Skip to main content
Ilustrasi Kelapangan Harta

Hati-Hati, Kelapangan Hidup Mudah Diintervensi Nafsu

Siapa yang tidak mendambakan kehidupan yang lapang? Hampir setiap insan di muka bumi ini berharap bisa hidup dengan harta yang cukup, rezeki yang melimpah, dan kebahagiaan yang berlimpah ruah. Namun, tahukah kita bahwa justru di balik kelapangan itu, tersimpan ujian yang tidak kalah berat?

Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari, seorang ulama sufi besar dari abad ke-13, mengingatkan kita melalui mutiara hikmahnya dalam Kitab Al-Hikam: Nasihat Hikmah yang Menjadi Makanan Bagi Jiwa. Beliau menyatakan bahwa kondisi lapang justru membuka celah bagi nafsu untuk masuk dan menguasai hati.

"Nafsu akan mengambil peranan dalam sebuah kondisi yang lapang, yaitu dengan kebahagiaan. Tetapi nafsu tidak memiliki peranan dalam keadaan yang sempit." (Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam)

Pernyataan ini mengejutkan sekaligus membuka mata kita. Ternyata, momen kebahagiaan dan kelimpahan yang kita idam-idamkan bisa menjadi pintu masuk bagi musuh terbesar kita: nafsu.

DAFTAR ISI

Ketika Kelapangan Menjadi Ujian Tersembunyi

Bayangkan seseorang yang tiba-tiba mendapat kenaikan jabatan, warisan besar, atau kesuksesan bisnis yang mengalir deras. Perasaan bahagia membuncah, rasa syukur mengalir, dan semua terasa sempurna. Namun, di sinilah letak bahayanya.

Dalam kondisi lapang seperti ini, tanpa disadari, seseorang bisa mulai merasa superior. Ia mulai memandang rendah orang-orang yang belum seberuntung dirinya. Mereka yang masih berjuang mencari nafkah dipandang sebelah mata. Mereka yang tertimpa musibah dianggap kurang berusaha.

Lebih berbahaya lagi, sikap ini bisa merembet menjadi kesombongan spiritual. Ia mulai merasa bahwa semua pencapaiannya adalah hasil kerja keras pribadi, lupa bahwa setiap nikmat adalah pemberian Allah SWT semata. Bukankah ini adalah jebakan nafsu yang paling halus namun paling mematikan?

Bentuk Keangkuhan yang Muncul dari Kelapangan

Ada beberapa wujud intervensi nafsu saat kita berada dalam kelapangan:

Pertama, meremehkan sesama makhluk. Ini adalah bentuk buruknya etika terhadap sesama. Kita lupa bahwa hari ini kita di atas, belum tentu besok tetap di sana. Roda kehidupan terus berputar, dan hanya Allah yang Maha Kuasa atas segalanya.

Kedua, kurang ajar kepada Allah SWT. Ini adalah level yang paling berbahaya. Ketika seseorang merasa hebat dan menganggap segala pencapaiannya murni hasil usahanya sendiri, ia telah mengingkari hakikat bahwa Allah adalah pemberi rezeki. Padahal, dalam Al-Quran, Allah berfirman bahwa Dialah yang memberi dan yang mengambil.

Ketiga, lalai dari mengingat Allah. Kesibukan menikmati kelapangan membuat hati jauh dari Dzikir: Nutrisi Hati yang Tak Ternilai Harganya. Padahal, justru dalam kondisi lapang inilah kita seharusnya semakin mendekat kepada-Nya.

Berbeda dengan Kondisi Sempit

Syekh Ibnu Athaillah kemudian membandingkannya dengan kondisi kesempitan. Dalam keadaan sulit, hampir tidak ada celah bagi nafsu untuk masuk. Mengapa?

Karena jiwa yang berada dalam kesempitan dipenuhi dengan keresahan dan kegelisahan. Hati menjadi sangat sadar akan kebutuhan mutlaknya kepada Allah. Dalam kondisi seperti ini, bagaimana mungkin seseorang bisa menjauh dari-Nya? Justru ia akan semakin menjaga adab dan etikanya kepada Sang Pencipta.

Orang yang sedang dalam kesempitan akan lebih sering berdoa, lebih khusyuk beribadah, dan lebih tawadhu. Ia sadar betul bahwa hanya Allah yang bisa mengeluarkannya dari kesulitan. Kondisi ini, meski terasa berat, justru menjadi sarana pembersihan hati dan pendekat diri kepada-Nya.

Seperti yang dijelaskan dalam artikel "Jangan Memaksa Allah, Belajar Ridha Ketika Berdoa", kita perlu memahami bahwa setiap kondisi—baik lapang maupun sempit—adalah ujian dan jalan menuju kedekatan dengan Allah.

Menjaga Hati di Tengah Kelapangan

Lalu, bagaimana caranya agar kita tidak terjerumus dalam perangkap nafsu saat mendapat kelapangan?

Pertama, selalu ingat bahwa semua nikmat adalah pemberian Allah. Bukan hasil usaha kita semata. Usaha memang penting, tapi Allah-lah yang memberi hasil. Kesadaran ini akan menjaga kita dari kesombongan.

Kedua, perbanyak syukur dengan lisan dan perbuatan. Jangan hanya mengucapkan "Alhamdulillah" di bibir, tapi wujudkan dalam tindakan nyata. Berbagi kepada yang membutuhkan, membantu sesama, dan terus beramal saleh.

Ketiga, jaga adab kepada Allah dan sesama makhluk. Kelapangan bukan alasan untuk sombong atau meremehkan orang lain. Justru dengan kelapangan, kita memiliki tanggung jawab lebih besar untuk berbuat baik.

Keempat, tetap istiqamah dalam ketaatan. Jangan sampai karena sibuk menikmati kelapangan, ibadah menjadi terabaikan. Tujuh Tips Agar Istiqamah Dalam Ketaatan bisa menjadi panduan kita dalam menjaga konsistensi beribadah.

Tanda Orang Sabar dan Taubat

 ilustrasi orang yang bertaubat

Dalam konteks menjaga diri dari intervensi nafsu ini, Rasulullah SAW memberikan petunjuk kepada sahabat Ali bin Abi Thalib tentang tanda-tanda orang yang benar-benar sabar dan bertaubat.

Tiga Tanda Orang yang Sabar

يَا عَلِيُّ، وَلِلصَّبُورِ ثَلاَثُ عَلاَمَاتٍ أَلصَّبْرُ عَلَى طَاعَةِ اللهِ تَعَالَى وَالصَّبْرُ عَلَى الْمَصِيبَةِ وَالصَّبْرُ عَلَى قَضَاءِ اللهِ تَعَالَى

"Wahai Ali, Orang yang benar-benar sabar punya tiga tanda. Yaitu sabar atas ketaatan pada Allah (istiqamah), dan sabar ketika dapat musibah, dan sabar menerima takdir Allah."

Kesabaran bukan hanya tentang bertahan dalam kesulitan. Lebih dari itu, kesabaran sejati adalah kemampuan untuk tetap istiqamah dalam ketaatan, tabah menghadapi ujian, dan ridha dengan takdir-Nya—baik dalam kondisi lapang maupun sempit.

Tiga Tanda Orang yang Bertaubat

يَا عَلِيُّ، وَلِلتَّائِبِ ثَلاَثُ عَلاَمَاتٍ اجْتِنَابُ الْحَرَامِ وَالْحِرْصُ عَلَى طَلَبِ الْحَلاَلِ وَلاَ يَعُودُ لِلذَّنْبِ كَمَا لاَ يَعُودُ الْحَلِيبُ لِلضَّرْعِ

"Wahai Ali, orang yang taubat punya tiga tanda. Yaitu menjauhi perkara yang diharamkan (maksiat atau kemungkaran), dan semangat mencari ilmu (untuk memperbaiki semua amal), dan tidak mengulangi semua dosa sebagaimana susu tidak akan kembali ke putingnya."

Taubat yang sejati ditandai dengan perubahan nyata: menjauhi yang haram, bersemangat mencari yang halal melalui ilmu, dan tidak kembali kepada dosa. Analogi susu yang tidak bisa kembali ke putingnya sangat powerful—menggambarkan betapa kuatnya komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan.

Dalam Membuka Pintu-Pintu Rahmat Allah dengan Istighfar, kita belajar bahwa taubat dan istighfar adalah kunci membuka pintu rahmat Allah, baik dalam kondisi lapang maupun sempit.

Penutup

Kelapangan hidup adalah nikmat sekaligus ujian. Di balik kelimpahan harta dan kebahagiaan, tersimpan potensi besar bagi nafsu untuk mengintervensi hati kita. Karena itu, kewaspadaan menjadi kunci.

Mari kita belajar untuk tetap rendah hati di tengah kelapangan, senantiasa bersyukur, dan tidak lupa bahwa semua adalah pemberian Allah. Jangan sampai kebahagiaan duniawi membuat kita lupa kepada Sang Pemberi Kebahagiaan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menjaga hati dari intervensi nafsu, baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Wallahu a'lam.


Sumber Rujukan: Kitab Al-Hikam dan Penjelasannya oleh Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari, dengan penjelasan tambahan D A Pakih Sati, Penerbit Noktah, 2017.

Sumber Asli Tulisan: Fuji Eka Permana dan Ani Nursalikah, 03 Januari 2026


 

dauroh dan quran camp 25 04 17

 

Jaga Hati Anak dengan Mendekatkannya pada Al-Quran

Sebagai orangtua, kita tentu paham betul bahwa menjaga hati anak di zaman sekarang bukanlah perkara mudah. Gempuran dunia digital, tekanan pergaulan, dan hiruk-pikuk kehidupan modern bisa jadi "kelapangan" yang justru mengintervensi hati mereka—persis seperti peringatan Syekh Ibnu Athaillah tadi.

Lantas, bagaimana cara kita membentengi hati buah hati tercinta?

Jawabannya sederhana: kembalikan mereka kepada Al-Quran.

Bayangkan jika anak remaja kita—yang biasanya sibuk dengan gadget dan rutinitas sekolah—bisa punya kesempatan untuk healing sekaligus menghafal 30 juz Al-Quran dalam sebulan. Bukan di tengah keramaian kota, tapi di kaki gunung Puncak yang sejuk dan damai.

Program Dauroh Al-Quran "Healing with Qur'an" Pesantren Daarul Mutqin hadir sebagai jawaban. Ini bukan sekadar program tahfidz biasa. Ini adalah perjalanan spiritual yang akan mengubah cara anak memandang dirinya, dunia, dan Tuhannya.

Dibimbing langsung oleh Syaikh As'ad Humam Lc, Al-Hafidz—alumni Al-Azhar Kairo dan pewaris sanad Al-Quran—anak Anda akan merasakan pengalaman belajar yang tak terlupakan. Fasilitas lengkap, suasana asri, dan metode pembelajaran yang terbukti efektif membuat proses menghafal terasa ringan dan menyenangkan.

Yang istimewa? Fleksibel! Mau ikut sehari, seminggu, atau sebulan penuh? Semua bisa disesuaikan dengan jadwal liburan sekolah anak Anda.

Jangan biarkan masa muda mereka hanya diisi dengan hal-hal yang fana. Beri mereka bekal terbaik: hafalan Al-Quran yang akan menjadi penolong di dunia dan akhirat.

📲 Hubungi kami sekarang:
🔗 gentaqurani.id/dauroh-al-quran

📱 0813-9830-0644 | 0812-2650-2573
📌 Sirnagalih, Megamendung, Kab. Bogor, Jawa Barat 16770

Mari wujudkan harapan kita bersama. Daftarkan anak tercinta Anda sekarang! 💚



quran camp 2025 04 19

Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

✓ Link berhasil disalin!
Diterbitkan Dikategori Blog.
Tagar: 2026