Skip to main content
Ilustrasi Kitab Al-Qur'an

Begini Cara Nabi Muhammad SAW Membaca Al-Qur'an

Pernahkah kita membayangkan bagaimana suara Rasulullah SAW saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an? Bagaimana tempo, irama, dan kejelasan bacaannya — hingga para sahabat yang mendengarnya tak kuasa menahan kekaguman?

Kabar baiknya, kita tidak sekadar bisa membayangkan. Sejumlah hadis yang terhimpun dalam kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah karya Imam at-Tirmidzi dan Riyadhus Shalihin susunan Imam an-Nawawi merekam dengan cukup rinci bagaimana cara Nabi Muhammad SAW membaca Al-Qur'an. Inilah warisan berharga yang patut kita teladani dan jadikan cermin dalam tilawah kita sehari-hari.

DAFTAR ISI

1. Jelas, Kata per Kata, Tanpa Ada yang Terlewat

Rasulullah SAW membaca Al-Qur'an dengan pengucapan yang sangat jelas dan terang — kata per kata, kalimat per kalimat — sehingga tidak ada satu huruf pun yang terdengar samar atau terlewatkan.

Hal ini dikisahkan oleh Ya'la bin Mamlak RA yang pernah menanyakan langsung kepada Ummu Salamah tentang cara Rasulullah membaca Al-Qur'an. Ummu Salamah pun menjelaskan:

"Rasulullah membaca Al-Qur'an dengan jelas, perkataan demi perkataan." (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Nasa'i)

Kejelasan bacaan ini bukan sekadar teknik. Ini adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada Kalamullah — setiap kata diperlakukan sebagai sesuatu yang agung dan berharga.


2. Memperhatikan Panjang Pendek Bacaan Sesuai Tajwid

Rasulullah SAW membaca setiap huruf Al-Qur'an dengan memperhatikan hukum panjang-pendeknya secara tepat. Meski ilmu tajwid sebagai disiplin ilmu baru dikodifikasi oleh para ulama di generasi berikutnya, hakikatnya ilmu tajwid itu sendiri adalah dokumentasi ilmiah atas cara Rasulullah dan generasi awal Islam membaca Al-Qur'an.

Qatadah bin Nu'man pernah bertanya kepada Anas bin Malik:

"Bagaimanakah cara Rasulullah SAW membaca Al-Qur'an?"

Anas menjawab: "Rasulullah memanjangkan bacaan sesuai dengan hukum tajwid." (HR. Bukhari, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa'i, dan Ahmad)


3. Berhenti di Setiap Akhir Ayat

Rasulullah SAW tidak membaca Al-Qur'an dengan tergesa-gesa, menerobos satu ayat ke ayat berikutnya tanpa jeda. Beliau memotong bacaan di setiap akhir ayat, memberi ruang bagi makna untuk meresap.

Ummu Salamah RA meriwayatkan:

"Rasulullah memotong bacaannya ayat per ayat. Beliau membaca 'Alhamdulillāhi rabbil 'ālamīn', lalu berhenti. Kemudian membaca 'Ar-rahmānir rahīm', lalu berhenti lagi."

Cara ini bukan hanya soal kaidah membaca — ini adalah cara Rasulullah menghayati setiap ayat, memberikan kesempatan bagi hati untuk berinteraksi dengan firman Allah sebelum berpindah ke firman berikutnya. Sebuah adab tilawah yang dalam.


4. Kadang Pelan, Kadang Keras — Sesuai Suasana

Bacaan Rasulullah SAW tidak selalu seragam volumenya. Terkadang beliau melantunkan Al-Qur'an dengan suara lirih dan khusyuk, terkadang dengan suara lantang yang menggema.

Abdullah bin Abi Qais RA pernah menanyakan hal ini kepada Sayyidah 'Aisyah, dan beliau menjawab bahwa Rasulullah membaca Al-Qur'an dengan dua cara itu — keras dan pelan — sesuai situasinya.

Salah satu momen paling berkesan terjadi pada peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah). Di atas punggung unta yang berjalan, Rasulullah melantunkan Surah Al-Fath dengan suara keras dan menggema, hingga terdengar oleh orang-orang di sekitarnya. Momen ini diabadikan dalam hadis yang disaksikan Abdullah bin Mughaffal dan diriwayatkan oleh Tirmidzi, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad.


5. Suara yang Indah dan Merdu

Inilah yang mungkin paling membekas di hati para sahabat: suara Rasulullah SAW saat membaca Al-Qur'an sungguh indah dan merdu, tiada tandingannya.

Al-Bara' bin Azib mengisahkannya dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Suatu malam, ia menunaikan shalat Isya bersama Rasulullah. Ketika Rasulullah melantunkan Surah At-Tin, Al-Bara' terpesona hingga berkata:

"Aku belum pernah mendengar seorang pun yang suaranya lebih merdu dari suara Baginda."

Di saat yang lain — juga pada hari Fathu Makkah — Abdullah bin Mughaffal menyaksikan Rasulullah membaca ayat pembuka Surah Al-Fath dari atas tunggangannya:

"Sesungguhnya Kami telah membuka bagi perjuanganmu (wahai Muhammad) satu jalan kemenangan yang jelas nyata. Kemenangan yang dengan sebabnya Allah mengampunkan salah dan silapmu yang telah lalu dan yang terkemudian."

Abdullah bin Mughaffal kemudian bersaksi: "Rasulullah membaca ayat ini dengan suara yang indah."

 

takhosus 25 04 17

 

Mewarisi Cara Nabi Membaca Al-Qur'an

Lima gambaran di atas bukan sekadar catatan sejarah. Ini adalah panduan hidup bagi kita yang mencintai Al-Qur'an — bagaimana seharusnya kita membaca, menghayati, dan memperlakukan Kalamullah.

Jelas dalam pengucapan. Tepat dalam tajwid. Khusyuk dalam jeda. Fleksibel dalam volume. Dan senantiasa berusaha memperindah suara saat berhadapan dengan firman-Nya.

Semoga kita dimampukan untuk meneladani cara Nabi membaca Al-Qur'an, sehingga tilawah kita bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah perjumpaan yang sesungguhnya dengan Allah SWT.

Wallāhu a'lam. Allāhu ya'lam.


Diadaptasi dari tulisan Hasanul Rizqa, yang dimuat di Republika.co.id (Khazanah), pada 24 Februari 2026.

 

dauroh dan quran camp 25 04 17

 

Ketika Membaca Al-Qur'an Tak Lagi Sekadar Kewajiban

Meneladani cara Nabi membaca Al-Qur'an memang menggetarkan hati. Tapi ada satu pertanyaan yang lebih dalam dari sekadar tahu caranya — sudahkah kita, dan anak-anak kita, benar-benar merasakan keindahan bersama Al-Qur'an?

Di usia SMP dan SMA, ketika dunia menarik mereka ke segala arah, mungkin inilah saat yang tepat untuk mengajak mereka berhenti sejenak. Menghirup udara pegunungan Puncak yang segar. Dan membuka hati selebar-lebarnya untuk Kalamullah.

Program Dauroh Al-Qur'an "Healing with Qur'an" di Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Bogor, hadir untuk momen seperti ini — liburan sekolah yang tak hanya menyenangkan, tapi membekas seumur hidup.

Dibimbing langsung oleh Syaikh As'ad Humam Lc., Al-Hafidz — alumni Al-Azhar Kairo dan pewaris sanad Al-Qur'an 30 juz — program ini bisa diikuti mulai dari satu hari hingga empat puluh hari penuh, dengan biaya yang fleksibel dan fasilitas yang nyaman: kolam renang, aula, masjid, penginapan asrama, hingga hamparan alam Puncak yang memanjakan mata dan menenangkan jiwa.

Karena cinta anak pada Al-Qur'an tidak tumbuh begitu saja — ia perlu ditanam, disiram, dan dijaga dalam lingkungan yang tepat.

📲 Info & Reservasi: 🔗 gentaqurani.id/dauroh-al-quran 📱 0813-9830-0644 | 0812-2650-2573


quran camp 2025 04 19

Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

✓ Link berhasil disalin!
Diterbitkan Dikategori Seputar Islam.