Skip to main content
Ilustrasi Anak Remaja Muslimah Yang Sedang Sedih

Dampak Perilaku Bullying di Sekolah Terhadap Kesehatan Mental Anak: Tragedi yang Terus Berulang

Pernahkah Anda membayangkan, apa yang terjadi ketika anak kita pergi ke sekolah—tempat yang seharusnya menjadi rumah kedua mereka—justru berubah menjadi arena yang menakutkan?

Di tengah hiruk-pikuk pembahasan tentang tawuran pelajar atau konflik antara guru dan murid, ada satu bentuk kekerasan yang jauh lebih tersembunyi namun sangat merusak: bullying atau perundungan.

Fenomena bullying hari ini bukan sekadar cerita di film-film remaja atau drama Korea. Ini adalah realitas pahit yang menimpa anak-anak kita, yang dampaknya bisa mereka rasakan hingga bertahun-tahun kemudian. Mari kita sama-sama memahami masalah serius ini dari perspektif kesehatan mental, sebelum terlambat.

DAFTAR ISI

Ketika Sekolah Bukan Lagi Tempat yang Aman

Bullying adalah tindakan berulang yang melibatkan penghinaan, intimidasi, hingga kekerasan fisik, di mana pelaku memiliki kuasa lebih dibanding korban. Ini bukan sekadar "kenakalan anak-anak" yang bisa diabaikan dengan dalih "ah, nanti juga mereka dewasa sendiri." Justru pembiaran inilah yang membuat masalah ini terus menggulung seperti bola salju.

Yang membuat situasi semakin rumit, teknologi digital kini memperluas arena bullying dari halaman sekolah ke ruang virtual yang tak berbatas waktu. Anak-anak kita bisa diserang kapan saja, di mana saja—bahkan di dalam kamar mereka sendiri melalui media sosial. Perundungan tidak lagi berakhir ketika bel pulang sekolah berbunyi.

Tragedi yang Terus Berulang: Belajar dari Kasus Nyata

01 anak remaja berjalan bersama

Data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat sepanjang 2024, terdapat 573 kasus kekerasan di lingkungan sekolah. Yang mengejutkan, 43 persen pelakunya adalah guru—orang dewasa yang seharusnya menjadi pelindung. Provinsi dengan kasus tertinggi adalah Jawa Timur (81 kasus), Jawa Barat (56 kasus), dan Jawa Tengah (45 kasus).

Lebih memprihatinkan lagi, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat hingga Oktober 2025, 25 anak di Indonesia telah mengakhiri hidupnya, dan sebagian besar disebabkan oleh bullying. Ini bukan angka statistik biasa—ini adalah 25 jiwa yang seharusnya masih bisa bermimpi, tertawa, dan mengejar cita-cita.

Mari kita tengok beberapa kasus yang mengguncang hati kita:

ABP (12 tahun), Grobogan, Jawa Tengah – Siswa kelas VII SMPN 1 Geyer ini meninggal dunia pada Oktober 2024 setelah dipukuli teman sekelasnya hingga kepalanya terluka parah. Yang menyayat hati, kakeknya mengungkapkan ABP sering mengeluh jadi korban bullying namun tetap dipaksa masuk sekolah meski trauma. Anak yang penurut dan hobi sepak bola ini akhirnya meregang nyawa di dalam kelasnya sendiri—saat jam pelajaran, ketika guru belum datang.

PN (16 tahun), Garut, Jawa Barat – Siswa kelas X SMAN 6 Garut ini ditemukan tewas gantung diri di rumahnya pada Juli 2025. Ibunya, Puji, mengungkapkan anaknya mengalami depresi berat karena dikucilkan dan diintimidasi setelah dituduh melaporkan teman-temannya yang merokok elektrik. Hari pertama masuk sekolah usai liburan, yang seharusnya penuh keceriaan, justru menjadi hari terakhir hidupnya.

AR (9 tahun), Subang, Jawa Barat – Siswa kelas III SD Negeri Jayamukti ini meninggal pada November 2024 setelah dipukuli tiga kakak kelasnya yang meminta uang jajan. Ketika AR menolak, mereka memukulnya hingga bocah berusia 9 tahun itu mengalami luka otak serius. Ia sempat koma selama 6 hari sebelum akhirnya meninggal.

Ajeng (14 tahun), Sukabumi, Jawa Barat – Siswi MTs Negeri ini meninggal pada Oktober 2025 dengan meninggalkan surat wasiat berbahasa Sunda yang menyayat hati. Dalam suratnya, Ajeng meminta maaf kepada orang tua dan guru, serta menyebutkan perundungan dari teman-temannya sebagai alasan ia mengakhiri hidup. "Seperti kejadian tadi, bilang 'Mati saja kamu'," tulis Ajeng—kata-kata yang tragisnya benar-benar menjadi kenyataan.

A (10 tahun), Padang Pariaman, Sumatera Barat – Siswi kelas VI SD Negeri 10 ini meninggal pada Mei 2024 setelah dibakar temannya saat membakar sampah atas perintah guru. Seorang teman menyemprotkan BBM ke tubuhnya hingga api merembet. Setelah tiga bulan dirawat dengan luka bakar parah, ia akhirnya meninggal.

Daftar panjang ini masih terus bertambah. Ada Aulia Risma, mahasiswi PPDS Anestesi Undip yang bunuh diri pada Agustus 2024 akibat perundungan dan pemerasan di lingkungan akademik. Ada RE dari Binus School Serpong yang mengalami pelecehan seksual oleh "Geng Tai" hingga harus melaporkan 12 tersangka ke polisi.

Psikolog Anak sekaligus Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi atau yang akrab dipanggil Kak Seto, menyebut kasus perundungan yang terus terjadi ini ibarat fenomena gunung es. Penyebab utamanya adalah pembiaran dan ketidakpedulian dari orang tua, guru, hingga dinas pendidikan di daerah.

"Tetapi beberapa kasus yang kemudian juga kami tangani, kami terjun ke sekolah, itu cenderung adanya tadi pembiaran. Jadi ini semua yang membuat tindakan bullying ini semakin merekah, semakin banyak terjadi karena ketidakpedulian tadi," kata Kak Seto.

Mengapa Bullying Terjadi? Memahami Akar Masalahnya

Untuk mengatasi masalah, kita harus memahami akarnya. Bullying tidak muncul begitu saja—ada faktor-faktor yang memicunya:

Faktor Internal: Yang Berasal dari Dalam Diri

Kepribadian seseorang sangat memengaruhi kerentanannya terhadap bullying. Anak-anak dengan kepribadian introvert atau yang cenderung menarik diri lebih rentan menjadi sasaran dibanding mereka yang percaya diri dan memiliki lingkaran pertemanan yang kuat.

Jenis kelamin, sikap pasif, dan perilaku yang dianggap "berbeda" juga bisa menjadi pemicu. Dalam lingkungan yang tidak mendukung keberagaman, perbedaan justru dijadikan sasaran ejekan.

Faktor Eksternal: Pengaruh dari Luar

Sekolah seharusnya menjadi tempat anak-anak mengembangkan kemampuan intelektual, keterampilan, dan karakter positif. Namun jika lingkungan sekolah sendiri tidak kondusif—minim pengawasan, lemah dalam penegakan aturan—maka bullying akan subur.

Kondisi sosial ekonomi juga berperan. Kemiskinan, kesenjangan status sosial, dan lingkungan yang keras bisa memicu perilaku agresif. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan penuh kekerasan cenderung menganggap kekerasan sebagai hal normal.

Yang tidak kalah berbahaya adalah pengaruh media dan konten digital yang tidak sesuai usia. Dengan akses internet yang mudah, anak-anak terpapar konten kekerasan, perundungan, bahkan pornografi yang bisa membentuk perilaku agresif mereka. Media sosial juga mempermudah seseorang untuk melakukan intimidasi karena merasa aman di balik layar.

Dampak Mengerikan Bullying terhadap Kesehatan Mental

02 stressed teenager face

Bullying bukan sekadar meninggalkan bekas luka di tubuh—dampak terbesarnya adalah pada kesehatan mental yang bisa bertahan seumur hidup. Mari kita pahami satu per satu:

1. Depresi: Ketika Semangat Hidup Padam

Korban bullying sering mengalami kesedihan mendalam, kehilangan minat pada aktivitas yang dulu mereka sukai, dan merasa hidupnya tidak berarti. Mereka bangun pagi dengan perasaan berat, pergi ke sekolah dengan ketakutan, dan pulang dengan luka batin yang makin dalam.

Depresi ini bukan sekadar "sedih biasa" yang hilang dalam hitungan hari. Ini adalah kondisi serius yang bisa memicu pikiran untuk bunuh diri, seperti yang terjadi pada Ajeng dan puluhan anak lainnya. Kualitas hidup mereka menurun drastis—prestasi akademik anjlok, relasi sosial terganggu, dan masa depan yang cerah tiba-tiba terasa gelap.

2. Gangguan Kecemasan: Hidup dalam Ketakutan Konstan

Bayangkan hidup setiap hari dengan perasaan cemas, takut, dan waspada—seperti menunggu bom waktu yang tidak tahu kapan meledak. Itulah yang dialami korban bullying.

Mereka takut ke sekolah, cemas bertemu teman-teman, khawatir menjadi bahan ejekan lagi. Kecemasan ini mengganggu konsentrasi belajar, membuat mereka sulit berinteraksi dengan orang lain, dan meningkatkan risiko gangguan kecemasan yang lebih serius di masa depan seperti panic disorder atau social anxiety disorder.

3. Gangguan Tidur: Ketika Malam Tidak Lagi Menenangkan

Tidur seharusnya menjadi waktu istirahat yang menyegarkan. Tapi bagi korban bullying, malam malah menjadi momok. Mereka kesulitan tidur karena pikiran terus berputar mengingat kejadian menyakitkan di siang hari. Kalau pun tertidur, mereka sering terbangun tengah malam dengan mimpi buruk.

Gangguan tidur ini menciptakan lingkaran setan: kurang tidur membuat mereka lelah, konsentrasi menurun, performa akademik jelek, sehingga makin rentan menjadi sasaran bullying. Kesehatan fisik juga terganggu karena sistem imun melemah.

4. Trauma Berkepanjangan dan Gangguan Stres Pasca-Trauma (PTSD)

Beberapa korban bullying mengalami trauma yang begitu dalam hingga memengaruhi kehidupan mereka bertahun-tahun kemudian. Mereka bisa mengalami flashback, menghindari situasi tertentu, dan selalu merasa terancam meski sudah tidak dalam lingkungan yang membahayakan.

Penelitian menunjukkan hubungan antara trauma masa lalu dengan risiko gangguan psikosis pada remaja. Anak-anak yang mengalami bullying berkepanjangan berisiko mengalami masalah kesehatan mental serius hingga dewasa.

Apa yang Bisa Kita Lakukan? Solusi dari Perspektif Islam dan Psikologi

03 keluarga muslim yang bahagia

Sebagai orang tua muslim yang mencintai anak-anak kita dan ingin mereka tumbuh dalam lingkungan yang aman, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan:

1. Bangun Komunikasi yang Hangat dengan Anak

Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini mengingatkan kita akan tanggung jawab sebagai orang tua. Salah satu cara melindungi anak adalah dengan membangun komunikasi yang terbuka. Tanyakan bagaimana hari mereka di sekolah, siapa teman-teman mereka, apakah ada yang membuat mereka tidak nyaman.

Jangan menunggu sampai anak kita seperti ABP yang sudah mengeluh berkali-kali namun tetap dipaksa masuk sekolah. Dengarkan keluhan mereka dengan serius, bukan dianggap remeh sebagai "drama anak-anak."

2. Ajarkan Nilai-Nilai Akhlak Mulia

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mengajarkan empati—inti dari pencegahan bullying. Jika anak-anak kita memahami bahwa menyakiti orang lain sama dengan menyakiti diri sendiri, mereka tidak akan melakukan perundungan.

Ajarkan juga tentang kehormatan sesama muslim:

"Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian adalah haram (dilanggar) seperti haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, dan di negeri kalian ini." (HR. Bukhari)

Menghina, memukul, atau merendahkan teman adalah pelanggaran serius yang Allah tidak sukai.

3. Bekali Anak dengan Mental yang Tangguh

Ajari anak-anak kita untuk:

  • Memiliki rasa percaya diri yang sehat
  • Berani meminta tolong ketika mengalami masalah
  • Tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, tapi melaporkan ke orang dewasa yang dipercaya
  • Memahami bahwa bullying adalah kesalahan pelaku, bukan korban

4. Berkolaborasi dengan Sekolah

Program anti-bullying tidak akan efektif tanpa kolaborasi antara orang tua, guru, konselor sekolah, dan seluruh komunitas sekolah. Desak sekolah untuk:

  • Memiliki kebijakan anti-bullying yang jelas dan tegas
  • Menyediakan konseling bagi korban dan pelaku
  • Memberikan pelatihan kepada guru untuk mendeteksi tanda-tanda bullying
  • Menciptakan budaya sekolah yang menghargai keberagaman

Seperti yang disampaikan Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal, guru seringkali takut ikut campur dalam urusan siswa karena khawatir dilaporkan. Padahal pengawasan dan intervensi tepat waktu sangat krusial untuk mencegah tragedi.

5. Awasi Penggunaan Media Sosial dan Gadget

Di era digital, kita tidak bisa lepas tangan membiarkan anak-anak bebas mengakses internet. Berikan batasan yang jelas, gunakan parental control, dan yang terpenting: bangun kepercayaan agar anak mau bercerita jika mengalami cyberbullying.

6. Cari Bantuan Profesional Jika Diperlukan

Jika anak menunjukkan tanda-tanda depresi, kecemasan berlebihan, atau perubahan perilaku drastis, jangan ragu mencari bantuan psikolog atau psikiater. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Mari Bergerak Sebelum Terlambat

Sahabat, setiap kasus yang kita baca di atas adalah pelajaran berharga. ABP, PN, AR, Ajeng, dan puluhan anak lainnya telah pergi meninggalkan kita. Mereka tidak bisa kita kembalikan. Yang bisa kita lakukan adalah memastikan tidak ada lagi nama yang ditambahkan ke daftar panjang korban bullying.

Seperti pesan Rasulullah ﷺ:

"Barangsiapa melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman." (HR. Muslim)

Jangan menjadi saksi bisu. Jika kita melihat bullying, laporkan. Jika anak kita mengalami bullying, lindungi. Jika anak kita yang menjadi pelaku, perbaiki.

Ingat, sekolah adalah tempat menimba ilmu dan membentuk karakter, bukan arena kekerasan. Mari bersama-sama menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang—seperti yang diajarkan Islam.

Semoga artikel ini bermanfaat dan menginspirasi kita semua untuk menjadi bagian dari solusi, bukan masalah. Jazakumullahu khairan.

Wallahu a'lam bishawab.

Referensi:

  1. Charisma Dian Uswatun Hasanah dan Tri Kurniati Ambarini. 2018. Hubungan Faktor Trauma Masa Lalu dengan Status Mental Berisiko Gangguan Psikosis pada Remaja Akhir di DKI Jakarta. Insan Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental, 3 (2).
  2. Darmayanti, dkk. 2019. Bullying di Sekolah : Dampak dan Cara Mananggulangi. Jurnal Pendidikan.
  3. Denny Dwi Saputra, Awafitul Azza, and Y. S. 2015. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Harga Diri Remaja di Lembaga Pemasyarakatan.
  4. Ela Zain Zakiyah, Sahadi Humaedi, And M. B. S. 2017. Faktor yang Mempengaruhi Remaja Dalam Melakukan Bullying. Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat.

Sumber Artikel Asli: RS Soeradji Tirtonegoro (8 Oktober 2024) - Dampak Perilaku Bullying di Sekolah Terhadap Kesehatan Mental Anak


Membangun Benteng Iman dan Mental yang Kuat untuk Buah Hati Kita

reguler 25 04 17

Ayah Bunda yang mulia, setelah membaca rangkaian kasus menyayat hati di atas, mungkin hati kita bertanya: "Bagaimana cara terbaik melindungi anak-anak kita dari dunia yang semakin keras ini?"

Jawabannya bukan hanya sekadar menghindarkan mereka dari bullying, tapi membekali mereka dengan pondasi iman yang kokoh, mental yang tangguh, dan karakter yang mulia—persis seperti yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

Di Pesantren Daarul Mutqin Genta Qurani, kami memahami kegelisahan Ayah Bunda. Kami tahu Anda ingin anak-anak menghafal Al-Qur'an 30 juz, tapi khawatir akademis mereka tertinggal. Atau sebaliknya, fokus akademis tapi rindu mereka dekat dengan Qur'an.

Alhamdulillah, kini ada solusinya.

Program Santri Tahfidz Al-Qur'an 3 Tahun SMP/SMA kami dirancang khusus dengan sistem bertahap:

  • Tahun 1: Fokus tahfidz 30 juz (80%) + diniyyah (20%)
  • Tahun 2: Program bilingual Arab-Inggris sambil menjaga hafalan
  • Tahun 3: Skill project, akademis berijazah resmi, dan persiapan kuliah

Santri tidak hanya jago hafalan, tapi juga kuat secara mental, cerdas akademis, mahir berbahasa Arab-Inggris, dan yang terpenting: berakhlak mulia seperti yang Allah ridhai.

Bayangkan, anak kita tumbuh dengan hati yang tenang karena dekat dengan Al-Qur'an, pikiran yang kritis, dan mental yang siap menghadapi tantangan zaman—termasuk bullying dan tekanan negatif.

Bukankah ini investasi terbaik untuk masa depan mereka, dunia dan akhirat?
🌐 gentaqurani.id/santri-al-quran
📱 WhatsApp: 0812-2650-2573 | 0813-9830-0644
📍 Sirnagalih, Megamendung, Kab. Bogor, Jawa Barat 16770

Mari wujudkan harapan terbaik untuk generasi Qur'ani yang tangguh! 🤲



quran camp 2025 04 19

Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

 

 

✓ Link berhasil disalin!
Diterbitkan Dikategori Sains dan Pendidikan.