Ambisi Dunia yang Berlebihan: Renungan dari Nasihat Rasulullah SAW
Tidak ada yang keliru dengan keinginan manusia untuk menjalani kehidupan yang layak dan nyaman di dunia ini. Namun, ketika ambisi terhadap urusan duniawi menjadi terlalu membara dan tak terkendali, ia dapat menggerogoti keimanan seorang Muslim, membuat hatinya keras, dan melalaikannya dari tujuan hakiki penciptaan.
DAFTAR ISI
- Pelajaran Berharga dari Pertemuan Utsman dan Zaid bin Tsabit
- Dunia Hanyalah Tempat Persinggahan Sementara
- Firman Allah tentang Hakikat Kehidupan Dunia
- Ambisi Dunia yang Sekadarnya
- Kekayaan Hati yang Sesungguhnya
- Dunia Akan Datang dengan Sendirinya
- Menjadi Musafir yang Bijak
- Waktunya Memberikan Hadiah Terbaik untuk Buah Hati Anda
Pelajaran Berharga dari Pertemuan Utsman dan Zaid bin Tsabit
Suatu ketika, Utsman bin Affan berpapasan dengan Zaid bin Tsabit yang baru keluar dari kediaman Marwan. Dalam benak Utsman muncul pertanyaan: ada urusan penting apakah gerangan di saat seperti ini? Firasat Utsman mengatakan bahwa Zaid pasti membawa kabar yang perlu didengarkan.
Maka, Utsman pun menghampiri Zaid dan bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, "Ada apakah wahai Zaid?"
Dengan sikap yang penuh hormat, Zaid menjawab, "Aku baru saja mendengar langsung sebuah sabda dari Nabi Muhammad SAW."
"Apa yang beliau sabdakan?" tanya Utsman lebih lanjut.
Zaid kemudian menyampaikan hadis yang ia dengar langsung dari Rasulullah SAW:
"Siapa yang menjadikan dunia sebagai ujung akhir ambisinya, Allah akan pisahkan ia dengan yang diinginkannya itu (dunia), lalu Allah akan menjadikan kefakiran membayang di pelupuk matanya. Padahal, Allah sudah pasti akan memberikan dunia kepada setiap orang sesuai dengan yang telah Dia tetapkan.
Namun, siapa yang menjadikan akhirat sebagai ujung akhir ambisinya, maka Allah akan mengumpulkan dan mencukupi segala kebutuhannya di dunia. Lebih dari itu, Allah akan membuat hatinya menjadi kaya. Dunia akan selalu mendatanginya, meskipun ia enggan untuk menerimanya."
Kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah ini membawa pesan mendalam: seorang Mukmin sejati harus menyadari bahwa kehidupan dunia ini memiliki batas waktu. Kehidupan yang sesungguhnya, yang abadi dan penuh kemuliaan, menanti di negeri akhirat.
Dunia Hanyalah Tempat Persinggahan Sementara

Dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW menggambarkan hubungannya dengan dunia dengan sangat indah:
"Aku tidak memiliki kecenderungan (kecintaan) terhadap dunia. Keberadaanku di dalam dunia seperti seorang musafir yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkan pohon tersebut." (HR Tirmidzi)
Perumpamaan ini begitu sederhana namun mengena. Dunia bagaikan pohon rindang tempat seorang musafir beristirahat sejenak. Ia singgah, berteduh, mengambil napas, lalu melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir. Tidak ada yang salah dengan menikmati keteduhan pohon itu, namun keliru jika kita lupa bahwa perjalanan kita belum usai.
Firman Allah tentang Hakikat Kehidupan Dunia
Allah SWT dengan tegas mengingatkan kita dalam firman-Nya:
إِنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ
"Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta hartamu." (TQS Muhammad: 36)
Ayat ini menegaskan bahwa dunia dengan segala gemerlap dan pesonanya sejatinya hanyalah permainan sementara. Yang kekal dan bernilai adalah iman dan takwa yang kita pupuk, bukan harta yang kita timbun atau jabatan yang kita kejar.
Ambisi Dunia yang Sekadarnya
Maka dari itu, ambisi dalam urusan duniawi cukuplah sekadarnya. Dunia ini bukanlah tujuan akhir, melainkan ladang tempat kita menanam benih amal kebaikan yang akan kita tuai kelak di akhirat.
Dalam hadis riwayat Ibnu Majah yang lain, Nabi SAW menegaskan:
"Barangsiapa yang menjadikan ambisinya semata-mata untuk meraih akhirat, maka Allah akan mencukupi kebutuhan dunianya. Namun, barangsiapa yang berambisi meraih dunianya bermacam-macam, Allah tak akan peduli dengan yang ia inginkan. Orang itu justru akan menemui kehancurannya sendiri."
Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat dalam. Ketika fokus kita tertuju pada akhirat, Allah justru akan mengatur urusan dunia kita dengan cara yang terbaik. Sebaliknya, ketika seluruh energi kita habis untuk mengejar dunia, kita akan merasakan kekosongan yang luar biasa, bahkan saat kita sudah meraih apa yang kita inginkan.
Kekayaan Hati yang Sesungguhnya

Salah satu hikmah terbesar dari hadis yang disampaikan Zaid bin Tsabit adalah tentang "hati yang kaya". Allah akan membuat hati orang yang mengutamakan akhirat menjadi kaya—kaya dengan rasa syukur, kaya dengan ketenangan, kaya dengan kepuasan batin yang tidak bisa dibeli dengan harta benda apa pun.
Seseorang yang hatinya kaya tidak akan merasa miskin meski hartanya sederhana. Sebaliknya, orang yang hatinya miskin akan selalu merasa kekurangan meski gudangnya penuh dengan emas dan perak. Ini adalah kekayaan sejati yang dijanjikan Allah bagi mereka yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utama.
Dunia Akan Datang dengan Sendirinya
Yang lebih menakjubkan lagi, hadis tersebut menyebutkan bahwa bagi orang yang fokus pada akhirat, "dunia akan selalu mendatanginya, meskipun ia enggan untuk menerimanya." Ini bukan berarti kita tidak boleh bekerja atau berusaha, melainkan ada jaminan dari Allah bahwa rezeki kita sudah diatur dengan sebaik-baiknya.
Ketika prioritas kita benar—mengutamakan akhirat—maka urusan dunia akan mengikuti dengan sendirinya. Kita tidak perlu mengejar dengan tergesa-gesa, tidak perlu gelisah berlebihan, dan tidak perlu menghalalkan segala cara. Allah Maha Mengetahui apa yang kita butuhkan.
Menjadi Musafir yang Bijak
Sebagai penutup, marilah kita merenungkan kembali perumpamaan Rasulullah SAW tentang musafir yang berteduh di bawah pohon. Kita semua adalah musafir di dunia ini. Waktu kita terbatas, dan tujuan akhir kita adalah bertemu dengan Sang Pencipta.
Tidak salah untuk menikmati keteduhan yang Allah berikan—keluarga, pekerjaan, kesehatan, harta—namun jangan sampai kita lupa bahwa semua itu hanyalah bekal dan pelajaran untuk perjalanan kita menuju akhirat.
Ambisi yang berlebihan terhadap dunia hanya akan menggelapkan mata hati, membuat kita rakus, serakah, dan lupa diri. Sebaliknya, ambisi yang tertuju pada akhirat akan membuat hidup kita lebih tenang, lebih bermakna, dan lebih bahagia.
Mari kita jadikan dunia sebagaimana fungsinya: ladang untuk berbuat baik, tempat menabung amal, dan jembatan menuju surga-Nya. Wallahu a'lam.
Sumber & Atribusi: Artikel ini diparafrasekan dari tulisan Hasanul Rizqa yang terbit di Khazanah Republika pada 27 Januari 2026.
Waktunya Memberikan Hadiah Terbaik untuk Buah Hati Anda
Setelah membaca renungan tentang ambisi dunia dan akhirat, mungkin ada pertanyaan yang muncul di benak Anda: "Bagaimana caranya menanamkan prioritas yang benar pada anak-anak kita di tengah gempuran dunia yang begitu hiruk pikuk?"
Sebagai orang tua, kita tentu menginginkan yang terbaik untuk buah hati kita. Kita ingin mereka tumbuh dengan hati yang kaya, jiwa yang tenang, dan prioritas hidup yang jelas. Namun, di era digital ini, tantangannya semakin berat. Anak-anak kita terpapar begitu banyak distraksi yang membuat mereka lupa pada sumber ketenangan sejati: Al-Qur'an.
Bayangkan jika putra-putri Anda bisa merasakan kedamaian yang mendalam melalui interaksi langsung dengan Kitabullah. Bayangkan mereka menghabiskan waktu bukan dengan gadget, melainkan dengan tilawah yang menyejukkan jiwa. Bayangkan mereka pulang dengan hafalan yang kokoh, hati yang lapang, dan semangat yang baru untuk menjalani kehidupan dengan lebih bermakna.
Program Dauroh Al-Qur'an Pesantren Daarul Mutqin: "Healing with Qur'an" hadir sebagai jawaban atas keresahan Anda. Dalam waktu yang fleksibel—mulai dari sehari hingga 40 hari penuh—anak Anda akan dibimbing oleh Syaikh As'ad Humam Lc, Al-Hafidz, alumni Universitas Al-Azhar yang memiliki sanad langsung hingga Rasulullah SAW.
Berlokasi di Puncak-Bogor yang asri dan sejuk, program ini bukan sekadar menghafal Al-Qur'an, melainkan pengalaman spiritual yang menyembuhkan hati dan menguatkan iman. Dengan fasilitas lengkap dan suasana yang mendukung, buah hati Anda akan merasakan bagaimana indahnya hidup bersama Al-Qur'an.
📲 Hubungi Kami Sekarang:
🔗 gentaqurani.id/dauroh-al-quran
📱 0813-9830-0644 | 0812-2650-2573
📌 Sirnagalih, Megamendung, Kab. Bogor, Jawa Barat 16770
Jangan biarkan waktu berlalu begitu saja. Berikan mereka kesempatan untuk menemukan jati diri dan prioritas hidup yang benar sejak dini.
Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

