Skip to main content
Ilustrasi Kitab Qur'an

Hidup Terasa Ringan Bila Pandai Bersyukur

Ada beban yang sebenarnya bukan beban: beban perasaan kita sendiri, yang sering menuntut hidup selalu “harus” begini dan begitu. Padahal, di bawah langit yang sama, banyak orang memiliki hal yang sama—namun rasa mereka berbeda. Ada yang ringan langkahnya, ada yang berat dadanya. Salah satu pembeda yang paling halus, tetapi paling kuat, adalah syukur.

Syukur bukan sekadar etika sosial, bukan pula hanya kalimat penghibur diri. Dalam Islam, syukur adalah ibadah. Ia tumbuh dari dalam, lalu memancar ke luar. Ia merapikan hati, menata lidah, dan menuntun tindakan. Karena itu, ketika kita berbicara tentang syukur, sebenarnya kita sedang membicarakan tanda hidupnya iman.

DAFTAR ISI

Syukur: tanda iman yang tidak hanya di mulut

Syukur adalah tanda keimanan seseorang kepada Allah. Namun syukur yang dimaksud bukan syukur yang hanya mampir sebentar di bibir. Bersyukur adalah salah satu ibadah hati yang paling utama dalam Islam. Ia meliputi tiga lapisan: pengakuan batin, pernyataan lisan, dan perbuatan yang memuliakan nikmat.

Kalau iman itu seperti akar, syukur adalah salah satu bukti bahwa akar itu benar-benar menyerap air. Orang yang bersyukur menyadari—dengan sadar dan jernih—bahwa apa pun yang ia punya, kecil atau besar, tampak atau tersembunyi, adalah pemberian Allah. Dari sini tumbuh sikap rendah hati, bukan rendah diri; tumbuh ketenangan, bukan kelengahan.

Bila Anda ingin melihat teks ayat yang sering dijadikan poros pembahasan syukur, Anda bisa membaca rujukannya langsung di Q.S. Ibrahim ayat 7 (Arab–latin–terjemah).

Makna syukur itu luas: hati, lisan, perbuatan

Syukur tidak hanya sekadar mengucapkan "alhamdulillah," tetapi juga meliputi pengakuan hati, ucapan lisan, dan perbuatan yang mencerminkan rasa terima kasih kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan.

Agar lebih mudah dipraktikkan, kita bisa memandang syukur sebagai tiga “pintu” yang saling menguatkan:

  1. Syukur hati: mengakui nikmat berasal dari Allah; menerima pemberian-Nya tanpa merasa paling layak.

  2. Syukur lisan: memuji Allah, menyebut nikmat-Nya dengan adab, dan tidak menggerutu di hadapan karunia.

  3. Syukur amal: menggunakan nikmat di jalan yang diridhai Allah—sehat untuk ketaatan, ilmu untuk kemaslahatan, rezeki untuk kebaikan.

Dalam salah satu naskah khutbah resmi Kemenag, dijelaskan bahwa kata syukur berdekatan dengan makna “menampakkan nikmat” (kebalikan dari kufur yang “menutupi nikmat”). Ini menolong kita memahami: syukur bukan sekadar rasa, tetapi cara hidup yang membuat nikmat terlihat melalui tindakan

Janji Allah: syukur menambah nikmat, kufur mengundang azab

Dalam Alquran, Allah SWT berfirman, yang artinya, "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.'" (QS Ibrahim: 7).

Ayat ini seperti lampu jalan: jelas, terang, tegas. Ada dua jalur, dua akibat. Syukur tidak berhenti sebagai “sikap baik”, tetapi menjadi sebab datangnya tambahan nikmat—dan sebaliknya, mengingkari nikmat membuka pintu ancaman yang berat.

Kadang kita mengira “tambah nikmat” itu hanya angka di rekening, atau barang di rumah. Padahal tambahan nikmat juga bisa berupa hal yang lebih lembut: ketenangan, kelapangan dada, mudahnya kebaikan, ringannya ibadah, atau dijauhkan dari gelapnya iri. Inilah yang sering tidak terlihat, tetapi terasa paling menentukan.

Untuk memperdalam pemahaman, Anda bisa membaca penjelasan syukur sebagai “menggunakan nikmat sesuai kehendak Pemberi” lewat naskah khutbah “Empat Cara Mensyukuri Nikmat” di Kemenag Jawa Barat.

Nikmat Allah tidak habis dihitung, tapi bisa diingat

Syukur adalah tanda keimanan seseorang. Seorang yang pandai bersyukur berarti ia menyadari bahwa segala sesuatu yang ia miliki berasal dari Allah SWT. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS An-Nahl: 18, "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Ayat ini mengajak kita melakukan sesuatu yang mustahil: menghitung nikmat Allah. Mustahil, bukan untuk membuat kita putus asa—melainkan untuk membuat kita sadar. Manusia sering ingat yang hilang, lupa yang masih ada. Padahal nikmat itu seperti udara: ia tidak selalu kita sadari, sampai ia berkurang.

Kalau Anda ingin mengajak pembaca “bertemu” dengan ayat ini secara utuh, Anda bisa tautkan rujukannya ke Q.S. An-Nahl ayat 18 (Arab–latin–terjemah).

Dan di sinilah syukur menjadi latihan yang nyata, bukan konsep yang melayang. Misalnya:

  • Menyadari nikmat iman: masih diberi kesempatan kembali, masih diberi rasa takut yang sehat pada dosa.

  • Menyadari nikmat waktu: masih diberi pagi, masih diberi kesempatan memperbaiki kesalahan.

  • Menyadari nikmat keluarga: ada yang mendampingi, ada yang mendoakan, atau setidaknya ada pelajaran berharga dari hubungan yang sedang diuji.

  • Menyadari nikmat Al-Qur’an: masih bisa membaca, mendengar, menghafal, atau mencintainya.

Keutamaan syukur: tiga buah yang paling terasa

Manuskrip Al Quran kuno bergaya kufi di museum

Syukur memiliki keutamaan yang besar dalam Islam. Ada tiga buah utama yang paling mudah kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari.

1) Syukur menegaskan iman: semuanya dari Allah

Ketika seseorang benar-benar bersyukur, ia sedang mengakui “Aku ini hamba.” Ia sadar bahwa kemampuan bekerja, kesehatan, peluang, bahkan ide yang datang di kepala—semuanya terjadi karena Allah mengizinkan. Maka syukur memotong akar kesombongan: saya hebat karena usaha saya. Syukur mengoreksinya menjadi: saya berusaha, tetapi Allah yang memberi hasil.

Inilah mengapa syukur bukan sekadar perasaan, melainkan pengakuan ketergantungan kepada Sang Pencipta.

2) Syukur mengundang tambahan nikmat: lahir dan batin

Janji Allah jelas: orang yang bersyukur akan ditambah nikmatnya. Tambahan itu bisa berbentuk materi, bisa pula berbentuk batin. Ada orang yang rezekinya pas-pasan tetapi rumahnya hangat, tidurnya nyenyak, dan hatinya lapang. Ada pula yang hartanya banyak, tetapi pikirannya penuh gelisah. Syukur sering menjadi pembeda.

3) Syukur menjaga dari kufur nikmat: pagar yang halus tapi kuat

Ketiga, syukur melindungi seseorang dari sifat kufur nikmat. Kufur nikmat adalah sikap mengingkari atau tidak mengakui nikmat Allah, yang dapat mengundang murka-Nya. Dengan bersyukur, seorang hamba terhindar dari sikap sombong dan lupa diri, serta selalu mengingat bahwa segala keberhasilan dan kebahagiaan yang ia rasakan adalah anugerah dari Allah.

Kufur nikmat kadang tidak muncul sebagai penolakan terang-terangan. Ia bisa hadir sebagai kebiasaan meremehkan karunia, mengeluh tanpa henti, atau merasa “selalu kurang” walau sudah banyak. Karena itu syukur berfungsi seperti pagar: ia tidak membuat kita anti-ambisi, tetapi menjaga ambisi agar tidak menjadi tuan yang kejam.

Mengapa kita sering sulit bahagia? karena kebahagiaan diberi syarat yang berat

Tasbih hitam di atas kain putih

Sering kali, kita menetapkan syarat yang sangat sulit untuk bisa dipenuhi agar bisa berbahagia. Kita akan senang kalau mempunyai sesuatu yang dimiliki orang lain. Namun, begitu mendapatkannya, kesenangan yang muncul hanyalah sesaat.

Kalimat-kalimat ini terasa akrab, ya? Kita hidup di zaman perbandingan yang tak pernah tidur. Jika dulu orang membandingkan hidupnya dengan tetangga, kini pembandingnya adalah ribuan orang di layar—yang kita lihat hanya potongan terbaik, bukan keseluruhan kenyataan.

Lalu kita berkata dalam hati:

  • “Aku akan tenang kalau…”

  • “Aku akan bahagia jika…”

  • “Aku baru bisa bersyukur nanti saat…”

Padahal kebahagiaan yang digantungkan pada syarat yang terus bergerak akan selalu menjauh. Hari ini ingin A, besok A didapat, lalu ingin B. Kebahagiaan jadi seperti bayang-bayang: semakin dikejar, semakin lari.

Di sinilah syukur bukan sekadar “pasrah”, melainkan kecerdasan ruhani: kemampuan menikmati karunia tanpa harus menunggu hidup sempurna.

Nafsu menjadi “berhala” bila syukur padam

Kita tetap tak puas dan menginginkan yang lebih lagi. Tak pernah merasa cukup dengan banyaknya harta yang dimiliki.

Bila itu yang terjadi, kita memang belum bersyukur. Nafsu yang bersemayam dalam hati menjadi berhala. Justru, kita sendiri yang menjadi budaknya. Inilah akar segala ketidakbahagiaan.

Bagian ini tajam—dan memang harus tajam. Sebab “berhala” tidak selalu berupa patung. Ia bisa berupa keinginan yang dibiarkan memerintah, sampai kita mengukur nilai diri dengan apa yang dimiliki. Ketika itu terjadi, hati kehilangan kemerdekaannya.

Syukur datang sebagai pembebas. Ia mengembalikan kendali kepada iman. Ia mengingatkan: harta itu nikmat, bukan identitas. Prestasi itu karunia, bukan mahkota yang membuat kita merasa lebih tinggi dari orang lain.

Latihan syukur yang sederhana, tapi mengubah hari

Agar artikel ini tidak berhenti sebagai renungan, berikut latihan yang bisa dilakukan pembaca pecinta Al-Qur’an—ringan, tetapi jika istiqamah, dalam.

1) Mulai dari “menyebut” nikmat yang paling dekat

Pagi hari, sebelum membuka ponsel, sebutkan tiga nikmat: napas, kesehatan, kesempatan beribadah. Lalu ucapkan "alhamdulillah" dengan sadar, bukan otomatis.

2) Jadikan Al-Qur’an sebagai cermin syukur

Luangkan waktu harian untuk tilawah—bukan sekadar mengejar halaman, tetapi mencari satu pesan yang menenangkan. Bila perlu, gunakan rujukan resmi seperti Qur’an Kemenag untuk memudahkan membaca terjemah dan penjelasan dasar.

3) Latih syukur perbuatan: gunakan nikmat untuk taat

Punya tenaga? bantu orang. Punya ilmu? ajarkan. Punya rezeki? ringankan beban orang lain. Syukur perbuatan membuat nikmat “hidup”.

4) Kurangi keluhan yang tidak perlu

Keluhan yang jujur di hadapan Allah adalah doa. Tetapi keluhan yang terus-menerus di hadapan manusia sering berubah menjadi kebiasaan yang menggelapkan hati.

5) Berhenti membandingkan hal yang tidak kita lihat utuh

Bandingkan diri dengan diri sendiri kemarin: apakah hari ini lebih dekat pada Allah? Jika ya, itu nikmat yang besar.

6) Punya target dunia? boleh. tapi jangan jadikan syarat bahagia

Bekerja, belajar, merintis, berikhtiar—semua mulia. Namun jangan berkata, “Aku baru bersyukur kalau…” Lebih selamat: “Aku bersyukur, dan aku tetap berikhtiar.”

7) Tutup hari dengan muhasabah nikmat

Sebelum tidur, tulis satu nikmat yang tadi paling terasa. Ini sederhana, tetapi ia melatih mata hati agar peka.

Syukur yang membuat hidup terasa ringan

Pada akhirnya, hidup terasa ringan bukan karena masalah hilang semua, melainkan karena hati memiliki cara memikulnya. Syukur mengubah sudut pandang: dari “mengapa aku?” menjadi “apa pelajaran dan karunia yang Allah sisipkan di sini?” Syukur mengubah gelisah menjadi doa, iri menjadi tekad, keluh menjadi istighfar.

Dan ketika syukur menjadi kebiasaan, iman menjadi terasa: bukan sekadar di kepala, tetapi di dada. Kita berjalan di bumi, namun hati terhubung ke langit.


Atribusi: diparafrasekan dari tulisan Hasanul Rizqa (23 Desember 2025).

 

dauroh dan quran camp 25 04 17

 

Dauroh Al-Qur’an “Healing with Qur’an” — Sebulan Bersama Qur’an

Jika Anda sedang mencari liburan yang bukan hanya “jalan-jalan”, tetapi juga menguatkan iman dan menenangkan jiwa, Dauroh Al-Qur’an Pesantren Daarul Mutqin bisa menjadi ikhtiar yang Anda hadiahkan untuk diri sendiri—atau untuk anak Anda. Program “Healing with Qur’an (1 Bulan Hafal 30 Juz Perdana)” memberi kesempatan untuk hidup bersama Qur’an di suasana Puncak-Bogor yang sejuk dan asri, dengan fasilitas lengkap agar peserta bisa fokus tilawah, tahsin, dan tahfidz.

Dauroh ini dibimbing Syaikh As’ad Humam, Lc., Al-Hafidz (alumni Al-Azhar) bersama asatidz yang kompeten. Waktunya pun fleksibel: bisa ikut sehari hingga 40 hari, biaya dapat dikustom sesuai kebutuhan, dan kapasitas hingga 150 orang.

Bila Anda ingin anak pulang dengan hati yang lebih lapang, lebih dekat pada Allah, dan punya kebiasaan Qur’an yang nyata—mari mulai dari satu langkah kecil: bertanya dan konsultasi.

📲 Info Lanjut:
🔗 https://gentaqurani.id/dauroh-al-quran
📱 0813-9830-0644 | 0812-2650-2573
📌 Sirnagalih, Megamendung, Kab. Bogor, Jawa Barat 16770



quran camp 2025 04 19

Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

✓ Link berhasil disalin!
Diterbitkan Dikategori Seputar Islam.
Tagar: 2025