Skip to main content

Catatan Cinta Seorang Pejuang Qur’an di Pesantren Daarul Mutqin

Dibuat pada . Posted in Blog.

Hii!! Maybe this article is kinda different than the previous, because artikel kali ini memberikan pandangan sebaik-baiknya dari pihak penulis sekaligus pengamat tentang how do I feel during this time, how do I act as Muslim, how do I realize as a human, and how do I learn as a servant of Allah.

Dan tentu saja semua pertanyaan itu saya dapatkan di tempat ini!

Yaps tempat yang dijadikan sebagai kawasan firman-firman Allah, tempat yang diisi dengan vibes hamba-hamba Allah. Tempat yang diberkahi dengan kawasan strategis seperti tanah yang subur, sehingga berbagai buah bisa tumbuh, panorama matahari yang begitu jelas cahayanya, sehingga membuat mood manusia lebih legowo, horizon langit biru yang membuat siapa saja melihatnya seakan akan terlepas dari beban apa pun.

Yah kadang biru dan juga kadang abu abu, karena cuaca yang disebut mendung selalu silih berganti, tetapi dengan cuaca mendung pun orang orang bisa menikmati sekaligus mencapai kondisi sadar terbaik sebagai manusia how do we feel mindfulness, sadar dengan momen sekarang sehingga tidak terbebani masa lalu dan terpuruk oleh masa depan, yang semua itu tercapai ketika diri kita menikmati dan mengamati betapa indahnya nature that Allah has created for long time ago.

Bukankah kita sebagai hamba-Nya diarahkan agar untuk merenungi ciptaan-Nya?

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang bahtera yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengannya Dia menghidupkan bumi setelah mati (kering), dan Dia menebarkan di dalamnya semua jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengerti”. (TQS. Al-Baqarah: 164)

Oh iya. Rasanya sungguh tidak adil jika saya menuliskan keindahan alamnya, tetapi lupa dengan salah satu waktu terbaik, yah apalagi kalau bukan waktu malam. Dengan bulan sebagai objek pandangan yang indah, lampu-lampu kota metropolitan yang bertebaran, suara serangga yang bersiul, yang di mana membuat siapa pun teromantisasi dengan diri mereka sendiri, sebagai simbol keindahan wanita wanita Muslim yang di mana mengajarkan kepada para lelaki bahwa wanita itu indah, bagaikan bulan yang ditatap, terus menerus seperti apa pun kondisinya, karena itu kita sebagai kaum yang gentleman tidak boleh bersikap semena-mena terhadap mereka.

Dan ternyata tau ngga? Di dalam Al Qur’an lebih tepatnya juz 5, yaitu surah An Nisa, memang betul arti dari ayat tersebut adalah wanita, seolah olah mengatakan kepada kita bahwa wanita memang harus benar benar diperhatikan, memang benar arti surah itu adalah wanita, tetapi semua ajaran itu ditegaskan dan diarahkan untuk kaum laki-laki.

Hahahaha, ternyata benar benar terkoneksi ciptaan dengan ciptaan lainnya, baik makhluk bernyawa ataupun tidak, tapi bukan hanya itu yang benar benar saya sadar dari tempat ini.

Banyak habit baru yang membantu saya sebagai penulis artikel ini menemukan jati diri sebagai seorang Muslim. Karena lingkungan Qur’ani yang menyejukkan hati dan kawasan pemandangan alam yang menenangkan pikiran dan batin, membuat saya terus merefleksikan diri sedalam dalamnya tentang tujuan kita diciptakan itu untuk apa, bagaimana kita menjalani hidup dengan kemauan kita, how to control our ego, how to realize our true willing, how to find our passion, how to make our self being better.

Bukan hanya konsep how to tetapi juga saya menemukan konsep how do. How do we really connected with Allah, how do we approach with the other human and society, how do we develop our faith, how do we keep going our habit, and how do we concept our dream and life goal.

DAN SUNGGUH SEMUA ITU SAYA DAPATKAN DISINI.

PESANTREN DENGAN MISI “MENGUATKAN GENERASI MUDA MUSLIM DENGAN TARBIYAH QUR’ANI”— bukan sekedar menjadi penghafal, tapi bagaimana tarbiyah dan jati diri mereka menerapkan apa yang berada di dalam Qur’an, menjadi orang-orang yang berjuang di jalan Qur’an, menjadi jiwa-jiwa yang memberikan kontribusi terbaiknya untuk Allah dan Qur’an.

DARI KATA KUAT YANG DISERAP DARI BAHASA ARAB “MUTQIN”

KARENA ITULAH NAMA PESANTREN INI “DAARUL MUTQIN”

Semoga dengan misi yang murni hanya untuk mendapatkan ridho Allah SWT, tempat ini bisa menjadi salah satu cikal bakal untuk mencapai masa “Golden age of Muslim, Age of Change as a Muslim”. Karena kita tau layaknya Sultan Muhammad Al Fatih yang menaklukan Konstatinopel, layaknya Salahuddin Al Ayyubi yang merebut kembali Jerussalem, semua itu diawali dan didasari dengan visi yang kuat, misi yang kuat, iman yang kuat, Muslim yang kuat.

KUAT KUAT KUAT!!

MUTQIN MUTQIN MUTQIN!!

Jadi, bagaimana? Kapan kamu mau bergabung menjadi pejuang Qur’an di tempat yang indah ini?

📝 Penulis : Hafis

* Ustadz pengabdian Pesantren Daarul Mutqin
* ⁠Visual of Geng Santri Kece as Fathurrahman Ghibran