Skip to main content
Ilustrasi Siluet Laki-laki Tampak Belakang

Kesalahan yang Sama, Sikap yang Berbeda: Pelajaran Berharga dari Kisah Iblis dan Nabi Adam

Tak ada manusia yang luput dari kesalahan. Kita semua pernah tersandung, terjatuh dalam dosa—baik besar maupun kecil. Namun, tahukah Anda bahwa yang menentukan keselamatan kita bukanlah seberapa berat dosa yang pernah dilakukan, melainkan bagaimana sikap hati kita setelahnya?

Alquran dan para ulama telah mengajarkan pelajaran penting ini melalui dua sosok yang sangat kontras: Nabi Adam alaihissalam dan iblis. Keduanya melakukan kesalahan di hadapan Allah, namun jalan yang mereka tempuh setelahnya berbeda jauh—satu menuju ampunan, yang lain menuju kehinaan abadi.

DAFTAR ISI

Dua Kesalahan, Dua Jalan yang Berlawanan

Syekh Muhammad Nawawi al-Banteni, ulama besar Nusantara yang karyanya tersebar di berbagai penjuru dunia Islam, menguraikan perbedaan mendasar antara iblis dan Nabi Adam dalam kitab beliau, Nashaihul Ibad. Beliau mengutip perkataan Muhammad bin Dauri rahimahullah yang begitu dalam maknanya:

"Iblis celaka karena lima perkara, yaitu tidak mengakui dosa, tidak bersedih, tidak mencela dirinya sendiri, tidak bertekad berniat tobat, dan putus asa dari rahmat Allah. Sedang yang membuat (Nabi) Adam merasa bahagia juga lima perkara, yaitu mengakui dosa, menyesali dosanya, menyalahkan dirinya sendiri, segera bertobat, dan tidak pernah putus asa dari rahmat Allah."

Lihat betapa indahnya—dua pelaku dosa, namun nasib mereka terpisah sejauh langit dan bumi hanya karena sikap hati mereka.

Ketika Iblis Memilih Kesombongan

Iblis, makhluk yang pernah begitu taat beribadah, justru terjebak dalam keangkuhan ketika menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam. Ia tidak mengakui kesalahannya. Bahkan ketika ditegur oleh Allah, ia malah mencari pembenaran atas pembangkangannya.

Tidak ada penyesalan dalam hatinya. Tidak ada air mata yang mengalir karena menyesal telah durhaka. Yang ada justru rasa superior—merasa lebih mulia karena diciptakan dari api, sementara Adam dari tanah.

Iblis tidak pernah mencela dirinya sendiri. Ia tidak pernah merenungkan betapa bodohnya sikap sombong di hadapan Sang Pencipta. Tidak ada niat untuk tobat, tidak ada harapan untuk kembali. Yang tersisa hanyalah keputusasaan dan kebencian yang mendalam.

Nabi Adam: Teladan dalam Bertobat

Kisah Nabi Adam AS dan Keistimewaannya

Berbeda sekali dengan sikap Nabi Adam dan istrinya, Hawa. Ketika mereka tersadar telah melanggar larangan Allah dengan memakan buah terlarang—akibat hasutan setan—mereka tidak mencari kambing hitam. Mereka tidak menyalahkan iblis yang telah menipu mereka.

Sebaliknya, mereka segera mengakui kesalahan dengan penuh kerendahan hati. Allah mengabadikan pengakuan mereka dalam Alquran:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

"Keduanya (Nabi Adam dan istrinya) berkata, 'Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.'" (QS Al-A'raf: 23)

Doa ini bukan sekadar rangkaian kata-kata. Ini adalah luapan jiwa yang hancur, hati yang remuk karena sadar telah mengecewakan Sang Khalik. Dengan segala kerendahan hati dan penuh khusyuk, Nabi Adam dan Hawa memohon ampun—tidak dengan alasan, tidak dengan pembelaan, hanya dengan pengakuan jujur: "Kami telah menzalimi diri kami sendiri."

Allah Maha Pengasih. Berkat ketulusan hati dan kesungguhan tobat mereka, Allah menerima permohonan mereka, mengampuni dosa mereka, dan melimpahkan rahmat-Nya.

Lima Kunci Kebahagiaan Nabi Adam

Mari kita renungkan lima sikap Nabi Adam yang membuatnya meraih kebahagiaan dan ampunan Allah:

1. Mengakui Dosa dengan Jujur

Nabi Adam tidak berkelit. Ia tidak mencari alasan atau menyalahkan orang lain. Pengakuan yang tulus adalah langkah pertama menuju tobat yang sejati.

2. Menyesali Perbuatan dengan Sungguh-Sungguh

Penyesalan bukan sekadar kata-kata di bibir, melainkan perasaan mendalam yang membuat hati terasa sesak. Nabi Adam benar-benar menyesali kesalahannya dari lubuk hati.

3. Mencela Diri Sendiri

Alih-alih menyalahkan iblis atau keadaan, Nabi Adam justru mencela dirinya sendiri. Ia sadar bahwa dialah yang bertanggung jawab atas pilihannya.

4. Segera Bertobat Tanpa Menunda

Tidak ada penundaan. Tidak ada kata "nanti saja" atau "besok". Begitu menyadari kesalahan, Nabi Adam langsung memohon ampun kepada Allah.

5. Tidak Pernah Putus Asa dari Rahmat Allah

Meski telah melakukan kesalahan besar, Nabi Adam tidak pernah berpikir bahwa dosanya terlalu besar untuk diampuni. Ia tetap berharap dan yakin pada rahmat Allah yang tak terbatas.

Pintu Ampunan Selalu Terbuka

doa sholat taubat 1

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba jika mau mengakui dosanya kemudian ia bertobat, maka Allah berkenan menerima tobatnya."

Imam Baihaqi juga meriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: "Siapapun berbuat kesalahan atau berbuat dosa, kemudian menyesali perbuatannya itu, maka penyesalannya itulah tebusannya."

Betapa indahnya ajaran Islam! Membuka Pintu-Pintu Rahmat Allah dengan Istighfar adalah jalan yang selalu tersedia bagi setiap hamba yang ingin kembali.

Syarat Tobat Menurut Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali, salah satu ulama besar yang karyanya menjadi rujukan umat Islam hingga kini, merumuskan beberapa syarat agar tobat kita diterima oleh Allah:

Pertama, meninggalkan perbuatan dosa dibarengi dengan tekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi. Bukan sekadar berhenti sementara, tetapi benar-benar bertekad untuk tidak kembali ke dalam dosa yang sama.

Kedua, menghentikan dan meninggalkan semua dosa yang telah dilakukan sebelum bertobat. Tobat tidak bisa setengah-setengah—kita tidak bisa bertobat dari satu dosa sementara masih melakukan dosa lainnya dengan sengaja.

Ketiga, dosa yang ditinggalkan sekarang harus sepadan dengan dosa yang pernah dilakukan. Sepadan bukan dari sisi bentuk dosa, tetapi dari tingkatan atau level dosa tersebut. Artinya, kesungguhan kita dalam meninggalkan dosa harus sebanding dengan keseriusan dosa yang pernah kita lakukan.

Keempat, meninggalkan dosa harus karena mengagungkan Allah SWT, bukan karena takut pada yang lain. Ingin Tahu Bentuk Cinta Allah pada Hamba? Temukan Rahasianya Disini! Motivasi tobat kita haruslah murni karena Allah, bukan karena takut kehilangan pekerjaan, takut malu di hadapan manusia, atau alasan duniawi lainnya.

Jendela Waktu yang Masih Terbuka

Kapan waktu untuk bertobat? Jawabannya: sekarang, selagi masih ada kesempatan.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya Allah ta'ala membuka tangan-Nya di malam hari agar bertaubat pelaku dosa di siang hari, dan membuka tangan-Nya di siang hari agar bertaubat pelaku dosa di malam hari sampai matahari terbit di tempat terbenamnya." (HR. Muslim)

Batas waktu tobat adalah sebelum matahari terbit dari barat—tanda datangnya hari kiamat—dan sebelum roh sampai pada kerongkongan, yaitu saat kita berada di ambang kematian.

Selama dua kondisi itu belum terjadi, pintu tobat masih terbuka lebar. Allah menanti kita dengan tangan terbuka, siap menerima tobat kita kapan pun kita memutuskan untuk kembali kepada-Nya.

Refleksi untuk Kita Semua

Kisah Nabi Adam dan iblis adalah cermin bagi kehidupan kita. Setiap hari, kita dihadapkan pada pilihan: akan menjadi seperti Nabi Adam yang rendah hati dan bertobat, ataukah seperti iblis yang sombong dan putus asa?

Jangan biarkan kesalahan masa lalu menggerogoti jiwa kita. Jangan biarkan rasa malu atau takut menghalangi kita untuk kembali kepada Allah. Ketika Doa Belum Dikabulkan: Jangan Berputus Asa, Allah Sedang Memilihkan yang Terbaik bagi kita—termasuk dalam menerima tobat kita.

Mari kita teladani Nabi Adam: mengakui kesalahan dengan jujur, menyesalinya dengan sungguh-sungguh, mencela diri kita sendiri, segera bertobat tanpa menunda, dan tidak pernah putus asa dari rahmat Allah.

Karena sejatinya, bukan besar-kecilnya dosa yang menentukan nasib kita di akhirat kelak, melainkan ketulusan hati kita dalam memohon ampun dan kembali kepada-Nya. Amanah Dalam Al Quran: Cerminan Hati Seorang Mukmin mengajarkan kita untuk selalu bertanggung jawab atas setiap pilihan yang kita ambil.

Semoga Allah senantiasa membukakan pintu tobat untuk kita semua, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang senantiasa kembali kepada-Nya dalam setiap keadaan.


Sumber Rujukan: A. Syalaby Ichsan, Republika.co.id, 11 Januari 2026. 


 

dauroh dan quran camp 25 04 17

 

Waktunya Membawa Anak Kembali pada Fitrahnya

Setelah membaca kisah Nabi Adam dan pelajaran berharga tentang tobat, mungkin hati kita terketuk: Bagaimana caranya agar anak-anak kita tumbuh dengan hati yang lembut seperti Nabi Adam—bukan keras seperti iblis?

Di tengah gempuran media sosial, game online, dan hiruk pikuk dunia yang semakin jauh dari nilai-nilai spiritual, anak remaja kita butuh ruang untuk bernafas. Ruang untuk kembali pada fitrahnya. Ruang untuk mengenal Allah lebih dekat melalui kalam-Nya.

Healing with Qur'an di Pesantren Daarul Mutqin hadir sebagai jawaban atas kegelisahan kita sebagai orangtua.

Bayangkan: selama sebulan penuh, buah hati Anda jauh dari distraksi dunia, tenggelam dalam keindahan Alquran di kaki Gunung Puncak yang sejuk dan asri. Dibimbing langsung oleh Syaikh As'ad Humam Lc. Al-Hafidz—alumni Al-Azhar Mesir dan pewaris sanad Alquran 30 juz—anak Anda tidak hanya belajar menghafal, tapi merasakan kedekatan dengan Allah yang mungkin selama ini mereka rindukan tanpa tahu cara mengungkapkannya.

Ini bukan sekadar program tahfidz biasa. Ini adalah perjalanan spiritual yang mengubah hati. Banyak orangtua yang menangis bahagia melihat transformasi anak mereka—dari yang tadinya susah bangun subuh, kini dengan sendirinya rindu bermunajat di sepertiga malam.

Program Dauroh Alquran kami fleksibel—bisa diikuti mulai sehari hingga 40 hari penuh, dengan biaya yang bisa disesuaikan kebutuhan keluarga. Fasilitas lengkap, suasana mendukung, dan yang terpenting: lingkungan yang memupuk kecintaan pada Alquran, bukan paksaan.

Jangan biarkan usia remaja anak Anda berlalu tanpa bekal ruhani yang kuat. Masa depan mereka dimulai dari seberapa dekat mereka dengan Alquran hari ini.

📲 Hubungi kami sekarang:
🔗 gentaqurani.id/dauroh-al-quran

📱 0813-9830-0644 | 0812-2650-2573
📌 Sirnagalih, Megamendung, Kab. Bogor, Jawa Barat 16770

Karena tobat dimulai dengan mengenal Allah. Dan mengenal Allah dimulai dengan mengenal kalam-Nya. 💚



quran camp 2025 04 19

Generasi Tarbiyah Qurani (Genta Qurani), adalah yayasan yang menaungi Pesantren Daarul Mutqin, Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kurikulum kami berfokus pada hafalan (tahfidz) Al Quran dengan beragam program yang ditawarkan untuk berbagai kalangan dan tingkatan usia.

 

 

✓ Link berhasil disalin!
Diterbitkan Dikategori Blog.
Tagar: 2026