Mutiara Nasihat Ali bin Abi Thalib: Dari Zuhud hingga Pentingnya Rasa Malu
Siapa yang tak kenal Ali bin Abi Thalib? Sosok yang dijuluki Karamallahu wajhah ini bukan hanya dikenal sebagai khalifah keempat, tetapi juga sebagai mata air kebijaksanaan yang tidak pernah kering. Nasihat-nasihatnya menembus zaman, tetap relevan hingga hari ini.
Abu Nu'aim al-Ashbihani, seorang ulama besar di abad keempat Hijriyah, mengabadikan jejak kehidupan para wali Allah dalam karya monumentalnya: Hilyat al-Auliya wa Thabaqath al-Ashfiya (Perhiasan Para Wali dan Tingkatan Orang-orang Suci). Dalam kitab tebal itu, ia tidak sekadar mencatat biografi para sahabat, tabiin, dan tabiit tabiin, tetapi juga merangkum nasihat-nasihat berharga dari para ulama salaf.
Di antara mutiara kata yang ia nukil dari Ali bin Abi Thalib, ada lima petuah yang begitu istimewa. Imam Ali bahkan berkata dengan penuh keyakinan: "Hafalkanlah lima hal dari saya. Seandainya kalian mengendarai unta untuk mencarinya, pasti unta itu sudah binasa sebelum kalian mendapatkannya."
Bayangkan betapa tingginya nilai nasihat-nasihat itu! Mari kita renungkan tiga dari lima petuah agung tersebut.
DAFTAR ISI
Zuhud: Mengharap Hanya kepada Allah
"Janganlah seorang hamba Allah mengharapkan selain Tuhannya."
Kalimat pertama ini terdengar sederhana, namun mengandung kedalaman makna yang luar biasa. Imam Ali mengajak kita untuk menghayati esensi ketauhidan yang sesungguhnya: berharap hanya kepada Allah, bukan kepada makhluk.
Namun jangan salah paham. Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia sama sekali, lalu mengasingkan diri di gua atau gunung seperti para pertapa. Rasulullah SAW sendiri mengajarkan umatnya untuk tetap berperan aktif di dunia. Banyak sahabat beliau yang hartanya melimpah—seperti Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, dan lainnya—namun kekayaan mereka tidak membuat lupa daratan.
Kekayaan dunia mereka tidak menghalangi untuk tetap tunduk sebagai hamba Allah. Mereka tetap taat, takwa, dan selalu ingat bahwa segala yang dimiliki adalah titipan, bukan kepemilikan abadi.
Imam al-Junaid pernah memberi gambaran indah tentang zuhud dalam kitab Madarij as-Salikin: "Orang yang zuhud tidak menjadi bangga karena memiliki dunia dan tidak menjadi sedih karena kehilangan dunia."
Inilah inti zuhud yang sesungguhnya. Bukan tentang miskin atau kaya, tetapi tentang kemerdekaan hati dari belenggu dunia. Yang dicari ahli zuhud hanyalah ridha Allah semata. Harta boleh ada, jabatan boleh tinggi, tetapi hati tetap terikat pada-Nya.
Takut pada Dosa, Bukan pada Makhluk
"Janganlah merasa takut kecuali kepada dosa sendiri."
Pesan kedua Ali bin Abi Thalib ini mengingatkan kita tentang prioritas ketakutan seorang mukmin. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering membuat kita gelisah—takut miskin, takut dicemooh, takut gagal—Imam Ali justru mengarahkan kita pada satu ketakutan yang lebih fundamental: takut pada dosa.
Manusia memang tempatnya salah dan khilaf. Tidak ada yang maksum kecuali para nabi dan rasul. Namun justru karena itulah kita harus senantiasa waspada, jangan sampai meremehkan dosa sekecil apa pun.
Allah berfirman dalam QS al-Baqarah ayat 286:
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
Dan dalam QS az-Zumar ayat 53, Allah menegaskan:
قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ
"Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.'"
Inilah keseimbangan yang diajarkan Islam. Di satu sisi, kita harus takut dan waspada terhadap dosa. Di sisi lain, kita tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah ketika sudah terlanjur berbuat salah.
Orang yang senantiasa ingat dan takut akan dosanya akan selalu bertobat. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Ahmad:
"Sesungguhnya Allah menyukai seorang hamba mukmin yang terjerumus dosa, tetapi kemudian bertobat."
Tobat bukan tanda kelemahan. Justru tobat adalah tanda kekuatan spiritual, bukti bahwa hati masih hidup dan belum mati rasa.
Rasa Malu yang Memuliakan Ilmu
Pesan ketiga Imam Ali berbicara tentang adab dalam menuntut dan mengajarkan ilmu:
"Jangan sampai orang bodoh merasa malu untuk bertanya tentang sesuatu yang tidak ia ketahui. Dan, jangan sampai pula orang yang berilmu merasa malu untuk mengatakan 'Allah lebih mengetahui (wallahu a'lam)' ketika dirinya ditanya ihwal perkara yang tidak diketahuinya."
Dua sisi dari satu mata uang yang sama: kerendahan hati.
Bagi orang awam, rasa malu untuk bertanya adalah musuh utama ilmu. Berapa banyak orang yang tetap bodoh karena gengsi bertanya? Mereka takut dianggap tidak tahu, padahal justru dengan bertanyalah kebodohan bisa terobati.
Sementara bagi orang berilmu, kesombongan ilmu adalah jebakan berbahaya. Merasa tahu segalanya, enggan mengakui keterbatasan, dan sulit mengucapkan "wallahu a'lam" ketika ditanya hal yang tidak dikuasai—ini semua adalah pintu masuk keangkuhan.
Keangkuhan hanya membawa pada kehancuran. Dalam literatur tasawuf, sering disebutkan kisah Iblis sebagai pelajaran. Ia adalah makhluk yang berilmu, bahkan sempat beribadah ribuan tahun. Namun kesombongan membuatnya berani membangkang perintah Allah untuk sujud kepada Adam. Ujungnya? Ia menjadi makhluk yang terlaknat hingga hari kiamat.
Lima Nasihat yang Tak Ternilai
Tiga nasihat di atas baru sebagian dari lima petuah agung Ali bin Abi Thalib yang tercatat dalam Hilyat al-Auliya. Setiap kata beliau padat makna, mengajak kita untuk merenungkan kembali bagaimana seharusnya kita menjalani hidup sebagai hamba Allah.
Zuhud yang merdekakan hati, ketakutan pada dosa yang membuat kita selalu bertobat, dan rasa malu yang memuliakan ilmu—tiga hal ini adalah fondasi karakter seorang mukmin sejati.
Di zaman yang penuh godaan dan distraksi seperti sekarang, nasihat-nasihat Imam Ali terasa semakin relevan. Kita butuh kembali kepada nilai-nilai luhur yang diajarkan para salafush shalih, agar tidak tersesat di tengah arus modernitas yang terus menggerus spiritualitas.
Mari kita renungkan, hafal, dan yang terpenting: amalkan. Sebab ilmu tanpa amal adalah seperti pohon tanpa buah.
Referensi:
- Abu Nu'aim al-Ashbihani, Hilyat al-Auliya wa Thabaqath al-Ashfiya
- Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah, Madarij as-Salikin
- Musnad Ahmad
Sumber Artikel: Khazanah Republika | Penulis: Hasanul Rizqa | 09 Februari 2026.
Waktunya Membawa Anak pada Pengalaman Spiritual yang Mengubah Hidup
Sebagai orang tua, kita tentu ingin anak-anak kita tumbuh dengan hati yang tentram dan jiwa yang kuat. Nasihat Ali bin Abi Thalib di atas mengingatkan: zuhud, takut pada dosa, dan rasa malu yang memuliakan ilmu—tiga fondasi karakter yang kita impikan untuk buah hati kita.
Namun di tengah gempuran gadget dan media sosial, bagaimana caranya menanamkan nilai-nilai mulia ini pada anak remaja kita?
Pesantren Daarul Mutqin menghadirkan solusi: Program Dauroh Al-Quran "Healing with Qur'an"—sebuah program intensif 1 bulan untuk menghafal 30 juz perdana, atau bisa juga mengikuti program fleksibel mulai dari 1 hari hingga 40 hari.
Bayangkan: anak Anda meninggalkan hiruk-pikuk kota, merasakan kesejukan Puncak, dan membenamkan diri dalam tilawah Al-Quran bersama para pembimbing yang kompeten. Di sini, mereka tidak hanya menghafal, tetapi merasakan kedamaian sejati yang sulit ditemukan di tempat lain.
Dibimbing langsung oleh Syaikh As'ad Humam Lc, Al-Hafidz—alumni Al-Azhar Kairo dan pewaris sanad Al-Quran—anak Anda akan mendapat bimbingan terbaik dalam perjalanan spiritual mereka.
Fasilitas lengkap, suasana asri, dan kurikulum yang terbukti efektif—semua dirancang agar anak Anda pulang bukan hanya dengan hafalan, tetapi dengan hati yang berubah.
Ini bukan sekadar liburan biasa. Ini investasi akhirat untuk masa depan anak tercinta.
📲 Info Lebih Lanjut:
🔗 gentaqurani.id/dauroh-al-quran
📱 0813-9830-0644 | 0812-2650-2573
📌 Sirnagalih, Megamendung, Kab. Bogor, Jawa Barat 16770
Berikan anak Anda pengalaman yang tak akan pernah mereka lupakan.
Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.



