Berkah Adab: Takzim dan Tabarruk di Pesantren | Daarul Mutqin
Menjaga adab tanpa berlebihan, menghormati tanpa mengultuskan
Dalam kehidupan pesantren, hubungan antara santri dan kiai punya rasa yang dalam dan gak bisa diganti oleh apa pun. Kiai bukan cuma guru biasa yang menyampaikan pelajaran di kelas, tapi juga sosok panutan yang menuntun murid menuju pemahaman agama yang benar. Karena itu, adab kepada kiai menjadi bagian penting dalam tradisi pesantren.
Namun, sering terjadi kesalahpahaman di luar sana. Banyak yang mengira bahwa penghormatan (takzim) kepada kiai sama dengan mengambil berkah dari beliau (tabarruk). Padahal sebenarnya keduanya punya makna dan tujuan yang berbeda.
DAFTAR ISI
đź“– Penghormatan (Takzim): Wujud Adab dan Pengakuan terhadap Ilmu

Takzim adalah bentuk penghormatan kepada kiai sebagai pewaris para nabi. Rasulullah ď·ş bersabda:
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak orang berilmu.”
(HR. Ahmad)
Dan Allah SWT memerintahkan kita memuliakan orang berilmu dalam firman-Nya:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(TQS. Al-Mujadilah: 11)
Maka menghormati guru bukan sekadar sikap sopan, tetapi bentuk pengakuan bahwa ilmu adalah cahaya dari Allah. Dalam Ta’lim al-Muta’allim disebutkan bahwa keberkahan ilmu sulit masuk ke hati orang yang tidak memuliakan gurunya.
Karena itu, santri terbiasa mencium tangan kiai, berbicara sopan, menundukkan pandangan, dan berkhidmat dengan tulus. Semua itu bukan kultus pribadi, tapi memuliakan ilmu yang dibawa kiai. Prinsipnya sederhana: adab dulu, ilmu kemudian.
______________
🌸 Tabarruk: Mencari Berkah dengan Cara yang Terarah

Berbeda dengan takzim, tabarruk adalah usaha mencari keberkahan dari sesuatu yang memiliki nilai spiritual atau hubungan dengan orang saleh. Misalnya mengambil sisa air wudu kiai, meminum bekas minumnya, atau berdoa di dekat makam ulama.
Rasulullah ď·ş sendiri pernah melakukan tabarruk kepada peninggalan para sahabat. Umar bin Khattab biasa mengambil air bekas wudhu Nabi sebagai bentuk tabarruk. Namun, semua keberkahan tetap berasal dari Allah, bukan dari benda atau orang itu sendiri.
Batasnya jelas:
• tidak berlebihan sampai menganggap kiai punya kekuatan gaib,
• tidak dilakukan kepada sembarang orang,
• tidak menjadikan benda atau peninggalan sebagai tujuan utama.
Inti tabarruk adalah tawassul—menjadikan orang saleh sebagai perantara, bukan sumber kekuatan.
______________
đź’¬ Kenapa Sering Ada Salah Paham?
Sebagian orang melihat santri mencium tangan kiai dan menilainya sebagai pengultusan. Padahal itu sekadar adab. Di sisi lain, memang ada sebagian kecil yang berlebihan dalam tabarruk sehingga menimbulkan kesalahpahaman. Ditambah lagi, komentar negatif dari orang yang tidak paham budaya pesantren membuat pandangan masyarakat semakin bias.
______________
🌾 Adab, Objektivitas, dan Keseimbangan

Islam mengajarkan menghormati guru tanpa menutup ruang kritis. Kalau guru salah, menegur tetap boleh—tapi dengan adab.
Seperti pepatah pesantren:
“Kritik boleh, kurang ajar jangan.”
Inilah yang dijaga di Pesantren Daarul Mutqin. Santri dilatih menjaga adab tinggi, tapi juga dididik berani berpikir kritis dan berdialog dengan santun. Tidak ada jarak yang menakutkan antara santri dan kiai, karena belajar dalam suasana kasih sayang dan saling menghormati jauh lebih menenangkan.
______________
✨ Penutup
Di Daarul Mutqin, santri bukan hanya mengejar hafalan Al-Qur’an, tetapi juga belajar membangun akhlak, adab, dan pemahaman agama yang lurus. Di sini, ilmu dipelajari dengan hati yang penuh hormat—dan dari situlah keberkahan mengalir.
Mari bergabung dan rasakan atmosfer pesantren yang menumbuhkan ilmu, adab, dan cahaya keberkahan menuju ridha Allah SWT. 🌙🤍
Info & reservasi:
đź”— https://gentaqurani.id/santri-al-quran
📲 0813-9830-0644 | 0812-2650-2573
🏫 Sirnagalih, Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 16630
Penulis: Ustadzah Eka Melinda (Pengajar Santri Putri, Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat)
Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

