Skip to main content
Ilustrasi Kaligrafi Umar bin Khattab

Tajdid Ramadhan Khalifah Umar: Ketika Ijtihad Menjadi Cahaya bagi Umat

Ada satu nama yang selalu hadir dalam percakapan tentang keberanian, kejujuran, dan kepemimpinan yang berpijak pada keadilan — Umar bin Khattab. Di bulan Ramadhan ini, kisahnya kembali relevan, bukan sekadar sebagai cerita masa lalu, melainkan sebagai cermin yang ingin kita tatap dalam-dalam.

 

DAFTAR ISI

Keberanian Intelektual yang Jarang Dimiliki

Dalam sejarah Islam, Umar bin Khattab dikenal sebagai salah satu sahabat Nabi yang memiliki keberanian intelektual luar biasa. Bukan keberanian yang lahir dari kesombongan, melainkan dari pemahaman yang dalam tentang Islam dan kepekaan yang tinggi terhadap kemanusiaan.

Kita mengenal salah satu ungkapannya yang masyhur ketika berdiri di depan Hajar Aswad, batu hitam di sudut Ka'bah yang mulia. Dengan suara yang mantap, al-Faruq berkata:

"Andai saja Nabi SAW tidak melakukan ini, niscaya aku tidak sudi melakukannya."

Kalimat itu bukan bentuk keangkuhan. Justru sebaliknya — itu adalah pengakuan paling jujur dari seorang hamba yang sadar bahwa akalnya memiliki batas, dan bahwa ittiba' kepada Rasulullah SAW adalah jalan yang paling selamat. Umar berpikir panjang, menimbang dengan matang, lalu tunduk dengan tulus.


Ijtihad yang Lahir dari Kepekaan

ilustrasi umar bin al khattab

Semasa menjabat sebagai khalifah, Umar dikenal rajin berijtihad — menggali hukum dari sumber-sumbernya dengan sungguh-sungguh. Salah satu keputusannya yang paling dikenang adalah ketika ia membebaskan seorang pencuri dari hukuman potong tangan.

Pencuri itu bukan penjahat berdarah dingin. Ia seorang miskin yang terdesak kelaparan, mencuri semata karena tidak ada jalan lain untuk menyambung hidup. Umar, yang dikenal sangat tegas dalam menegakkan hukum, kali ini memilih pertimbangan yang sangat manusiawi.

Bagi sebagian orang, keputusan ini mungkin tampak kontradiktif. Bukankah hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu? Namun Umar paham betul bahwa syariat Islam bukan hukum yang kering dan beku. Islam hadir dengan keluasan dan kedalaman yang merangkul setiap situasi manusia — termasuk situasi seorang yang lapar dan tidak berdaya.


Tajdid Tarawih: Kreativitas yang Berakar pada Ukhuwah

Di antara sekian banyak ijtihad Umar, ada satu yang terasa sangat dekat di hati umat Islam hingga hari ini: inisiatifnya menyerukan pelaksanaan shalat tarawih secara berjamaah.

Sebelumnya, shalat tarawih dikerjakan masing-masing secara sendiri-sendiri. Umar melihat sesuatu yang lebih dari sekadar ibadah ritual di sana. Ia melihat peluang untuk menghidupkan ukhuwah, menyatukan hati yang bercerai, dan membangun kebersamaan yang berakar pada ikatan teologis yang paling dalam.

Maka berkumpullah kaum Muslimin — bahu-membahu dalam satu saf, satu imam, satu malam yang penuh berkah. Umar menatap pemandangan itu dan berucap dengan takjub, sekaligus haru.

Inilah yang disebut tajdid — pembaruan yang tidak merusak, melainkan menyegarkan. Kreativitas dalam ibadah yang tetap berpijak pada semangat syariat, sambil memberikan pertimbangan sosial yang nyata bagi kehidupan umat.

Hanya satu bulan dari dua belas bulan yang kita lalui setiap tahun. Namun di bulan inilah, kebersamaan dan ukhuwah menemukan panggungnya yang paling indah.

reguler 25 04 17

Dari Musuh Dakwah Menjadi Penjaga Umat

Siapa yang menyangka bahwa lelaki yang pernah dengan lantang mengumumkan niat membunuh Rasulullah SAW — kelak menjadi salah satu penjaga Islam yang paling gigih?

Sebelum cahaya Islam menerangi hatinya, Umar adalah sosok yang paling dikhawatirkan oleh kaum Muslimin awal. Namun hidayah Allah datang tanpa bisa ditebak. Begitu Islam meresap ke dalam dadanya, Umar berubah total — dan perubahan itu bukan sekadar perubahan perilaku, melainkan perubahan jiwa yang paling dalam.

Ketika kabar wafatnya Rasulullah SAW sampai ke telinganya, Umar tidak sanggup menerima kenyataan itu. Ia menghunuskan pedang dan berseru kepada kerumunan yang berduka:

"Siapa saja yang berkata bahwa Muhammad telah wafat, akan aku penggal lehernya!"

Cintanya kepada Rasulullah SAW begitu dalam, hingga akal sehatnya seolah terhenti. Namun Abu Bakar ash-Shiddiq hadir dengan ketenangan yang luar biasa, membacakan firman Allah:

"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul..." (TQS. Ali Imran: 144)

Seketika, lutut Umar lemas. Air matanya mengalir. Ia tertunduk dalam kesedihan yang tak tertanggungkan — kesedihan seorang yang benar-benar mencintai.

Sejak hari itu, rasa takut tidak bisa berjumpa kembali dengan Rasulullah SAW di surga menjadi bayang-bayang yang selalu mengikutinya. Bayangan surga selalu membuatnya bergetar dan lebih berhati-hati dalam setiap langkah.


Ronda Malam: Ketika Pemimpin Turun Tangan Sendiri

Ketika jabatan khalifah disandangnya, Umar tidak menjadikannya mahkota kemuliaan. Ia menjadikannya amanah yang maha berat.

Hampir setiap malam, tanpa pengawalan yang mencolok, Umar berkeliling ke pelosok-pelosok kampung. Bukan untuk mencari tepuk tangan. Bukan untuk tampil di hadapan rakyat. Ia berkeliling karena satu hal yang paling membuatnya takut: bagaimana kelak ia mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di hadapan Allah SWT.

Bahkan ia pernah berkata dengan sungguh-sungguh:

"Aku sangat takut kalau ada unta yang terkantuk di jalan itu akan memberatkanku di hadapan Allah nanti."

Seekor unta. Bukan sekadar manusia — seekor hewan pun masuk dalam daftar tanggungjawabnya sebagai pemimpin.

 

takhosus 25 04 17

 

Malam yang Mengubah Segalanya

Suatu malam dalam rondasnya, Umar mendengar suara seorang ibu dari balik dinding rumah yang sederhana:

"Aduh, celakalah si Umar! Ia tidur nyenyak dengan keluarganya, sedangkan kami rakyatnya pedih menahan lapar!"

Umar terdiam. Hatinya hancur. Ia tidak marah, tidak tersinggung — ia menangis.

Tanpa membuang waktu, ia bergegas ke Baitul Mal, mengambil bahan makanan, lalu memikulnya sendiri menuju rumah ibu itu. Ketika pengawalnya menawarkan bantuan, Umar menolak dengan kalimat yang membekas sepanjang zaman:

"Engkau tidak akan bisa memikul dosaku di akhirat kelak."

Malam itu, Umar memasak sendiri di dapur rumah seorang rakyatnya yang kelaparan. Si ibu tidak tahu siapa yang ada di depannya. Dan Umar tidak merasa perlu memperkenalkan diri. Ia hanya ingin ibu dan anak-anaknya kenyang — itu saja.

Beginilah wajah pemimpin yang sungguh-sungguh menghayati setiap butir teladan Rasulullah SAW.


Apa yang Bisa Kita Petik?

Di tengah Ramadhan ini, kisah Umar bin Khattab bukan sekadar nostalgia sejarah. Ia adalah cermin. Cermin tentang bagaimana amanah seharusnya diemban. Cermin tentang bagaimana kepedulian bukan sekadar retorika. Dan cermin tentang bagaimana persaudaraan yang tulus tumbuh dari tindakan nyata, bukan dari kata-kata.

Kita mungkin bukan khalifah. Kita mungkin hanya seorang ayah, ibu, guru, atau tetangga. Namun dari Umar, kita belajar bahwa sekecil apa pun lingkaran pengaruh kita, di sanalah amanah kita bersarang.

Ramadhan adalah momentum. Bulan pembentukan karakter yang tidak akan kembali kecuali kita jemput dengan sungguh-sungguh. Semoga kita termasuk yang memanfaatkannya — bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk orang-orang di sekitar kita yang mungkin sedang kelaparan, kesepian, atau terlupakan.


Sumber: Hasanul Rizqa | 24 Februari 2026 | Republika Khazanah

 

dauroh dan quran camp 25 04 17

 

Ketika Membaca Kisah Umar, Apakah Hati Kita Ikut Tergerak?

Umar rela memikul sendiri beban rakyatnya — diam-diam, tanpa tepuk tangan. Di balik kisah itu, ada satu pertanyaan yang mungkin diam-diam juga hadir di benak kita sebagai orang tua:

Sudahkah kita membekali anak-anak kita dengan sesuatu yang benar-benar akan menemani mereka — jauh setelah kita tiada?

Al-Qur'an adalah jawaban itu.

Dan liburan sekolah yang akan datang, mungkin adalah momen yang selama ini kita tunggu-tunggu tanpa kita sadari.

Healing with Qur'an — program Dauroh Al-Qur'an Pesantren Daarul Mutqin — hadir bukan sekadar sebagai kegiatan mengisi waktu luang. Ia adalah kesempatan bagi putra-putri kita untuk menghirup udara pegunungan Puncak yang segar, menjauh sejenak dari layar dan kebisingan kota, dan — yang paling berharga — membangun kedekatan yang tulus dengan Kalamullah.

Dibimbing langsung oleh Syaikh As'ad Humam Lc., Al-Hafidz — alumni Al-Azhar Kairo dan pewaris sanad Al-Qur'an 30 Juz — anak-anak kita tidak hanya belajar menghafal. Mereka belajar mencintai.

Program ini fleksibel — bisa diikuti mulai dari sehari hingga 40 hari penuh, dengan biaya yang dapat disesuaikan. Fasilitasnya lengkap, suasananya kondusif, dan tempatnya... biarlah Puncak Bogor yang berbicara sendiri.

📲 Info Lanjut:
🔗 gentaqurani.id/dauroh-al-quran

📱 0813-9830-0644 | 0812-2650-2573
📌 Sirnagalih, Megamendung, Kab. Bogor, Jawa Barat 16770

Karena menghafal Al-Qur'an adalah investasi terbaik, dan waktunya adalah sekarang.



quran camp 2025 04 19

Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

✓ Link berhasil disalin!
Diterbitkan Dikategori Blog.