Skip to main content
Ilustrasi laki-laki yang berjalan sendirian di padang pasir

Kisah Orang Terakhir yang Masuk Surga

Ada kisah yang membuat hati “melunak” tanpa perlu dibentak-bentak: kisah seorang lelaki yang menjadi penghuni paling akhir yang masuk surga. Ia bukan tokoh besar dalam catatan manusia—tidak ada panggung, tidak ada sorot kamera—tetapi ada satu hal yang membuatnya abadi dalam kabar langit: Allah memberi harapan, bahkan pada orang yang datang paling belakang.

Kisah ini berasal dari hadis panjang yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud. Salah satu redaksinya tercantum dalam Sahih Muslim no. 187.

DAFTAR ISI

"Orang yang paling terakhir masuk surga adalah seorang lelaki. Sesekali dia berjalan, sesekali dia merangkak, dan sesekali api neraka menjilat kulitnya. Apabila dia telah berhasil melewati api neraka, ia menoleh kepadanya seraya berkata, 'Mahaberkah Zat yang telah menyelamatkan diriku darimu. Sungguh, Allah telah memberiku sebuah karunia yang tidak Dia berikan kepada seorang pun dari kalangan sebelumku maupun generasi sesudahku.'

Kemudian, Allah menumbuhkan untuknya sebatang pohon kurma. Orang itu pun berdoa, 'Wahai Tuhanku, dekatkanlah aku kepada pohon itu. Aku ingin berteduh di bawah teduh bayangannya dan meminum dari airnya!'

Maka Allah berfirman kepadanya, 'Wahai anak Adam, bisa jadi jika Aku penuhi permintaanmu itu, kamu akan meminta kepada-Ku hal lain lagi.'

Orang itu berkata, 'Tidak akan kumeminta lagi, wahai Tuhanku.' Dia berjanji kepada Allah untuk tidak memohon yang lain lagi kepada-Nya.

Allah SWT mendekatkan kepadanya pohon itu. Kemudian, lelaki itu pun berteduh di bawah rindangnya pohon itu dan minum dari airnya.

Selanjutnya, ditumbuhkanlah untuknya sebatang pohon yang lebih bagus daripada pohon yang pertama.

Lelaki itu pun berdoa, 'Wahai Tuhanku, dekatkanlah aku kepada pohon itu untuk minum dari airnya dan berteduh di bawah teduhannya. Aku tidak akan meminta kepada-Mu yang selainnya.'

Maka Allah berfirman, 'Wahai anak Adam, bukankah kamu telah berjanji kepada-Ku untuk tidak meminta kepadaku hal yang lainnya lagi? Bisa jadi jika Aku mendekatkan dirimu kepada pohon itu, kamu akan meminta kepada-Ku hal yang lain lagi.'

Lelaki itu pun berjanji kepada Allah untuk tidak meminta yang lain lagi kepada-Nya. Akan tetapi, Tuhannya memaklumi hal tersebut. Sebab, lelaki itu melihat apa-apa yang sangat diinginkannya.

Allah mendekatkannya kepada pohon itu (pohon yang kedua), lalu lelaki itu berteduh di bawah rindangnya dan meminum dari airnya.

Kemudian, ditumbuhkanlah untuknya sebatang pohon yang lebih bagus daripada kedua pohon itu di dekat pintu surga. Orang itu pun berdoa, 'Wahai Tuhanku, dekatkanlah diriku kepada pohon itu agar aku dapat berteduh di bawah teduhannya dan minum dari airnya. Aku tidak akan meminta kepada-Mu yang selain itu.'

Namun, Tuhan memaklumi hal itu karena lelaki itu melihat apa-apa yang tidak dapat dia tahan. Allah mendekatkannya kepada pohon itu.

Ketika Allah mendekatkannya kepada pohon itu, lelaki tersebut tiba-tiba mendengar suara orang-orang yang berada di dalam surga. Mereka sedang bersuka cita.

'Wahai Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam surga,' pintanya.

Maka Allah berfirman, 'Wahai anak Adam, apakah kamu mau jika Aku berikan dunia dan yang semisalnya untukmu?'

Orang itu berkata, 'Wahai Tuhanku, apakah Engkau hendak mengejekku, padahal Engkau adalah Tuhan Pencipta alam semesta?'"

Abdullah bin Mas'ud--yang meriwayatkan hadis ini--tertawa. Orang-orang yang mendengarkannya bertanya, tetapi Ibnu Mas'ud kemudian menjelaskan.

"Demikianlah. Rasulullah SAW dahulu tertawa sehingga para sahabat yang ada di sekitar beliau pun bertanya, 'Mengapa engkau tertawa, wahai Rasulullah?' Maka beliau menjawab, 'Karena Tuhan Pencipta alam semesta tertawa ketika orang itu berkata, 'Wahai Rabbku, apakah Engkau hendak mengejekku, padahal Engkau adalah Tuhan Pencipta alam semesta?'"

"Maka Allah berfirman kepadanya, 'Aku tidak mengejekmu. Akan tetapi, Aku Maha Kuasa untuk melakukan segala sesuatu yang Aku kehendaki.'"

Masuklah lelaki itu ke dalam surga. Di dalamnya, ia memperoleh 10 kali kenikmatan segala yang ada di dunia dahulu. Meski begitu, dia adalah penghuni surga yang paling rendah kedudukannya."

Dari merangkak ke gerbang: sebuah perjalanan yang membongkar rasa putus asa

ilustrasi taman

Bagian pertama kisah ini menggambarkan kondisi yang nyaris tak sanggup dibayangkan: lelaki itu melewati neraka dengan tubuh yang tak lagi punya daya. Sesekali berjalan, sesekali merangkak, dan kadang “dijilat” api. Dalam redaksi Sahih Muslim no. 187, gambarnya jelas: ia berjalan, tergelincir, lalu terbakar lagi—ulang dan ulang.

Namun begitu lolos, kalimat pertamanya bukan keluhan panjang. Ia menoleh dan mengucap syukur: “Mahaberkah Zat yang telah menyelamatkan diriku darimu.” Di sini, kisah ini menancap ke salah satu inti iman: selamat itu karunia, bukan sekadar “hasil kuat-kuatan”.

Dan perhatikan kalimat berikutnya: ia merasa mendapat sesuatu yang tidak diberikan kepada orang sebelum dan sesudahnya. Ini bukan kesombongan yang congkak—lebih mirip keheranan orang yang baru saja diseret dari tepi jurang: “Aku ini siapa, tapi kok diselamatkan?”

Tiga pohon, tiga janji, dan Allah yang memaklumi hamba-Nya

Lalu datang episode yang sangat manusiawi: pohon pertama. Ia meminta didekatkan agar bisa berteduh dan minum. Allah mengingatkan: “Bisa jadi setelah itu kamu minta lagi.” Lelaki itu berjanji tidak meminta lagi.

Tetapi pohon kedua muncul—lebih indah. Ia meminta lagi. Berjanji lagi.

Lalu pohon ketiga—paling bagus—di dekat pintu surga. Ia meminta lagi. Berjanji lagi.

Di sini, kisah ini seperti cermin yang jujur: manusia sering merasa “cukup” saat masih jauh. Tetapi ketika nikmat makin dekat, rasa ingin bertambah lagi. Dan justru di titik itu, hadis menyebut Allah memaklumi karena hamba itu “melihat sesuatu yang sulit ia tahan.”

Kita bisa menyebutnya begini: ada perbedaan antara berdoa karena tamak dan berdoa karena hati yang sedang belajar berharap. Di kisah ini, lelaki itu bukan sedang menawar dunia; ia hanya ingin seteguk air, sepetak teduh, setapak lebih dekat. Dan Allah membalas langkah kecil itu dengan kasih sayang yang besar—sebuah pelajaran tentang rahmat Allah yang tidak kikir.

Saat suara surga terdengar, doa berubah: “Masukkan aku ke dalamnya”

Ketika pohon ketiga sudah didekatkan, lelaki itu mendengar suara orang-orang di surga: tawa, kegembiraan, kehidupan yang lapang. Dan tiba-tiba permintaannya tidak lagi tentang pohon.

Ia berkata, “Wahai Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam surga.”

Inilah momen di mana kisah ini menutup semua pintu putus asa: setelah merangkak, setelah terbakar, setelah salah janji berulang, pintu masih terbuka. Bahkan bukan sekadar terbuka—Allah mengajak bicara, menenangkan, lalu memberi lebih dari yang bisa dibayangkan.

Dalam redaksi yang masyhur, Allah menawarkan: “Apakah kamu rela jika Aku berikan dunia dan yang semisalnya?” Lalu lelaki itu, karena terlalu terkejut, berkata, “Apakah Engkau hendak mengejekku?” Pada titik ini, Ibnu Mas’ud tertawa—dan Rasulullah SAW juga tertawa.

Riwayat tentang “dunia dan sepuluh kali lipatnya” juga datang dalam lafaz yang sangat dikenal dalam Sahih Muslim no. 186a dan Sahih al-Bukhari no. 6571: Allah memerintahkannya masuk surga, dan untuknya “seperti dunia dan sepuluh kali lipatnya.”

“Allah tertawa”: kabar yang menenangkan, bukan bahan olok-olok

Hadis ini menyebut “Tuhan Pencipta alam semesta tertawa”, lalu menegaskan, “Aku tidak mengejekmu… Aku Maha Kuasa untuk melakukan segala sesuatu yang Aku kehendaki.”

Bagi pembaca pecinta Al-Qur’an, bagian ini penting dijaga adabnya: para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan sifat-sifat Allah sesuai keagungan-Nya, tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa membayangkan bentuknya. Di sisi lain, inti pesan yang terasa dalam teks hadis ini sangat terang: Allah menenangkan hamba yang ketakutan, dan mengubah “curiga” menjadi “pasti”. Jika ingin membaca ringkasan berbahasa Indonesia yang mengutip hadis beserta rujukannya, Anda bisa melihat pemaparan di Ensiklopedia Terjemahan Hadis.

Hikmah yang bisa dipetik

Taman Surga Ilustrasi

Berikut beberapa pelajaran yang bisa dibawa pulang—bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk ditanam:

  1. Jangan meremehkan “langkah kecil” menuju Allah. Lelaki itu tidak datang dengan parade amal; ia datang dengan tubuh yang lelah dan hati yang berharap. Kadang yang tersisa dari kita hanyalah doa.

  2. Syukur adalah bahasa pertama orang yang selamat. Ia menoleh dan memuji Allah sebelum meminta apa pun. Syukur semacam ini bukan basa-basi; ini adab orang yang sadar nyawanya nyaris hilang.

  3. Manusia bisa tergelincir dalam janji—Allah tidak. Lelaki itu berulang kali mengatakan, “Aku tidak akan meminta lagi,” lalu meminta lagi. Tetapi Allah tetap memaklumi. Di sini kita diingatkan: Allah tidak menyalahi janji. TQS. Ali ‘Imran: 9 menegaskan, “Sungguh, Allah tidak menyalahi janji.”

  4. Keinginan yang bertambah bisa jadi tanda hidupnya harapan. Bukan pembenaran untuk rakus, tetapi isyarat bahwa hati yang sempat nyaris mati kini mulai “percaya” lagi.

  5. Puncak permintaan adalah surga, bukan sekadar ‘pohon’. Pohon-pohon itu seperti “tangga doa”. Dari kebutuhan paling dekat (teduh dan air) menuju tujuan paling tinggi: surga.

  6. Kenikmatan surga bahkan bagi yang ‘paling rendah’ tetap melampaui dunia. Kalau yang paling rendah saja mendapat “seperti dunia dan sepuluh kali lipatnya”, bagaimana dengan yang ditinggikan derajatnya? Ini bukan untuk membuat kita sombong, tetapi agar kita semakin rindu dan giat.

Cara membaca kisah ini untuk muhasabah pribadi

Agar kisah ini tidak berhenti sebagai cerita, coba bawa ke ruang batin:

  • Saat merasa “amal sedikit, dosa banyak”, tanyakan: apakah aku masih mau mengetuk pintu dengan taubat?

  • Saat doa terasa “kecil”, ingat: lelaki itu memulai dengan minta teduh dan air—Allah yang membesarkan hadiah.

  • Saat kecewa pada diri sendiri karena jatuh lagi, ingat: ia pun berulang kali melanggar janjinya—namun Allah tetap memaklumi dan membimbingnya.

  • Saat kita merasa “sudah terlambat”, ingat: ia orang terakhir—dan tetap masuk.

Dan barangkali, inilah kalimat yang paling meneduhkan dari seluruh kisah: “Aku tidak mengejekmu.” Karena Allah tidak menghibur hamba-Nya dengan tipuan; Allah menghibur dengan kuasa dan kasih sayang.

Penutup

Kisah lelaki terakhir masuk surga bukan dongeng untuk meninabobokan. Ia justru alarm lembut: jangan putus asa, jangan merasa pintu telah tertutup. Jika masih ada napas untuk berdoa—meski tertatih—masih ada harapan untuk didekatkan.

Semoga Allah menutup hidup kita dengan husnul khatimah, melindungi dari neraka, dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya.


Atribusi: Tulisan ini diparafrase dari artikel “Kisah Orang Terakhir yang Masuk Surga” oleh Hasanul Rizqa di Republika.

 

dauroh dan quran camp 25 04 17

 

Healing with Qur’an: Dauroh Al-Qur’an 1–40 Hari di Puncak Bogor

Kadang yang dibutuhkan hati bukan sekadar “liburan”, tapi tempat untuk pulang—pulang dari bisingnya layar, tugas sekolah yang menumpuk, dan lelah yang sering tak sempat diceritakan anak-anak kita. Kisah orang terakhir yang masuk surga mengingatkan: selama masih ada langkah menuju Allah, harapan selalu terbuka. Maka, bagaimana kalau liburan SMP/SMA kali ini bukan hanya menyenangkan, tapi juga meninggalkan bekal yang menenangkan jiwa?

Pesantren Daarul Mutqin menghadirkan program Dauroh Al-Qur’an “Healing with Qur’an”: waktu khusus untuk hidup bersama Al-Qur’an di suasana Puncak yang sejuk dan asri. Peserta bisa memilih durasi mulai 1 hari hingga 40 hari, dibimbing langsung oleh Syaikh As’ad Humam, Lc., Al-Hafidz (Alumni Al-Azhar) dan para asatidz yang kompeten. Fasilitasnya lengkap—masjid, penginapan berasrama, aula, lapangan, hingga kolam renang—agar fokus ibadah terasa lebih ringan, lebih tenang, dan lebih mungkin dijaga setelah pulang.

📲 Info Lanjut:

🔗 https://gentaqurani.id/dauroh-al-quran
📱 0813-9830-0644 | 0812-2650-2573
📌 Sirnagalih, Megamendung, Kab. Bogor, Jawa Barat 16770

Jika Anda ingin anak punya liburan yang membekas—bukan hanya foto, tapi kedekatan dengan Al-Qur’an—sekaranglah saatnya.



quran camp 2025 04 19

Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

✓ Link berhasil disalin!
Diterbitkan Dikategori Seputar Islam.
Tagar: 2026