Anak Remaja dan Fenomena "Dikit-Dikit AI": Panduan Bagi Orang Tua
Pernahkah kita memperhatikan anak remaja kita saat mengerjakan tugas sekolah atau mencari informasi? Kemungkinan besar, mereka tidak lagi membuka Google untuk mencari jawaban, melainkan langsung bertanya kepada ChatGPT, Gemini, atau aplikasi kecerdasan buatan (AI) lainnya. Bahkan untuk pertanyaan sederhana sekalipun.
Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan cerminan dari perubahan besar yang sedang terjadi di kalangan generasi muda kita. Mari kita telaah bersama apa yang sesungguhnya terjadi dan bagaimana kita sebagai orang tua dapat membimbing anak-anak kita agar tetap bijak di tengah gempuran teknologi ini.
DAFTAR ISI
- Generasi Z: Pengguna AI Terbesar di Indonesia
- Mengapa Generasi Z Begitu Dekat dengan AI?
- Sisi Terang: AI sebagai Teman Belajar yang Cerdas
- Bahaya Tersembunyi: Fenomena "Dikit-Dikit AI"
- Perbedaan Generasi dalam Menyikapi AI
- Konsep ERA: Panduan Bijak Menggunakan AI
- Peran Kita sebagai Orang Tua
- Menjaga Keseimbangan di Era Digital
- Waktunya Memberikan Fondasi yang Kokoh untuk Anak Kita
Generasi Z: Pengguna AI Terbesar di Indonesia

Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 mengungkapkan fakta yang cukup mengejutkan. Ternyata, generasi Z menempati posisi tertinggi sebagai pengguna AI dengan angka mencapai 43,7 persen, diikuti oleh generasi milenial sebesar 22,3 persen.
Angka ini bukan sekadar statistik belaka. Ini adalah gambaran nyata bahwa anak-anak remaja kita—yang duduk di bangku SMP dan SMA—telah menjadikan AI sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Mereka menggunakannya untuk mengerjakan tugas sekolah, mencari inspirasi kreatif, bahkan sekadar berbincang saat merasa bosan atau kesepian.
Sebagai orang tua yang mencintai Al-Qur'an, tentu kita memahami bahwa Allah memberikan akal kepada manusia sebagai anugerah yang luar biasa. Dalam Surah Ar-Ra'd ayat 11, Allah berfirman:
"إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ"
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Teknologi AI adalah realitas yang tidak bisa kita hindari, namun cara kita menyikapinya-lah yang menentukan apakah teknologi ini menjadi berkah atau justru bumerang bagi perkembangan anak-anak kita.
Mengapa Generasi Z Begitu Dekat dengan AI?
Prof. Ridi Ferdiana, Guru Besar UGM yang juga pakar rekayasa perangkat lunak, memberikan perspektif menarik. Menurutnya, generasi Z adalah digital native—mereka terlahir dan tumbuh besar di tengah kemanjaan teknologi. Sejak kecil, mereka sudah terbiasa dengan smartphone, internet, dan berbagai aplikasi digital.
Yang membuat situasi saat ini berbeda adalah hadirnya generative AI—jenis kecerdasan buatan yang tidak hanya mencari informasi, tetapi juga bisa menghasilkan konten, memberikan solusi, bahkan berdialog layaknya teman.
"Generasi Z itu lahir sebagai digital native, sudah dimanjakan teknologi sejak kecil. Generative AI sekarang menjadi bentuk disrupsi terbesar yang mengubah cara berpikir dan hidup mereka," jelas Prof. Ridi.
Beliau memperkirakan, kombinasi antara generasi milenial dan Z yang menggunakan AI aktif mencapai 77 persen. Di lingkungan UGM sendiri, dari 60 ribu mahasiswa, sekitar 45 ribu di antaranya telah menggunakan AI dalam keseharian mereka. Prof. Ridi bahkan memprediksi pada tahun 2030, adopsi AI di kalangan mahasiswa bisa mencapai 100 persen.
Bayangkan, Bunda dan Ayah. Ini artinya, anak-anak kita yang sekarang duduk di SMP atau SMA, kelak akan hidup di dunia di mana AI menjadi hal yang sama lazimnya dengan menggunakan pulpen atau kalkulator.
Sisi Terang: AI sebagai Teman Belajar yang Cerdas
Bukan berarti semua aspek dari penggunaan AI itu negatif. Justru sebaliknya, jika digunakan dengan bijak, AI bisa menjadi sahabat belajar yang luar biasa bagi anak-anak kita.
Prof. Ridi memberikan contoh bagaimana generative AI seperti Gemini memiliki fitur guided learning yang tidak sekadar memberikan jawaban instan, tetapi mengajari pengguna untuk memahami konsep secara mendalam. Fitur deep research-nya membantu anak-anak untuk menganalisis jawaban lebih dalam, bukan hanya menerima informasi mentah-mentah.
Ini sejalan dengan prinsip menuntut ilmu dalam Islam yang tidak hanya mencari jawaban, tetapi memahami ilmunya. Rasulullah ﷺ bersabda:
"طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ"
"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah)
Dalam hadits ini, yang ditekankan adalah menuntut ilmu, bukan sekadar mendapat jawaban. AI yang digunakan dengan benar bisa membantu anak-anak kita untuk benar-benar memahami, bukan hanya menghafal atau menyalin.
Bayangkan ketika anak kita belajar matematika atau fisika. Alih-alih hanya mendapat rumus jadinya, AI bisa menjelaskan langkah demi langkah bagaimana rumus itu bekerja, memberikan analogi, bahkan menyesuaikan penjelasan dengan gaya belajar anak kita. Ini adalah potensi luar biasa yang tidak boleh kita sia-siakan.
Bahaya Tersembunyi: Fenomena "Dikit-Dikit AI"

Namun, di balik kemudahan itu, ada ancaman yang perlu kita waspadai. Prof. Ridi menyebutnya sebagai fenomena DDA atau "dikit-dikit AI"—kondisi di mana anak-anak muda menggunakan AI untuk hampir segala hal, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya bisa mereka pikirkan sendiri.
"Mau nulis caption Instagram, tanya AI. Mau bikin keputusan sederhana, tanya AI. Bahkan untuk pertanyaan yang jawabannya sudah jelas, tetap saja tanya AI dulu."
Kebiasaan ini menciptakan apa yang disebut sebagai underload—kondisi di mana otak tidak lagi terbiasa bekerja keras karena sudah terlalu dimanja. Akibatnya?
- Kemampuan berpikir kritis menurun - Anak tidak lagi terbiasa menganalisis masalah secara mandiri
- Daya ingat melemah - Karena semua informasi bisa dicari dengan mudah, otak tidak lagi menyimpan informasi penting
- Efek brain rot - Istilah untuk menggambarkan kondisi otak yang "tumpul" karena jarang diasah
"Jadi critical thinking dan aspek memorize menurun, makanya yang paling gawat terjadi efek brain rot terjadi karena malas mikir dan dikit-dikit jadi tanya ke AI," ungkap Prof. Ridi.
Sebagai orang tua, kita tentu tidak ingin anak-anak kita mengalami hal ini. Allah telah menganugerahkan akal yang sempurna kepada manusia, dan tugas kita adalah memastikan akal itu terus diasah dan berkembang, bukan justru menjadi pasif.
Perbedaan Generasi dalam Menyikapi AI
Menariknya, Prof. Ridi menjelaskan bahwa setiap generasi memiliki cara pandang berbeda terhadap AI:
Generasi X dan Baby Boomers memandang AI hanya sebagai alat bantu kerja, layaknya Microsoft Word atau Excel. Bagi mereka, AI adalah teknologi yang memudahkan pekerjaan, tidak lebih.
Generasi Milenial berada di posisi tengah. Seperempat dari hidup mereka dijalankan dengan bantuan teknologi, sehingga mereka lebih adaptif dibanding generasi sebelumnya.
Generasi Z memandang AI sebagai bagian integral dari kehidupan. Bagi mereka, hidup tanpa AI seperti hidup tanpa smartphone—hampir mustahil dibayangkan.
Pergeseran ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal budaya. Anak-anak kita tidak lagi mengandalkan Google Search untuk mencari jawaban—mereka langsung bertanya ke AI. Ini adalah perubahan fundamental dalam cara mereka memperoleh dan memproses informasi.
Konsep ERA: Panduan Bijak Menggunakan AI

Lalu, bagaimana seharusnya kita—dan anak-anak kita—menggunakan AI? Prof. Ridi memperkenalkan konsep ERA, sebuah akronim yang menjadi pedoman literasi digital untuk generasi muda:
1. E - Esensial
Prinsip pertama adalah tentang fondasi pengetahuan. Dalam mencari pengetahuan dasar, anak-anak harus tetap menggunakan buku sebagai sumber acuan ilmiah utama, bukan langsung menggunakan AI.
Mengapa? Karena buku telah melalui proses kurasi, editing, dan verifikasi yang ketat. Buku memberikan pemahaman sistematis dan mendalam yang tidak bisa digantikan oleh jawaban cepat AI.
Ini seperti membangun rumah. Fondasi harus kuat dan kokoh. Setelah fondasinya kuat, baru kita bisa membangun lantai-lantai berikutnya. AI boleh digunakan untuk memperkaya pemahaman, tetapi bukan sebagai fondasi utama.
2. R - Rating
Prinsip kedua adalah tentang kemampuan berpikir kritis. Sebelum bertanya ke AI, anak-anak perlu berpikir terlebih dahulu, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, lalu baru memanfaatkan AI untuk mendapat perspektif tambahan.
Jangan sampai terbalik: berpikir setelah AI memberikan jawaban. Yang benar adalah berpikir dulu, baru gunakan AI untuk mengkonfirmasi atau memperkaya pemikiran kita.
Konsep ini sangat sejalan dengan ajaran Islam yang mengajarkan kita untuk menggunakan akal sebelum bertindak. Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 190-191 tentang orang-orang yang berakal (ulil albab) yang selalu berpikir dan merenungkan ciptaan-Nya.
3. A - Applicable
Prinsip ketiga adalah tentang penerapan praktis. AI boleh digunakan sebagai alat bantu untuk memperbaiki dan menyelesaikan tugas, tetapi dengan catatan bahwa tahapan Esensial dan Rating sudah dipahami dengan baik.
Artinya, AI diposisikan sebagai partner, bukan pengganti. AI membantu kita mengoptimalkan hasil kerja, bukan menggantikan proses berpikir kita.
"Dari situ kita menjadikan generative AI sebatas partner kita, bukan menggantikan peran kita untuk menyelesaikan permasalahan secara penuh. Itulah mengapa pentingnya penerapan konsep ERA ini di dunia digital seperti saat ini," tegas Prof. Ridi.
Peran Kita sebagai Orang Tua

Sebagai orang tua yang mencintai Al-Qur'an dan peduli dengan perkembangan anak, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan:
Pertama, kita perlu memahami bahwa teknologi AI bukan musuh. Ini adalah realitas yang harus kita hadapi dengan bijak. Melarang anak sepenuhnya justru bisa kontraproduktif.
Kedua, ajarkan anak-anak kita konsep ERA. Diskusikan bersama mereka kapan AI boleh digunakan dan kapan mereka harus berpikir mandiri terlebih dahulu.
Ketiga, jadilah teladan. Jika kita sebagai orang tua juga bijak menggunakan teknologi, anak-anak akan mencontoh.
Keempat, dorong anak untuk tetap membaca buku, terutama Al-Qur'an. Tidak ada teknologi yang bisa menggantikan keberkahan membaca Kitabullah.
Kelima, ciptakan momen-momen di mana teknologi harus "off". Misalnya saat makan bersama, saat shalat berjamaah, atau saat ngobrol keluarga.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ"
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Sebagai orang tua, kita adalah pemimpin bagi anak-anak kita. Kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana kita membimbing mereka di era digital ini.
Menjaga Keseimbangan di Era Digital

Bunda dan Ayah yang dirahmati Allah, dunia terus berubah. Teknologi AI adalah kenyataan yang tidak bisa kita hindari. Namun, sebagaimana Allah telah mengajarkan kita tentang prinsip keseimbangan (wasathiyah), kita pun perlu mengajarkan anak-anak kita untuk seimbang dalam menggunakan teknologi.
AI boleh menjadi teman, tetapi jangan sampai menjadi tuan. Otak dan akal yang Allah berikan adalah anugerah yang harus terus diasah, bukan dibiarkan pasif.
Mari kita bimbing anak-anak kita untuk menjadi generasi yang cerdas—cerdas dalam ilmu agama, cerdas dalam ilmu dunia, dan cerdas dalam menggunakan teknologi. Generasi yang tidak hanya pintar menggunakan AI, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam.
Wallahu a'lam bishawab.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sumber dan Atribusi: Artikel ini merupakan adaptasi dan parafrase dari artikel karya Gumanti Awaliyah & Qommarria Rostanti yang diterbitkan pada 7 November 2025 di Ameera Republika dengan judul "Gen Z Juara Chatting dengan AI? Waspada Fenomena 'Dikit-Dikit AI'". Kami mengucapkan terima kasih atas insight dan data yang sangat berharga.
Waktunya Memberikan Fondasi yang Kokoh untuk Anak Kita
Bunda dan Ayah yang berbahagia, setelah kita membahas tentang pentingnya menjaga keseimbangan di era digital, ada satu pertanyaan yang mungkin terlintas di hati kita: Bagaimana cara memberikan pondasi yang kuat agar anak-anak kita tidak mudah terbawa arus teknologi yang terus berubah?
Jawabannya sederhana namun mendalam: Al-Qur'an.
Ketika anak-anak kita memiliki Al-Qur'an sebagai pegangan hidup—bukan hanya dibaca, tapi dihafal, dipahami, dan diamalkan—mereka akan memiliki kompas internal yang kuat. Mereka tidak akan mudah terombang-ambing oleh setiap tren baru, termasuk ketergantungan berlebihan pada AI.
Bayangkan jika putra-putri kita tidak hanya cerdas secara akademis dan teknologi, tetapi juga mutqin (hafal dengan sempurna) 30 juz Al-Qur'an. Bayangkan mereka memiliki kemampuan bilingual Arab-Inggris, critical thinking yang tajam, dan tetap berijazah SMP/SMA formal—semua dalam satu paket pembelajaran yang terstruktur.
Inilah yang ditawarkan oleh Program Pesantren Tahfidz 3 Tahun SMP/SMA Daarul Mutqin Genta Qurani. Program ini dirancang khusus dengan sistem bertahap: tahun pertama fokus 80% pada tahfidz, tahun kedua mengembangkan kemampuan bilingual, dan tahun ketiga mempersiapkan skill project dan akademis untuk kuliah.
Tidak ada yang perlu dikorbankan—tidak hafalan, tidak akademis, dan tidak kemampuan berpikir kritis anak kita.
Jika Bunda dan Ayah ingin mendiskusikan lebih lanjut bagaimana program ini bisa menjadi investasi terbaik untuk masa depan putra-putri tercinta, bisa menghubungi kami:
🌐 gentaqurani.id/santri-al-quran
📱 WhatsApp: 0812-2650-2573 | 0813-9830-0644
📍 Sirnagalih, Megamendung, Kab. Bogor, Jawa Barat 16770
Karena generasi Qur'ani adalah generasi yang tidak akan tersesat di era digital manapun.
Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

