Ketika Keluarga Rapuh, Generasi Terancam: Perceraian dalam Islam
Ratusan ribu pasangan bercerai setiap tahunnya. Yang mengejutkan, kebanyakan adalah pasangan muda yang baru merintis bahtera rumah tangga. Fenomena ini bukan sekadar angka statistik, melainkan alarm keras bahwa ada yang salah dengan fondasi keluarga kita hari ini.
DAFTAR ISI
- Angka yang Mencengangkan dari Kabupaten Tangerang
- Fenomena Nasional yang Tak Bisa Diabaikan
- Rumah yang Seharusnya Surga, Kini Jadi Arena Perang
- Akar Masalah: Kehidupan yang Jauh dari Nilai Ilahi
- Tekanan Ekonomi yang Menambah Beban
- Pengaruh Media Sosial dan Budaya Populer
- Dampak Jangka Panjang: Generasi yang Terluka
- Dampak Sosial yang Lebih Luas
- Solusi Parsial yang Belum Menyentuh Akar
- Islam: Solusi Komprehensif yang Terabaikan
- Penerapan Syariat Secara Kaffah
- Negara sebagai Pelindung Kesejahteraan Keluarga
- Saatnya Kembali pada Pedoman Ilahi
- Kuatkan Keluarga dari Dalam: Kembali pada Al-Qur'an
Angka yang Mencengangkan dari Kabupaten Tangerang
Kasus perceraian dalam Islam di Indonesia terus mengalami peningkatan yang memprihatinkan. Ambil contoh Kabupaten Tangerang—sepanjang tahun 2025, tercatat 6.113 pasangan resmi berpisah. Angka ini naik sekitar 8 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya.
Yasmita, Panitera Muda Gugatan Pengadilan Agama Tigaraksa, mengungkapkan bahwa angka perceraian melonjak signifikan dari 5.600 perkara di tahun 2024. "Sekarang November 2025 itu ada 6.113, meningkat seribu perkara, berarti sekitar delapan persen peningkatannya," ungkapnya kepada wartawan pada Rabu, 12 November 2025.
Penyebab utamanya? Judi online, perselingkuhan, dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) mendominasi kasus-kasus perceraian di wilayah tersebut.
Fenomena Nasional yang Tak Bisa Diabaikan

Gambar: Ilustrasi yang menggambarkan meningkatnya angka perceraian di kalangan pasangan muda di Indonesia
Sayangnya, kasus di Tangerang hanyalah cerminan dari kondisi nasional. Data dari berbagai lembaga pencatat pernikahan menunjukkan bahwa ratusan ribu pasangan memilih jalan berpisah setiap tahunnya. Yang lebih ironis, mayoritas adalah pasangan usia muda yang baru beberapa tahun membangun rumah tangga.
Ini bukan lagi sekadar masalah pribadi dua individu. Ini adalah tanda bahaya bahwa ada keretakan mendasar pada institusi keluarga—fondasi terkecil namun paling vital dalam menjaga keutuhan masyarakat.
Rumah yang Seharusnya Surga, Kini Jadi Arena Perang
Idealnya, keluarga adalah tempat paling aman dan nyaman. Di sanalah kita menemukan ketenangan setelah lelah berjuang di luar. Namun realitanya, banyak rumah tangga justru berubah menjadi medan pertengkaran dan saling menyalahkan.
Perceraian pun mulai dianggap wajar, bahkan kadang dipromosikan sebagai "solusi terbaik" ketika merasa tidak bahagia lagi. Padahal, dalam pandangan Islam, pernikahan bukanlah sekadar urusan perasaan, melainkan tanggung jawab besar di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Akar Masalah: Kehidupan yang Jauh dari Nilai Ilahi
Banyak orang melihat perceraian sebatas masalah komunikasi buruk, ekonomi sulit, atau ketidakcocokan karakter. Namun jika kita telusuri lebih dalam, akar persoalannya sebenarnya terletak pada sistem kehidupan sekular yang memisahkan urusan dunia dari aturan Tuhan.
Dalam sistem seperti ini, pernikahan sering dipahami hanya sebagai kontrak sosial biasa, bukan ibadah. Akibatnya, pondasinya rapuh—dibangun di atas rasa cinta semata, bukan takwa. Ketika cinta memudar (dan ini sangat mungkin terjadi), rumah tangga pun mudah goyah.
Nilai-nilai kesabaran, tanggung jawab, dan ketundukan pada aturan Allah tergeser oleh prinsip kebebasan pribadi dan kepuasan diri yang tak terbatas.
Tekanan Ekonomi yang Menambah Beban
Di sisi lain, sistem ekonomi kapitalistik menambah deretan masalah. Harga kebutuhan pokok yang melambung, lapangan kerja yang terbatas, dan gaya hidup konsumtif membuat banyak keluarga hidup dalam tekanan finansial yang luar biasa.
Tak jarang, suami merasa tertekan karena tidak mampu memenuhi nafkah keluarga dengan layak. Sementara itu, istri terpaksa ikut bekerja hingga peran domestiknya terbengkalai. Ketika masing-masing sudah lelah dan ego meninggi, konflik pun mudah meledak.
Pengaruh Media Sosial dan Budaya Populer
Belum lagi derasnya arus liberalisme dan media sosial yang mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap institusi pernikahan. Budaya populer kerap menggambarkan kebebasan sebagai puncak kebahagiaan, dan perceraian sebagai jalan keluar yang elegan.
Padahal, di balik semua itu, banyak anak kehilangan kasih sayang dan tumbuh dengan luka batin yang sangat dalam.
Dampak Jangka Panjang: Generasi yang Terluka

Gambar: Anak yang terdampak perceraian orang tua mengalami luka batin mendalam dan kehilangan rasa aman
Perceraian bukan hanya memisahkan dua orang dewasa. Ia juga menghancurkan tatanan sosial di sekitarnya. Anak-anak dari keluarga yang bercerai adalah korban terbesar yang seringkali terlupakan.
Mereka tumbuh dengan rasa tidak aman, kurang perhatian, dan kehilangan figur ayah atau ibu yang seharusnya hadir. Dampak jangka panjangnya sangat serius:
- Gangguan emosional dan mental
- Kesulitan dalam proses belajar
- Kecenderungan berperilaku menyimpang
- Rentan terhadap kenakalan remaja
- Risiko lebih tinggi terjerat narkoba
- Depresi dan masalah kesehatan mental lainnya
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak dari keluarga broken home memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap berbagai masalah sosial. Bagaimana mungkin lahir generasi tangguh jika keluarga, sebagai tempat pertama menanamkan nilai moral dan kasih sayang, justru runtuh?
Dampak Sosial yang Lebih Luas
Ketika keluarga-keluarga rapuh, tatanan sosial menjadi tidak stabil. Meningkatnya kriminalitas, kekerasan, dan degradasi moral adalah konsekuensi logis dari rusaknya institusi keluarga.
Karena itu, menyelamatkan keluarga sama artinya dengan menyelamatkan masa depan bangsa. Ini bukan pernyataan berlebihan, melainkan fakta yang didukung data dan penelitian sosial.
Solusi Parsial yang Belum Menyentuh Akar
Selama ini, solusi yang ditawarkan pemerintah terhadap tingginya angka perceraian masih bersifat parsial. Program bimbingan pra-nikah, konseling keluarga, atau edukasi moral memang baik, tetapi belum menyentuh akar persoalan.
Sebab akar masalahnya terletak pada sistem yang mengatur kehidupan kita—sistem yang menjauh dari nilai-nilai Ilahi.
Islam: Solusi Komprehensif yang Terabaikan

Gambar: Islam memberikan panduan komprehensif untuk membangun keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah yang kokoh
Islam sebenarnya telah menyediakan solusi yang komprehensif dan holistik. Ia tidak hanya memberi panduan spiritual, tetapi juga aturan sosial, ekonomi, dan politik yang menjamin kesejahteraan keluarga.
Dalam ajaran Islam, pernikahan bukan sekadar urusan pribadi, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang diatur dengan penuh hikmah.
1. Pernikahan sebagai Ibadah dan Tanggung Jawab
Islam menempatkan pernikahan sebagai ibadah dan amanah moral. Tujuannya adalah membentuk keluarga sakinah yang tenang, mawaddah (penuh cinta), dan rahmah (penuh kasih sayang).
Suami diberi peran sebagai pemimpin dan pelindung, sementara istri sebagai pendamping dan pendidik utama generasi. Ketika keduanya memahami perannya sebagai amanah dari Allah, rumah tangga akan lebih kuat menghadapi berbagai ujian.
2. Sistem Ekonomi yang Adil
Islam memiliki sistem ekonomi yang menyeimbangkan tanggung jawab dan kesejahteraan. Negara berkewajiban menjamin setiap kepala keluarga mampu bekerja dan memenuhi kebutuhan dasar.
Zakat, infak, dan distribusi kekayaan dalam Islam berfungsi menutup kesenjangan sosial yang sering menjadi sumber pertengkaran rumah tangga.
3. Pendidikan Berbasis Ketakwaan
Sistem pendidikan Islam menanamkan ketakwaan dan tanggung jawab sejak dini. Anak dididik bukan hanya agar cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia.
Mereka diajarkan pentingnya menghormati orang tua, memuliakan pasangan hidup, dan menjaga kehormatan diri. Dengan begitu, generasi muda akan siap membina keluarga yang kuat, bukan sekadar menikah karena dorongan emosional sesaat.
4. Peran Negara dalam Menjaga Moral
Dalam sistem Islam, negara berperan aktif menjaga moral masyarakat. Negara tidak membiarkan arus pergaulan bebas, pornografi, dan gaya hidup hedonis merusak sendi-sendi keluarga.
Kebijakan sosial diarahkan untuk menjaga kesucian hubungan antara laki-laki dan perempuan. Dengan demikian, masyarakat terlindungi dari penyimpangan yang bisa menghancurkan keluarga dari dalam.
Penerapan Syariat Secara Kaffah
Penerapan syariat Islam bukan hanya soal hukum nikah atau cerai semata, melainkan mencakup seluruh aspek kehidupan. Sistem ekonomi, pendidikan, dan sosial harus berjalan selaras dengan nilai-nilai Islam agar tercipta lingkungan yang kondusif bagi ketahanan keluarga Muslim.
Ketika syariat diterapkan secara kaffah (menyeluruh), perceraian akan menjadi hal yang sangat jarang terjadi. Bukan karena dipersulit secara prosedural, tetapi karena setiap individu memahami makna tanggung jawab dan keutamaan menjaga rumah tangga.
Suami istri tidak lagi melihat pernikahan sebagai beban, melainkan ladang pahala yang harus dijaga dengan sepenuh hati.
Negara sebagai Pelindung Kesejahteraan Keluarga
Dalam sistem Islam yang ideal, negara berperan bukan sekadar pencatat pernikahan, melainkan pelindung kesejahteraan keluarga secara menyeluruh. Masyarakat akan hidup dalam budaya yang menghormati lembaga pernikahan, bukan merendahkannya.
Anak-anak tumbuh dalam keluarga yang hangat dan beriman, siap melanjutkan estafet kehidupan dengan karakter yang kuat dan akhlak yang terpuji.
Saatnya Kembali pada Pedoman Ilahi

Gambar: Keluarga Muslim yang kuat dan harmonis adalah fondasi peradaban Islam yang tangguh"
Perceraian yang marak saat ini bukan sekadar persoalan rumah tangga individu, melainkan cerminan rusaknya sistem kehidupan yang kita anut. Selama aturan Allah disisihkan, selama agama dianggap urusan pribadi semata, maka keruntuhan keluarga dan rapuhnya generasi akan terus berulang.
Sudah saatnya kita melakukan perubahan mendasar: kembali menjadikan Islam sebagai pedoman hidup, bukan hanya simbol keagamaan. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya (hablum minallah), tetapi juga hubungan manusia dengan sesama (hablum minannas) dan dengan masyarakat secara luas.
Membangun kembali keluarga berarti membangun kembali peradaban. Dan peradaban yang kuat hanya bisa berdiri di atas fondasi keluarga yang kokoh—keluarga yang dibangun atas dasar iman, dijaga oleh hukum Allah, dan dinaungi oleh sistem yang adil.
Itulah satu-satunya jalan menuju masyarakat sejahtera dan generasi yang tangguh. Wallahu a'lam bisshawab.
Sumber Inspirasi: Artikel ini diparafrasekan dari tulisan Isnawati yang dipublikasikan di Hidayatullah.com pada 14 November 2025.
Kuatkan Keluarga dari Dalam: Kembali pada Al-Qur'an
"Ketika rumah tangga terasa berat, ketika komunikasi mulai renggang, ketika hati butuh ketenangan..."
Anda tidak sendiri. Di tengah hiruk pikuk kehidupan yang menekan—tuntutan ekonomi, tekanan pekerjaan, godaan dunia—banyak pasangan kehilangan sakinah yang dulu pernah dirasakan. Rumah yang seharusnya surga, kini terasa hambar. Bahkan mungkin penuh pertengkaran.
Tapi ingat, setiap masalah punya jalan keluar. Dan solusi terbaik selalu kembali pada-Nya—pada Al-Qur'an.
Program Dauroh Al-Qur'an "Healing with Qur'an" di Pesantren Daarul Mutqin, Puncak-Bogor, hadir bukan sekadar program hafalan. Ini adalah ruang healing, momen merenung, dan kesempatan memperbaiki hubungan—dengan Allah, dengan pasangan, bahkan dengan diri sendiri.
💑 Untuk Pasangan Suami-Istri
Jauh dari gadget, hiruk pikuk kota, dan rutinitas melelahkan. Nikmati quality time spiritual bersama pasangan di tengah kesejukan Puncak. Biarkan Al-Qur'an menjadi perekat hati yang mulai renggang. Dibimbing Syaikh As'ad Humam Lc., Al-Hafidz (Alumni Al-Azhar & pewaris sanad Al-Qur'an), Anda berdua akan menemukan kembali mawaddah dan rahmah yang hilang.
🧘 Untuk Individu yang Butuh Ketenangan
Lelah dengan tekanan hidup? Butuh ruang untuk menenangkan pikiran dan menguatkan iman? Dauroh ini memberi Anda kesempatan me-time spiritual yang bermakna. Kembali dengan hati lebih tenang, pikiran lebih jernih, dan iman lebih kuat—siap menghadapi badai kehidupan dengan penuh keberkahan.
👨👩👧👦 Ajak Keluarga Besar Anda
Libatkan orang tua, mertua, atau keluarga besar dalam memperkuat fondasi keluarga. Program Dauroh Usia Senja (50 tahun ke atas) atau Dauroh Keluarga bisa menjadi momen langka berkumpul sambil mendekatkan diri pada Allah. Keluarga yang bersama Al-Qur'an adalah keluarga yang diberkahi.
✨ Fleksibel 1-40 Hari | Kapasitas 150 Orang | Fasilitas Lengkap
📲 Info lebih lanjut:
🌐 gentaqurani.id/dauroh-al-quran
📱 WhatsApp: 0812-2650-2573 | 0813-9830-0644
📍 Sirnagalih, Megamendung, Kab. Bogor, Jawa Barat 16770
Jangan tunggu hingga keluarga benar-benar runtuh. Perbaiki dari sekarang, perkuat dari dalam—dengan Al-Qur'an sebagai fondasinya. Karena keluarga yang dekat dengan Al-Qur'an, adalah keluarga yang Allah jaga. 💚
Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

