tua berpeluang menjadi pelopor kebaikan yang jejaknya akan mereka ikuti, hingga insya Allah berlanjut menjadi pahala yang tak putus.

Allah berfirman:

"Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu" (TQS. al-Baqarah: 148).

Ayat ini dikenal dengan semangat fastabiqul khairat, ajakan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan sekadar ikut-ikutan di barisan belakang. Para ulama menerangkan bahwa perintah ini bukan hanya tentang banyaknya amal, tetapi juga segera dan bersemangat dalam mengerjakannya, sebagaimana dijelaskan pula dalam tafsir QS al-Baqarah: 148 tentang fastabiqul khairat.

DAFTAR ISI

Hadis Tentang Pelopor Kebaikan: Pahala yang Menular

Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Barangsiapa melakukan perbuatan baik dalam Islam, maka dia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang yang ikut melakukannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang melakukan perbuatan buruk dalam Islam, maka dia akan mendapatkan dosa dari perbuatannya dan dosa orang yang ikut melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun" (HR Muslim).

Hadis ini diriwayatkan dalam kisah yang sangat menyentuh. Suatu ketika, Rasulullah SAW melihat seorang lelaki Anshar datang membawa sebuah bungkusan yang berat hingga telapak tangannya hampir tak sanggup menahannya. Bungkusan itu ia sedekahkan kepada orang-orang Bani Mudlar yang datang ke Madinah dalam keadaan sangat memprihatinkan.

Melihat kepeloporan itu, penduduk Madinah tersentuh. Mereka berduyun-duyun menyusul, mengeluarkan sebagian harta mereka. Hingga terkumpul tumpukan makanan dan pakaian yang cukup besar. Kisah ini dikisahkan oleh Abu Amr, Jarir bin Abdillah.

Satu orang memulai. Yang lain mengikuti. Dari satu bungkusan berat di tangan seorang Anshar, lahir gelombang sedekah yang menguatkan banyak jiwa. Inilah pelopor kebaikan dalam bentuk yang nyata.

Bayangkan jika pola yang sama terjadi di dalam keluarga kita:

  • Satu orang tua memulai kebiasaan tilawah pagi.

  • Satu anak ikut bergabung.

  • Adiknya menyusul.

  • Lama-lama rumah itu menjadi rumah yang akrab dengan Al-Qur’an.

Menurut hadis di atas, orang yang memulai kebaikan bukan hanya mendapat pahala dari amalnya sendiri, tetapi juga pahala dari setiap orang yang meniru langkahnya—tanpa sedikit pun mengurangi pahala mereka.

Kepeloporan: Berlaku untuk Semua Perbuatan

Walaupun hadis ini muncul dalam konteks sedekah harta, para ulama menjelaskan bahwa maknanya berlaku untuk semua jenis perbuatan, baik atau buruk. Tema besarnya adalah kepeloporan.

Kepeloporan membawa dampak serius bagi diri dan orang lain:

  • Jika seseorang memulai sebuah kebaikan, ia akan mendapatkan pahala dari amalnya sendiri dan pahala berantai dari orang yang mengikutinya.

  • Jika seseorang memulai sebuah keburukan, ia menanggung dosa pribadi sekaligus dosa orang-orang yang meniru perbuatannya.

Bagi orang tua, ini adalah pengingat yang sangat kuat. Di depan anak remaja, orang dewasa hampir selalu menjadi pelopor—entah pelopor kebaikan, atau pelopor kebiasaan yang melemahkan. Cara kita berbicara, memilih hiburan, memperlakukan gawai, mengelola emosi, semuanya bisa menjadi “template” yang mereka copy-paste dalam hidup mereka.

Menjadi Pelopor Kebaikan di Mata Anak SMP/SMA

Seorang Muslim sangat dianjurkan untuk mempelopori perbuatan baik. Bentuknya bisa beragam:

  • Menghidupkan kembali sunnah Rasul yang mulai ditinggalkan umat.

  • Membiasakan adab-adab sederhana yang dicontohkan Nabi dalam rumah, terutama di hadapan anak.

  • Membuat inovasi baru dalam kebaikan, selama tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah Islam—misalnya program keluarga Qurani, sedekah terjadwal, atau kegiatan sosial berbasis remaja.

Untuk orang tua yang memiliki anak SMP/SMA, beberapa contoh kepeloporan kebaikan yang sangat relevan antara lain:

  1. Pelopor shalat tepat waktu di rumah.
    Orang tua tidak hanya menyuruh, tetapi berdiri paling dulu ketika adzan berkumandang.

  2. Pelopor tilawah dan murajaah harian.
    Anak melihat bahwa orang tuanya punya jadwal tilawah yang jelas. Remaja cenderung mengikuti pola yang konsisten. Di sinilah program seperti Pesantren Tahfidz SMP/SMA dan Healing With Quran (1 Bulan Hafal 30 Juz Perdana) menjadi jembatan yang sangat baik untuk menguatkan kebiasaan ini.

  3. Pelopor sedekah keluarga.
    Misalnya, setiap pekan keluarga mengumpulkan “kotak sedekah keluarga”, lalu menyalurkannya bersama-sama. Biarkan anak remaja ikut memilih sasaran sedekah yang tepat.

  4. Pelopor menjaga lisan dan media sosial.
    Di era digital, pelopor kebaikan bukan hanya di dunia nyata, tetapi juga di ruang maya. Orang tua yang berhati-hati dalam berbagi konten, menghindari ghibah online, dan tidak mudah menyebarkan kabar tanpa tabayun sedang memberi teladan penting kepada anak.

Kepeloporan yang Murni: Dimulai dari Diri dan Dilandasi Keikhlasan

Kepeloporan tidak cukup berhenti pada “gerakan luar”. Ia harus dibangun di atas dua pondasi utama:

  1. Keikhlasan
    Seorang pelopor kebaikan bergerak bukan karena ingin viral, dipuji, atau dianggap paling saleh. Ia bergerak karena berharap ridha Allah. Kebaikan yang lahir dari riya akan cepat lelah; kebaikan yang lahir dari ikhlas akan istiqamah.

  2. Memulai dari diri sendiri
    Rasulullah SAW dan para sahabat adalah pelopor dalam kebaikan. Berbagai sunnah hasanah (tradisi baik) yang kita nikmati hari ini berawal dari mereka. Mereka tidak hanya memerintahkan, tetapi memulai dari diri sendiri, dari rumah sendiri, dari keluarga sendiri.

Ini menjadi pelajaran besar bagi orang tua. Sebelum banyak “ceramah” kepada anak, mari bertanya:

Apakah saya sudah menjadi pelopor kebaikan di rumah saya sendiri?

Teladan Umar bin Khattab: Keras pada Diri dan Keluarga Demi Umat

Salah satu contoh kepeloporan yang sering dikutip para ulama adalah sikap Umar bin Khattab ketika menjadi khalifah. Ia sangat menjaga agar keluarga dekatnya tidak meminta keistimewaan dibandingkan rakyat biasa.

Diriwayatkan bahwa Umar sering mengajak keluarganya hidup sederhana. Kadang, ia bahkan mengambil kembali makanan yang terlalu mewah dari tangan mereka. Bukan karena ia anti nikmat, tetapi karena ia sadar: umat memandang keluarganya sebagai contoh.

Ketika Umar menetapkan sebuah aturan atau melarang suatu perkara, ia terlebih dahulu mengumpulkan keluarganya dan berkata kurang lebih:

"Sesungguhnya aku telah melarang orang-orang dari perbuatan begini dan begini karena masyarakat melihat kepada kalian seperti burung melihat daging; jika kalian terjerumus, mereka pun akan terjerumus; dan jika kalian takut, mereka pun akan takut.
Demi Allah, tidaklah aku mendengar seorang pun dari kalian yang melanggar laranganku terhadap masyarakat, melainkan kulipatgandakan siksaan baginya karena kedekatannya denganku. Maka barangsiapa menghendaki di antara kalian, bolehlah ia maju; dan barangsiapa yang menghendaki, hendaklah ia mundur."

Inilah standar pelopor kebaikan:

  • Tidak mencari kenyamanan pribadi yang bertentangan dengan prinsip.

  • Menerima standar yang lebih berat untuk diri dan keluarga demi kebaikan umat.

Orang tua di zaman sekarang tentu tidak harus meniru persis kerasnya Umar. Namun ruhnya bisa dihidupkan kembali: menjadikan keluarga sebagai garda terdepan dalam menaati aturan Allah, bukan pengecualian.

Ide Konkret: Proyek Kebaikan Keluarga untuk Anak Remaja

Agar konsep pelopor kebaikan tidak berhenti di wacana, berikut beberapa ide “proyek kebaikan keluarga” yang bisa Anda jalankan bersama anak SMP/SMA:

  1. Proyek “Rumah Tilawah”
    Tetapkan satu waktu khusus, misalnya 20–30 menit setiap hari, di mana semua anggota keluarga membaca Al-Qur’an. Jadikan ini rutinitas yang tenang, bukan paksaan. Anda bisa menguatkan kualitas baca dengan memilih program seperti 7 metode belajar membaca Al-Qur'an yang paling populer di Indonesia atau Meningkatkan kemampuan baca Al-Qur'an dengan metode An-Nahdliyah sebagai referensi.

  2. Proyek “Infaq Remaja”
    Beri anak amanah mengelola sebagian kecil dana sedekah keluarga:

    • Ia yang mencari informasi lembaga tepercaya.

    • Ia yang berdiskusi dengan orang tua sebelum penyaluran.

    • Ia yang ikut mentransfer atau menyerahkan langsung.
      Dengan begitu, ia belajar bahwa sedekah bukan sekadar teori di pelajaran agama, tetapi praktik nyata.

  3. Proyek “Jurnal Kebaikan”
    Ajak anak menulis jurnal singkat berisi:

    • Satu kebaikan yang ia lakukan hari ini.

    • Satu kebaikan yang ia lihat dari orang lain.

    • Satu kebaikan yang ia ingin mulai esok hari.
      Orang tua ikut menulis jurnal yang sama. Dari sini, lahirlah budaya saling menginspirasi dalam kebaikan.

  4. Proyek “Sejarah Al-Qur’an di Rumah Kita”
    Gunakan waktu akhir pekan untuk membaca bersama kisah Sejarah pengumpulan Al-Qur'an: dari wahyu hingga penyusunan dan Daftar rujukan kitab tafsir Al-Qur'an terpopuler para ulama klasik.
    Setelah itu, ajak anak berdiskusi:

    • Betapa besar perjuangan para sahabat menjaga mushaf.

    • Bagaimana seharusnya kita sebagai keluarga menghormati dan mengamalkan Al-Qur’an hari ini.

  5. Proyek “Qur’an Camp Mini” Versi Rumah
    Terinspirasi dari program Qur'an Camp (Healing Akbar Liburan Sekolah), Anda bisa membuat versi kecil di rumah:

    • Selama beberapa hari liburan, keluarga punya tema: “Liburan Bersama Al-Qur’an”.

    • Ada sesi tilawah, tadabbur, sedekah, dan kunjungan sosial ringan yang melibatkan anak.
      Di sini, orang tualah pelopor kebaikan yang merancang suasana liburan bernilai akhirat.

Menjadi Pelopor, Bukan Sekadar Penonton

Pada akhirnya, pelopor kebaikan bukanlah sosok yang sempurna. Ia adalah orang yang berani memulai, meski langkahnya masih kecil dan terseok. Ia berani berkata pada diri sendiri dan keluarganya, “Mari kita mulai dari rumah kita sendiri.”

Sebagaimana lelaki Anshar yang memulai sedekah sehingga menggerakkan seluruh penduduk Madinah, orang tua pun bisa memulai dari hal-hal sederhana:

  • Menyalakan tilawah di ruang keluarga.

  • Menjaga lisan dari keluhan berlebihan di depan anak.

  • Menjadi yang pertama meminta maaf ketika salah.

Dari sana, insya Allah lahir gelombang kebaikan yang merambat ke hati anak-anak kita, lalu keluar ke masyarakat.

Tulisan ini adalah parafrase dan pengembangan dari artikel Menjadi Pelopor Kebaikan” karya Hasanul Rizqa yang dimuat di kanal Khazanah Republika. Semoga Allah membalas kebaikan beliau dan menjadikan kita semua pelopor kebaikan di zaman kita masing-masing.

Siap Menjadi Pelopor Kebaikan? Ajak Anak Menyepi Bersama Al-Qur’an

reguler 25 04 17

Jika selama ini Anda berusaha menjadi pelopor kebaikan di rumah—menyalakan tilawah, mengajak shalat, membiasakan sedekah—mungkin sekarang saatnya menghadiahkan satu langkah lanjutan untuk diri sendiri dan buah hati: sebulan penuh bersama Al-Qur’an, jauh dari hiruk-pikuk, dekat dengan ayat-ayat-Nya.

Bayangkan anak SMP/SMA Anda bangun pagi dalam udara sejuk pegunungan, mengulang hafalan di masjid, disimak langsung oleh para asatidz yang ahli di bidang Qur’an. Bukan sekadar “kegiatan liburan”, tapi masa jeda yang lembut untuk menata hati, memperbaiki bacaan, dan merasakan bahwa Al-Qur’an bisa menjadi sahabat terdekat di usia remaja.

Di Dauroh Al-Qur’an Pesantren Daarul Mutqin – “Healing with Qur’an (1 Bulan Hafal 30 Juz Perdana)”, Anda bisa:

  • Memilih durasi yang fleksibel, mulai sehari hingga 40 hari.

  • Menitipkan anak, komunitas, atau bahkan ikut sendiri, di lingkungan asri Puncak–Bogor.

  • Tenang karena pembimbingnya para asatidz berpengalaman, di bawah bimbingan Syaikh As’ad Humam, Lc., Al-Hafidz.

Kalau hati Anda sering terlintas, “Andai anak saya lebih dekat dengan Qur’an…”, mungkin inilah saatnya menjawab lintasan itu dengan langkah nyata yang lembut namun tegas.

Untuk informasi lengkap mengenai jadwal, fasilitas, dan pendaftaran, silakan kunjungi program Dauroh Al-Qur’an Daarul Mutqin di:
👉 https://gentaqurani.id/dauroh-al-quran

Atau hubungi langsung:
📲 0813-9830-0644 | 0812-2650-2573

Semoga langkah kecil ini menjadi awal dari banyak kebaikan yang Anda pelopori bersama anak-anak tercinta. 🌿📖



quran camp 2025 04 19

Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

✓ Link berhasil disalin!
Diterbitkan Dikategori Blog.
Tagar: 2025