Jejak Perjuangan Kyai dan Santri dalam Sejarah Hari Pahlawan 10 November
Setiap kali tanggal 10 November tiba, kita sebagai bangsa Indonesia senantiasa diingatkan kembali pada sebuah peristiwa bersejarah yang penuh kepahlawanan: Pertempuran Surabaya 1945.
Peristiwa ini bukan sekadar catatan kelam perang melawan penjajah, tetapi lebih dari itu—ia menjadi bukti nyata bagaimana seluruh elemen bangsa bersatu padu mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan.
Namun, tahukah Anda bahwa di balik gegap gempita pertempuran yang heroik itu, ada kekuatan spiritual yang menggerakkan ribuan pejuang untuk rela berkorban? Ya, peran ulama, kyai, dan santri dalam membangkitkan semangat perlawanan ternyata menjadi fondasi yang sangat fundamental. Sayangnya, kontribusi mereka kerap tenggelam dalam narasi sejarah yang lebih menonjolkan aspek militer semata.
DAFTAR ISI
- Akar Perlawanan: Ketika Fatwa Menjadi Nyawa Perjuangan
- Dari Pesantren ke Medan Laga: Mobilisasi Massa yang Luar Biasa
- Pertempuran Surabaya: Ketika Keimanan Bertemu Patriotisme
- Lebih dari Sekadar Mengenang: Makna Hari Pahlawan untuk Generasi Kita
- Resolusi Jihad: Kontekstualisasi untuk Masa Kini
- Warisan yang Tidak Boleh Dilupakan
- Harapan Bagi Negeri
- Wujudkan Semangat Pahlawan dalam Diri Anak Kita
Akar Perlawanan: Ketika Fatwa Menjadi Nyawa Perjuangan

Jika kita mundur sedikit ke belakang, tepatnya pada 22 Oktober 1945—hampir tiga minggu sebelum pertempuran besar meletus—sebuah momentum penting terjadi di markas besar Nahdlatul Ulama (NU) di Surabaya. Saat itu, KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU yang sangat dihormati, bersama para ulama terkemuka lainnya mengeluarkan sebuah keputusan yang mengubah lanskap perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Keputusan itu dikenal dengan nama Resolusi Jihad Fii Sabilillah. Isinya tegas dan tidak bisa ditawar: mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia adalah kewajiban agama (fardhu 'ain) bagi setiap Muslim yang berada dalam radius tertentu dari wilayah yang terancam penjajah. Bukan sekadar anjuran atau himbauan biasa, tetapi sebuah kewajiban setara dengan kewajiban shalat dan puasa.
Fatwa ini bagaikan percikan api di tengah tumpukan jerami kering. Dalam hitungan hari, ribuan santri dari berbagai pesantren di Jawa dan Madura mulai bergerak. Mereka meninggalkan kitab kuning dan kehidupan damai di pondok, berganti dengan senjata sederhana dan tekad baja untuk membela tanah air dari ancaman kolonialisme yang ingin kembali mencengkeram.
Dari Pesantren ke Medan Laga: Mobilisasi Massa yang Luar Biasa

Bayangkan bagaimana seorang pemuda santri yang sehari-harinya sibuk mengaji tiba-tiba harus mengangkat senjata. Ini bukan keputusan mudah, tetapi ketika panggilan dari sang kyai datang berdasarkan landasan keimanan, tidak ada lagi keraguan.
Laskar Hizbullah dan Barisan Sabilillah menjadi dua kekuatan utama yang dibentuk dari mobilisasi kaum santri ini. Mereka bukan tentara terlatih dalam arti modern, namun semangat dan keyakinan spiritual mereka menjadikan mereka pasukan yang tangguh dan tidak kenal takut.
Tokoh-tokoh seperti KHR As'ad Syamsul Arifin dari Situbondo dan KH Wahab Chasbullah memainkan peran sangat strategis. Mereka tidak hanya menyampaikan amanat Resolusi Jihad, tetapi juga turun langsung mengorganisir, melatih, dan memimpin para santri di garis depan. KHR As'ad bahkan rela meninggalkan Situbondo yang jauh untuk memastikan pesan perjuangan sampai ke telinga setiap santri di Surabaya.
Kehadiran mereka di medan pertempuran memberikan dimensi yang berbeda. Ini bukan lagi sekadar perang fisik melawan musuh bersenjata lengkap, tetapi sebuah pertempuran yang diperkuat oleh keyakinan iman dan cinta tanah air. Para pejuang tidak hanya bertarung untuk wilayah geografis, tetapi juga untuk mempertahankan martabat bangsa yang baru saja merdeka.
Pertempuran Surabaya: Ketika Keimanan Bertemu Patriotisme

Memasuki tanggal 10 November 1945, kota Surabaya berubah menjadi arena pertempuran yang dahsyat. Pasukan Inggris yang datang dengan persenjataan modern dan dukungan logistik kuat menghadapi perlawanan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Di sisi lain, ribuan pejuang Indonesia—yang sebagian besar adalah santri dan laskar rakyat—mempertahankan setiap jengkal tanah dengan gagah berani. Mereka tidak memiliki tank, pesawat tempur, atau artileri berat. Yang mereka miliki adalah semangat yang tidak bisa diukur dengan standar militer manapun: semangat untuk mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta.
Dalam pertempuran ini, nyawa menjadi taruhan yang sangat nyata. Banyak santri muda yang gugur, tetapi tidak ada yang mundur. Fatwa KH Hasyim Asy'ari telah menanamkan keyakinan mendalam bahwa berjuang untuk tanah air adalah bagian dari ibadah tertinggi.
Bagi kita yang hidup di era damai ini, mungkin sulit membayangkan bagaimana seseorang rela meninggalkan keluarga dan kehidupan untuk bertempur. Namun itulah kekuatan yang lahir ketika keimanan bertemu dengan cinta tanah air—sebuah kombinasi yang membuat mustahil menjadi mungkin.
Lebih dari Sekadar Mengenang: Makna Hari Pahlawan untuk Generasi Kita
Sekarang, pertanyaan pentingnya adalah: apa yang bisa kita—terutama sebagai orang tua dan pendidik anak-anak remaja—petik dari sejarah ini?
Hari Pahlawan bukan sekadar hari libur atau upacara bendera di sekolah. Ini adalah momen untuk merenungkan kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu kita. Para kyai dan santri yang berjuang di Surabaya mengajarkan kepada kita tentang pengorbanan tanpa pamrih, keberanian menghadapi ketakutan, dan yang paling penting: bagaimana nilai-nilai keimanan bisa menjadi penggerak perubahan sosial yang luar biasa.
Mengajarkan Nilai Perjuangan kepada Anak

Bagi anak-anak kita yang tumbuh di era digital ini, konsep "perjuangan" mungkin terasa sangat abstrak. Mereka tidak pernah mengalami perang, tidak pernah merasakan bagaimana sulitnya merebut kemerdekaan. Namun justru di sinilah peran kita sebagai orang tua menjadi krusial.
Kita bisa mengajarkan kepada mereka bahwa perjuangan tidak selalu identik dengan senjata dan medan perang. Perjuangan di zaman sekarang bisa diwujudkan melalui:
- Kejujuran akademik: Tidak mencontek atau mengambil jalan pintas dalam belajar
- Inovasi dan kreativitas: Menciptakan karya yang bermanfaat bagi bangsa
- Integritas moral: Berani menolak tawaran korupsi atau jalan tidak halal
- Kepedulian sosial: Membantu sesama tanpa mengharap imbalan
Semua ini adalah bentuk perjuangan modern yang tetap relevan dengan semangat para pahlawan.
Peran Ulama sebagai Moral Force Bangsa
Sejarah Hari Pahlawan juga mengingatkan kita akan pentingnya peran ulama dan tokoh agama dalam kehidupan berbangsa. Mereka bukan hanya pengajar agama di masjid atau pesantren, tetapi juga pemimpin moral yang mampu menggerakkan massa untuk kebaikan bersama.
Di masa kini, kita membutuhkan ulama dan tokoh agama yang mampu memberikan pencerahan spiritual sekaligus solusi atas problematika bangsa. Mereka harus bisa menjembatani antara nilai-nilai keagamaan dengan tantangan modernitas, persis seperti yang dilakukan KH Hasyim Asy'ari dan kawan-kawan di masanya.
Resolusi Jihad: Kontekstualisasi untuk Masa Kini
Kata "jihad" dalam Resolusi Jihad 1945 memang memiliki konteks yang sangat spesifik: perlawanan fisik terhadap penjajah yang ingin merampas kemerdekaan. Namun dalam konteks kekinian, kita perlu memahami bahwa esensi dari perjuangan itu adalah tentang pengorbanan total untuk kebaikan yang lebih besar.
Anak-anak remaja kita perlu diajarkan bahwa "berjuang" di zaman mereka bisa berarti:
- Belajar dengan sungguh-sungguh untuk menguasai ilmu pengetahuan
- Mengembangkan keterampilan yang bisa memajukan bangsa
- Menjaga lingkungan dan kelestarian alam Indonesia
- Menghormati perbedaan dan memperkuat persatuan
Inilah yang saya sebut sebagai perjuangan generasi masa kini—tidak kalah mulia dibanding perjuangan fisik di medan perang, asalkan dilakukan dengan kesungguhan dan keikhlasan yang sama.
Warisan yang Tidak Boleh Dilupakan
Ketika kita membicarakan sejarah Hari Pahlawan, kita tidak sedang berbicara tentang masa lalu yang sudah usang. Kita sedang berbicara tentang nilai-nilai yang harus terus hidup dan berkembang di setiap generasi.
Para kyai dan santri yang berjuang di Surabaya telah memberikan contoh nyata bahwa ketika iman, ilmu, dan keberanian bersatu, tidak ada yang mustahil. Mereka membuktikan bahwa kekuatan spiritual bisa mengalahkan kekuatan material, bahwa keyakinan bisa mengalahkan rasa takut.
Menjaga Persatuan di Tengah Perbedaan
Satu hal yang sangat menonjol dari Pertempuran Surabaya adalah bagaimana berbagai elemen masyarakat—dari santri, pemuda, hingga rakyat biasa—bersatu tanpa memandang perbedaan latar belakang. Ini adalah pelajaran berharga untuk Indonesia modern yang sangat beragam.
Di era media sosial ini, di mana polarisasi dan perpecahan begitu mudah tersebar, kita membutuhkan semangat persatuan seperti yang ditunjukkan para pahlawan 10 November. Anak-anak kita harus diajarkan bahwa perbedaan adalah kekayaan, bukan ancaman.
Integritas Moral sebagai Fondasi Kemajuan
Para kyai yang memimpin perjuangan tidak mencari keuntungan pribadi atau jabatan. Mereka berjuang karena panggilan nurani dan kewajiban moral. Integritas ini yang sangat kita butuhkan di era sekarang, di mana godaan untuk mengambil jalan pintas begitu besar.
Mengajarkan integritas kepada anak remaja kita adalah bentuk perjuangan yang tidak kalah penting. Ketika mereka menghadapi ujian, apakah mereka akan mencontek atau belajar dengan jujur? Ketika mereka punya kesempatan berbuat curang, apakah mereka akan tetap memilih jalan yang benar?
Harapan Bagi Negeri
Hari Pahlawan adalah pengingat bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini tidak datang dengan mudah. Ribuan nyawa melayang, darah tertumpah, dan air mata bercucuran demi Indonesia yang merdeka dan bermartabat.
Sebagai orang tua dan pendidik, tanggung jawab kita adalah memastikan bahwa pengorbanan mereka tidak sia-sia. Caranya adalah dengan mendidik generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan kokoh secara moral.
Para kyai dan santri telah menunjukkan jalan. Mereka membuktikan bahwa dengan iman yang kuat dan cinta tanah air yang tulus, tidak ada tantangan yang terlalu besar untuk dihadapi.
Kini giliran kita—dan anak-anak kita—untuk melanjutkan estafet perjuangan itu. Bukan dengan senjata, tetapi dengan ilmu, karya, dan dedikasi untuk membangun Indonesia yang lebih baik.
Mari kita jadikan setiap Hari Pahlawan sebagai momentum untuk merefleksikan diri: sudahkah kita mengisi kemerdekaan dengan prestasi yang membanggakan? Sudahkah kita menanamkan nilai-nilai perjuangan kepada anak-anak kita?
Wallahu a'lam bishawab.
Sumber Inspirasi: Artikel ini diilhami oleh tulisan Muhibullah yang berjudul "Sejarah Hari Pahlawan, Kontribusi Santri dan Kyai" di Rijalul Quran, dengan pengembangan dan kontekstualisasi untuk pembaca masa kini.
Wujudkan Semangat Pahlawan dalam Diri Anak Kita
Para kyai dan santri telah membuktikan: ketika Al-Qur'an menjadi pegangan, tidak ada yang mustahil. Mereka menghafal ayat-ayat suci sambil mengangkat senjata. Mereka menjaga kitab kuning sambil mempertahankan negara.
Kini, pertanyaannya: bagaimana kita meneruskan semangat luar biasa itu kepada anak-anak kita?
Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, banyak orang tua yang galau. Ingin anak menghafal Al-Qur'an, tapi khawatir akademisnya tertinggal. Ingin anak fokus hafalan, tapi takut tidak siap menghadapi masa depan.
Kami memahami kegelisahan itu.
Program Santri Tahfidz Al-Qur'an 3 Tahun Pesantren Daarul Mutqin Genta Qurani hadir untuk menjawab keresahan Anda. Sebuah program yang dirancang khusus untuk remaja SMP/SMA, memadukan hafalan Al-Qur'an dengan kesiapan akademis dan keterampilan abad 21.
Tahun pertama: Fokus menghafal Al-Qur'an (target 30 juz) dengan bimbingan intensif Tahun kedua: Pengembangan kemampuan bilingual (Arab-Inggris) tanpa meninggalkan tahfidz Tahun ketiga: Persiapan kuliah, skill project, dan penguatan akademis berijazah resmi
Bayangkan: anak Anda lulus dengan hafalan Al-Qur'an sempurna, mahir dua bahasa internasional, dan siap bersaing masuk perguruan tinggi terbaik. Bukan khayalan—ini nyata.
Seperti para santri yang pernah mengubah sejarah bangsa, saatnya anak kita menjadi generasi yang mengubah masa depan. Generasi yang kuat imannya, cemerlang pikirannya, dan kokoh karakternya.
Informasi lengkap:
🌐 gentaqurani.id/santri-al-quran
📱 WhatsApp: 0812-2650-2573 | 0813-9830-0644
📍 Sirnagalih, Megamendung, Kab. Bogor, Jawa Barat 16770
Mari kita wujudkan harapan terbaik untuk buah hati tercinta. Karena investasi terbaik adalah pendidikan yang menyeimbangkan dunia dan akhirat.
Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

