Skip to main content
Basra (Bashrah), salah satu kota penting dalam sejarah ulama dan peradaban Islam.

Nasihat Ali bin Abi Thalib untuk Hasan Al-Bashri Muda

Ada nasihat yang lahir bukan dari panggung besar, bukan pula dari sorak-sorai majelis. Ia lahir dari perjumpaan singkat—di sela aktivitas harian—namun bekasnya menembus zaman. Nasihat itu datang dari Amirul Mukminin, Ali bin Abu Thalib radhiyallahu anhu, kepada seorang anak yang kelak menjadi ulama besar: Hasan Al-Bashri.

Kisah ini disebut terjadi seusai Perang Unta—sebuah fase yang menandai riuhnya ujian sosial-politik umat, yang dalam catatan sejarah dikenal sebagai Battle of the Camel. Di tengah suasana pascaperistiwa itu, Ali bin Abu Thalib tidak hanya memikirkan strategi dan urusan negara; beliau juga menengok urat nadi rakyat: pasar, perniagaan, takaran, timbangan, dan kejujuran yang menjaga hidup tetap lurus.

Di titik inilah kita seperti diajak memahami: keselamatan dunia dan akhirat sering bermula dari hal yang tampak kecil—cara menakar, cara menimbang, cara menahan diri, cara membersihkan hati, dan cara menegakkan ibadah dengan benar.

Neraca dan batu timbangan

DAFTAR ISI

Perjumpaan yang Tenang di Bashrah

Dikutip dari buku Imamul Muhtadin karya HMH Al-Hamid Al-Husaini, Hasan Al-Bashri meriwayatkan peristiwa itu dengan kalimat yang jernih, seperti air wudhu yang sedang ia ambil.

“Ketika aku masih kanak-kanak usia belasan tahun aku tinggal di Bashrah.

Pada suatu hari, di saat aku sedang mengambil air wudhu, lewat seorang lelaki menunggang kuda berwarna kelabu dan memakai serban berwarna hitam.

Entah dari siapa dia mengetahui namaku, karena tiba-tiba dia berkata, 'Hai Hasan, ambillah air wudhu dengan baik, niscaya Allah akan melimpahkan kebaikan kepadamu di dunia dan akhirat. Hai Hasan, tahukah engkau bahwa shalat itu merupakan ukuran."

"Aku mengangkat kepala dan setelah kuperhatikan sejenak ternyata lelaki itu adalah Amirul Mukminin, Ali bin Abu Thalib, karramallahu-wajhahu. Aku segera menyempurnakan wudhu, kemudian aku berjalan cepat mengikutinya di belakang kuda yang berjalan perlahan-lahan," kata Hasan Al-Bashri menceritakan.

Keran wudhu di masjid persiapan shalat

Kalimat “shalat itu merupakan ukuran” terasa seperti mengetuk pelan, namun tepat di pusat dada. Ukuran bagi apa? Bagi hidup kita: apakah kita sedang rapi atau berantakan; jujur atau menipu; tenang atau pura-pura tenang. Dan sebelum shalat berdiri, Ali mengingatkan adab awalnya: wudhu yang baik—seakan beliau sedang menuntun Hasan kecil kepada adab berwudhu yang benar, agar ibadah tidak sekadar gerak, tetapi juga arah.

Hasan lalu mendekat, dan dialog itu berlanjut.

Hasan Al-Bashri berkata, "Ketika Ali bin Abu Thalib mengetahui aku berada di dekatnya, dia menoleh lalu bertanya, 'Hai bocah, apakah engkau mempunyai keperluan denganku?"

Hasan Al-Bashri menjawab, "Benar, ya Amirul Mukminin. Berilah nasihat kepadaku beberapa patah kata yang berguna bagiku di dunia dan akhirat."

Permintaan Hasan sangat sederhana: “beberapa patah kata.” Namun justru dari kesederhanaan itu lahir petuah yang seperti peta perjalanan.

Tiga Pintu Keselamatan: Iman, Takut Dosa, dan Zuhud

Ali bin Abu Thalib berhenti sejenak—seolah menata kata agar tepat sasaran—lalu menyampaikan inti yang padat:

"Ketahuilah, bahwa orang yang percaya kepada Allah dia pasti selamat. Siapa yang takut berbuat dosa ia pasti terhindar dari perbuatan buruk. Siapa yang hidup zuhud di dunia ini, di akhirat kelak ia akan senang melihat pahala yang dilimpahkan Allah kepadanya."

Perhatikan urutannya:

  1. Percaya kepada Allah: bukan sekadar mengenal nama-Nya, tetapi bersandar kepada-Nya dalam keputusan dan ujian. Iman membuat seseorang tidak mudah goyah oleh pujian maupun cacian.

  2. Takut berbuat dosa: bukan ketakutan yang melumpuhkan, melainkan kewaspadaan yang menjaga langkah—seperti orang yang meniti jalan licin, pelan namun selamat.

  3. Zuhud: bukan berarti memusuhi dunia, tetapi menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Dalam literatur, zuhd kerap dipahami sebagai “detachment”—lepas dari cengkeram kemewahan yang membuat hati keras.

Di sini, Ali seakan berkata: keselamatan bukan hanya soal “punya ilmu,” melainkan “punya kendali diri.” Dan kendali diri itu lahir dari hati yang bekerja.

Tambahan yang Menjaga Arah: Rindu Bertemu Allah dan Kejujuran

Setelah jeda yang singkat, Ali menawarkan penegasan kedua:

Setelah diam sebentar Ali bin Abu Thalib bertanya lagi, "Maukah kutambah?"

Hasan Al-Bashri menjawab, "Mau ya Amirul Mukiminin."

Ali bin Abu Thalib meneruskan kata-katanya, "Jika engkau merindukan pertemuan dengan Allah di akhirat kelak, Allah tentu merindukanmu, karena itu hendaklah engkau hidup zuhud di dunia dan selalu mendambakan kehidupan akhirat. Engkau harus jujur dalam segala urusanmu agar kelak engkau termasuk orang-orang yang memperoleh keselamatan di akhirat. Ingatlah, apabila engkau memperhatikan dan menjalankan benar-benar perkataanku, Insya Allah engkau akan memperoleh manfaatnya."

Ada dua penekanan yang sangat tajam:

  • Kerinduan kepada Allah: kerinduan itu bukan slogan, melainkan pilihan harian—memilih yang halal, menahan yang syubhat, menguatkan cinta Al-Quran agar hidup tidak kosong.

  • Kejujuran: “jujur dalam segala urusanmu.” Ini bukan hanya urusan transaksi, tetapi juga niat, janji, dan amanah. Kejujuran adalah tiang yang sering tak terlihat, tetapi bila runtuh, bangunan apa pun ikut runtuh.

Bila nasihat ini kita bawa ke rumah, ia relevan untuk siapa pun—terutama orang tua yang sedang membimbing anak usia SMP/SMA. Anak-anak belajar bukan hanya dari ceramah, tetapi dari arah hidup orang tuanya. Maka, selain mendidik dengan kata, kita perlu menghidupkan mendidik anak dengan bercerita—dengan teladan yang sehari-hari.

Nasihat Ulama Tentang Pentingnya Amalan Hati

Fragmen kaligrafi Al Quran Surah Al Fatihah

Jika nasihat Ali adalah peta, maka ulama mengingatkan bahan bakarnya: amalan hati. Sebab ibadah lahir tanpa hati sering berubah menjadi rutinitas yang kering. Dalam sebuah infografis Republika tentang pentingnya amalan hati, beberapa kutipan berikut dinukil apa adanya:

Bakr bin Abdullah Abu Zaid

"Orang yang paling bahagia adalah orang yang paling besar ubudiyahnya kepada Allah swt."

Kalimat ini seperti menggeser ukuran bahagia: bukan semata banyaknya milik, tetapi dalamnya ubudiyah. Ubudiyah lahir memang tampak: lisan dan anggota tubuh. Namun ubudiyah batin—ikhlas, takut kepada Allah, berharap kepada-Nya—itulah yang mengangkat amal.

Ibnu Taimiyah

"Menanamkan amalan hati ke dalam keimanan itu lebih utama daripada menanamkan amalan anggota tubuh, berdsaarkan kesepakatan seluruh mazhab."

Kutipan ini mengingatkan bahwa “yang paling menentukan” sering bukan yang paling terlihat. Kita bisa berdiri dalam shalat, tetapi hati berkelana. Kita bisa berinfak, tetapi hati menuntut pujian. Maka tugas besar seorang pecinta Al-Quran adalah menata batin agar ayat-ayat yang dibaca turun menjadi akhlak.

Ibnu Qoyyim

"Kewajiban hati itu lebih penting ketimbang kewajiban fisik."

Karena itu, ketika kita sibuk memperbaiki amal lahir, jangan lupa amal batin: istighfar, muhasabah, dan menimbang niat. Di sinilah meniti sunnah Nabi Muhammad saw menjadi jalan aman—agar amal tidak semata ramai, tapi juga lurus.

Mengapa Amalan Hati Menjadi Kunci?

Amalan hati itu seperti akar. Akar tidak terlihat, tetapi menentukan apakah pohon berdiri atau tumbang.

Agar lebih mudah diterapkan, berikut contoh amalan hati yang bisa dibiasakan—tanpa mengubah hidup menjadi berat:

  • Ikhlas: belajar menyimpan amal baik agar Allah yang tahu.

  • Syukur: menyebut nikmat, lalu memakainya untuk taat.

  • Sabar: bertahan di jalan benar, bukan sekadar menahan emosi.

  • Tawakal: bekerja sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasil kepada Allah.

  • Khauf dan raja’: takut kepada dosa sekaligus berharap rahmat-Nya.

Bila amalan hati menguat, nasihat Ali tentang iman, takut dosa, dan zuhud menjadi lebih mudah dijalani. Sebaliknya, bila hati rapuh, amal lahir mudah dipakai untuk menutup kekosongan batin.

Lima Amalan yang Membuat Manusia Didoakan Malaikat

 Interior masjid dengan saf rapi untuk shalat berjamaah

Bagian ini mengajak kita turun dari “wacana” ke “kebiasaan.” Ringkasnya, ada amalan-amalan yang disebut dalam hadits-hadits sahih sebagai sebab turunnya doa malaikat bagi seorang hamba. Berikut penjelasannya—dengan bahasa yang membumi, agar mudah dikerjakan.

1) Duduk di masjid menunggu waktu sholat

Menunggu waktu shalat di masjid bukan hanya soal hadir lebih awal. Ia adalah latihan mengalahkan tergesa-gesa dunia, lalu memilih teduhnya rumah Allah. Dalam riwayat, malaikat mendoakan seseorang selama ia menunggu shalat dan tidak melakukan hal yang membatalkan kesuciannya; rujuk misalnya Sahih Muslim 649i.

Praktik sederhana:

  • Datang 10–15 menit lebih awal.

  • Setelah shalat, tahan diri untuk tidak langsung “kabur” ke urusan lain.

  • Gunakan sela waktu untuk dzikir pelan dan membaca keutamaan khatam membaca Alquran secara bertahap.

2) Orang yang mengajarkan ilmunya

Ilmu yang bermanfaat tidak berhenti di kepala. Ia mengalir ke orang lain—keluarga, anak, tetangga—dengan cara yang lembut. Dalam beberapa riwayat, disebut keutamaan besar bagi orang yang mengajarkan kebaikan, bahkan makhluk-makhluk mendoakan; salah satu rujukannya dapat dilihat pada Jami` at-Tirmidhi 2685.

Praktik sederhana:

  • Bagikan satu pelajaran kecil setiap hari: adab, ayat, atau kisah.

  • Ajak anak berdiskusi, bukan memojokkan.

  • Mulai dari rumah: satu kebiasaan baik yang konsisten.

3) Mengeluarkan harta di jalan Allah SWT

Ada doa yang turun setiap pagi—seperti embun yang tak terlihat namun nyata. Dalam hadits sahih, dua malaikat turun: satu mendoakan orang yang berinfak, satu lagi mendoakan kebinasaan bagi yang kikir; lihat Sahih al-Bukhari 1442. Di naskah asal juga tercantum kutipan berikut (dinukil apa adanya):

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda: Ya Allah berkahilah orang yang menafkahkan pengantinnya.

Praktik sederhana:

  • Jadikan sedekah “kebiasaan kecil” yang rutin.

  • Tidak harus besar; yang penting istiqamah dan hati lapang.

  • Jika ada rezeki lebih, bantu diam-diam, agar hati terlatih ikhlas.

4) Sholat jamaah dan berada di shaf terdepan

Shaf depan bukan soal gengsi. Ia adalah latihan disiplin: datang lebih awal, menahan malas, dan mendahulukan Allah. Dalam riwayat disebutkan keutamaan shaf awal; rujuk misalnya Sunan Abi Dawud 664.

Praktik sederhana:

  • Pasang target “minimal dua kali sepekan” untuk shaf awal.

  • Ajak anak laki-laki ikut jamaah (bila memungkinkan) dengan pendekatan yang hangat.

  • Setelah itu, pulang dengan cerita ringan agar masjid terasa ramah bagi mereka.

5) Manusia yang mendoakan orang lain

Ada amal yang sunyi namun berat timbangannya: mendoakan saudara tanpa ia tahu. Dalam hadits sahih, malaikat mengaminkan dan berkata, “Dan bagimu seperti itu,” untuk orang yang mendoakan saudaranya; lihat Sahih Muslim 2732a.

Praktik sederhana:

  • Buat daftar 5 nama: orang tua, pasangan, anak, sahabat, guru.

  • Doakan selepas shalat, singkat saja tapi rutin.

  • Saat ada orang menyakiti, doakan kebaikan agar hati tidak membusuk oleh dendam.

Ukuran Itu Bernama Hati

Ali bin Abu Thalib memulai nasihatnya dari wudhu, lalu mengarahkannya pada shalat sebagai ukuran. Seakan beliau berkata: ukuran itu bukan hanya ruku’ dan sujud; ukuran itu juga batin yang jujur.

Maka, jika hari ini kita ingin “selamat dunia dan akhirat,” mulailah dari tiga pintu yang beliau sebutkan: iman yang hidup, takut dosa yang menjaga, dan zuhud yang menenangkan. Lalu kuatkan dengan amalan hati: ikhlas, syukur, tawakal. Setelah itu, jadikan kebiasaan yang nyata: menunggu shalat di masjid, mengajarkan ilmu, berinfak, mengejar shaf awal, dan mendoakan orang lain.

Pada akhirnya, pecinta Al-Quran bukan hanya yang lancar membaca, tetapi yang hatinya ikut dibaca oleh Al-Quran—hingga ia berubah, pelan-pelan, menjadi manusia yang lebih bening.


Tulisan ini disusun ulang (parafrase) dari laporan Fuji Eka Permana danNashih Nashrullah yang terbit di Republika pada 23 Desember 2025, dengan tetap menjaga kutipan dan pesan utamanya.

 

dauroh dan quran camp 25 04 17

 

Menjemput Hidayah, Menata Hati Bersama Al-Qur’an

Setelah mendengar nasihat tentang iman, kejujuran, dan zuhud, kita seperti diingatkan: keselamatan bukan hanya dipahami, tetapi dilatih—pelan-pelan, hari demi hari. Dan salah satu cara paling lembut untuk melatihnya adalah memberi ruang bagi Al-Qur’an tinggal lebih lama di rumah hati kita, terutama di masa-masa anak sedang mencari arah dan pegangan.

Bila Anda sedang mencari program yang bukan sekadar “kegiatan liburan”, tetapi juga menghadirkan ketenangan, kedisiplinan, dan harapan baru bagi keluarga—khususnya untuk putra-putri usia SMP/SMA—Pesantren Daarul Mutqin menghadirkan Dauroh Al Quran: “Healing with Qur’an (1 Bulan Hafal 30 Juz Perdana)”. Berada di Puncak-Bogor yang sejuk dan asri, program ini memberi kesempatan peserta mengisi waktu full bersama Qur’an, dibimbing Syaikh As’ad Humam Lc, Al-Hafidz (Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir) dan para asatidz yang kompeten. Durasinya fleksibel—bisa sehari hingga 40 hari—dengan fasilitas lengkap agar peserta bisa fokus: masjid, tilawah per juz, penginapan berasrama, aula, lapangan, kolam renang, hingga tafakkur alam.

📲 Info Lanjut:
🔗 https://gentaqurani.id/dauroh-al-quran
📱 0813-9830-0644 | 0812-2650-2573
📌 Sirnagalih, Megamendung, Kab. Bogor, Jawa Barat 16770

 Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk semakin dekat kepada Kalam-Nya.



quran camp 2025 04 19

Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

✓ Link berhasil disalin!
Diterbitkan Dikategori Seputar Islam.
Tagar: 2025